Keamanan mudik

Rumah Aman, Mudik Tenteram

Kompas.com - 02/09/2011, 03:53 WIB

 

MG RETNO SETYOWATI

Jakarta lengang. Jalan-jalan protokol yang biasanya tersendat dan padat oleh deretan mobil kini sepi. Kawasan perumahan dan permukiman pun sepi. Ibu Kota sejenak jauh dari keramaian ditinggal warganya yang mudik ke kampung halaman.

 

Diperkirakan, sedikitnya 8 juta orang di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) melakukan perjalanan mudik. Mereka meninggalkan rumah dan barang-barang berharga dalam beberapa hari lamanya. Rumah-rumah kosong dan situasi sepi di kompleks perumahan dan permukiman dikhawatirkan akan menjadi incaran orang untuk berbuat jahat.

Kekhawatiran itu tecermin dari hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas melalui telepon terhadap 182 warga Jakarta yang akan melakukan perjalanan mudik. Walaupun sebagian besar responden percaya dan merasa lingkungan rumah mereka aman dari tindak kejahatan, terdapat lebih dari separuh (68,7 persen) responden yang mengaku khawatir meninggalkan rumah dan barang-barang berharga miliknya. Umumnya, mereka meninggalkan rumah untuk mudik selama dua sampai tujuh hari.

Menurut laporan Kepolisian Daerah Metro Jaya, angka kriminalitas di Jakarta selama dua bulan terakhir menurun cukup signifikan. Namun, menjelang Lebaran, angka kriminalitas naik. Hasil evaluasi Polda Metro Jaya yang dilakukan 15 hari sebelum dan 15 hari selama bulan puasa ini menunjukkan angka kriminalitas di DKI Jakarta meningkat sebesar 19 persen. Terdapat lima jenis kejahatan yang perlu diwaspadai, yakni perampasan nasabah bank, perampokan bank, perampokan toko emas, pembiusan, dan pencurian di rumah kosong.

Hasil evaluasi ini bertolak belakang dengan kondisi tahun 2010, di mana tingkat kejahatan selama masa Lebaran turun sekitar 20 persen. Jenis kejahatan yang menurun tahun 2010 adalah kejahatan yang selama ini menonjol, yaitu pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, dan penganiayaan berat. Operasi Ketupat yang digelar setiap masa Lebaran cukup menekan laju tindak kriminal di Ibu Kota tahun lalu.

Saat ini pun Polda Metro Jaya kembali menggelar Operasi Ketupat Jaya. Operasi yang digelar mulai 23 Agustus hingga 7 September 2011 itu menurunkan 18.446 personel polisi, atau dua pertiga dari total kekuatan personel Polda Metro Jaya yang mencapai 31.000 personel. Polda Metro Jaya juga mendapat bantuan dari Dinas Perhubungan dan Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta sebanyak 2.680 petugas serta tambahan personel dari TNI, Kodam Jaya, dan Armada Barat TNI Angkatan Laut.

Agar situasi terpantau dan keamanan terjaga, setiap kepala kepolisian resor di wilayah kerja masing-masing juga memperketat dan meningkatkan pengamanan, termasuk di kawasan perumahan dan permukiman penduduk. Selama masa mudik ini, polisi meningkatkan pengamanan rumah kosong. Unit patroli ditingkatkan dan mengintensifkan kegiatan sambang ke tempat-tempat yang dianggap rawan. Permukiman padat yang tidak ada petugas keamanan merupakan wilayah rawan disatroni penjahat.

Peran masyarakat

Kendati pada masa Lebaran ini aparat keamanan berupaya meningkatkan keamanan dengan menambah personel dan mengintensifkan patroli, yang terpenting adalah peran masyarakat sendiri dalam meningkatkan kewaspadaan di tingkat rumah tangga dan lingkungan sosial terdekat. Menggerakkan elemen masyarakat menjadi penting karena mereka yang paling dekat dengan lingkungannya.

Warga yang mudik juga dapat melakukan pengamanan sendiri terhadap rumah dan barang-barang berharga miliknya. Demikian pula yang terekam dari survei yang dilakukan jelang Lebaran kemarin. Beberapa usaha ditempuh responden dalam mengamankan rumah dan barang-barang berharga miliknya.

Mayoritas responden sadar untuk melakukan pengamanan mandiri, antara lain dengan menitipkan rumah kepada tetangga terdekat untuk mengawasi (46,2 persen), mengintensifkan kerja satpam atau hansip di lingkungan tempat tinggal (19,8 persen), dan lapor ke ketua RT (6,6 persen). Ada pula responden yang menyewa petugas keamanan khusus, menitipkan barang-barang bernilai ke kantor polisi atau pegadaian, dan menitipkan rumah kepada saudara terdekat.

Meski selama ini sistem keamanan di lingkungan tempat tinggal diakui sebagian besar responden (87,9 persen) sudah baik, pengamanan mandiri pada saat Lebaran tetap perlu dilakukan. Memasang kunci atau gembok tambahan, menitipkan barang berharga kepada saudara terdekat, atau memasang kamera pengintai (CCTV ) adalah alternatif cara yang bisa dilakukan.

Antisipasi bahaya kebakaran juga menjadi perhatian warga sebelum meninggalkan rumah. Walaupun sebagian besar (73,9 persen) responden merasa rumahnya aman dari bahaya kebakaran, mereka tetap meningkatkan kewaspadaan. Caranya antara lain dengan mengecek instalasi listrik untuk memastikan dalam kondisi baik, mematikan sambungan listrik di rumah, atau melepaskan semua peralatan dari sambungan listrik. Perlu pula mengecek kompor gas dan tak lupa melapor kepada ketua RT atau petugas keamanan sehingga dapat dikontrol.

Mengaktifkan sistem keamanan lingkungan atau siskamling, dan bekerja sama di antara warga di perumahan atau permukiman akan cukup efektif mengamankan lingkungan.

Warga yang tidak mudik dapat pula membantu menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan di permukiman masing-masing. Memberi rasa aman dan tenteram bagi warga yang mudik juga merupakan ibadah yang mulia.

(MG RETNO SETYOWATI/ Litbang Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau