Rio haryanto

Pejuang Balapan Penuh Ketenangan

Kompas.com - 03/09/2011, 02:54 WIB

INGKI RINALDI

Rio Haryanto identik dengan kecepatan. Sejak umur enam tahun ia mulai balapan. Namun, anak muda ini jauh dari kesan terburu-buru. Justru ia tampak lebih tenang dan matang jika ditilik dari usianya.

Kini ia membalap di ajang GP3 Series bersama tim Marussia Manor Racing dari Inggris. GP3 Series adalah ajang balapan penjenjangan ke GP2 Series untuk seterusnya berlanjut ke Formula 1.

Jika dukungan sponsor yang diharapkan lancar dan tidak putus di tengah jalan, Rio akan meneruskan ke jenjang GP2 Series. Namun, hingga akhir tahun ini, ia mesti lebih dahulu berkonsentrasi di ajang GP3 Series bersama Marussia Manor Racing. Tanpa slogan bombastis, Rio berjuang mengibarkan Merah Putih di kancah internasional.

Tim Marussia Manor punya hubungan langsung dengan Virgin Racing yang berkompetisi di ajang Formula 1 bersama pebalap Timo Glock dan Jerome D’Ambrosio. Prestasinya yang moncer di ajang GP3 membuat Rio diberi kesempatan mengetes mobil Formula 1 serupa yang dipakai Timo Glock.

Kesempatan langka dan pertama bagi pebalap asal Indonesia tersebut terjadi di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 16 November 2010. Dengan ketenangan tingkat tinggi, ia melahap putaran demi putaran. Ia menyelesaikan 21 putaran ujian tersebut dengan cepat dan selamat.

Itu bukan kebetulan. Ketenangan serupa juga ditunjukkan Rio pada balapan di Sirkuit Nürburgring, Jerman, 23 Juli 2011, dan di Sirkuit Hungaroring, Hongaria, 31 Juli 2011. Pada dua balapan dalam kondisi hujan tersebut, Rio membuktikan sebagai yang tercepat dan menjadi juara.

”Di antara 30 pebalap, semuanya, kan, pasti berpikir untuk hati-hati. Nah, saya lebih fokus untuk menyetir lebih halus. Tidak bisa kasar dan banting-banting. Semua lebih mengandalkan perasaan,” kata Rio.

Perjuangan keras

Lahir sebagai bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga pebalap tak membuat langkah Rio langsung mulus menjadi pebalap. Setelah setahun memulai kariernya pada umur enam tahun, ia mulai merajai pentas nasional.

Di bawah didikan langsung ayahnya yang mantan pebalap nasional, Sinyo Haryanto, Rio makin melesat. Pada tahun 2000-2002, ia menjadi juara di kelas kadet, termasuk Cadet ASEAN Kart Festival tahun 2001.

Setelah itu, ia seolah tak lagi terbendung. Juara Junior Asian Karting Open Championship dari 2005 hingga 2007; juara Seri 6 Race 1 dan 2 Zhuhai, Asian Formula Renault Championship (2008); juara Formula BMW Pacific; serta tempat ketiga overall Seri 15, Guia, Makau (2009).

Rio menjalani latihan keras untuk mencapai semuanya. Termasuk di masa-masa itu lewat bimbingan pelatih fisik asal Belanda, Dennis van Rhee.

Berenang sejauh 4 kilometer dan berlari 10 kilometer hingga 12 kilometer per hari adalah menu rutinnya. Itu masih ditambah dengan latihan angkat beban untuk memperkuat otot bagian atas tubuh.

Lomba dalam kecepatan tinggi yang melelahkan juga mengurangi berat badan. Karena itu, Rio membutuhkan asupan bergizi sekaligus menjaga dietnya.

”Mungkin kerang-kerangan yang harus dijaga karena ada kemungkinan keracunan,” kata Rio soal makanan yang ia hindari. Untuk minuman, jus buah lebih dipilih ketimbang minuman ringan bersoda.

Persaingan dengan sesama pebalap yang berkompetisi pun ia rasakan sebagai seni pertemanan tersendiri. ”Misalnya, kita sudah saling berteman nih, tetapi tiba-tiba di dalam lintasan kita bersenggolan. Wah, itu selanjutnya bisa tidak tegur-teguran,” tutur Rio, yang mengidolakan Kimi Raikkonen.

Meski sudah cukup berprestasi, Rio mengaku masih sering meminta saran dari sejumlah pebalap Indonesia, termasuk Ananda Mikola yang lebih dahulu mencoba beberapa sirkuit di luar negeri. Rio juga bersahabat dengan pebalap Indonesia lainnya, Zahir Ali.

Mulai memasuki persaingan di GP3 Series, Rio ditangani Piers Hunnisett. Mantan pebalap asal Inggris yang pernah malang melintang di dunia balapan itu sebelumnya menangani kakak kandung dan manajer Rio kini, Roy Haryanto.

Peran Piers bahkan termasuk memilihkan Marussia Manor Racing dari sebelumnya lima tim yang dikerucutkan. ”Saya mungkin seperti ayah kedua bagi Rio,” kata Piers.

Menurut Rio, Piers adalah manajer yang bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. Itu terjadi dalam beberapa kali balapan, seperti terakhir kali terjadi dalam balapan di Hongaria.

Pada sesi balapan pertama, Rio mengakhiri lomba di urutan kesepuluh. Namun pada balapan sesi kedua, ia justru jadi juara pertama.

Bahkan, kata Piers, Rio juga kerap bercerita soal lazimnya kehidupan masa muda. ”Ya, termasuk soal cinta yang juga ia inginkan. Namun tidak bisa, kami terlalu sibuk. Hidup kami ada dalam koper dan pindah-pindah terus,” tutur Piers berseloroh.

Piers memuji kemampuan langka Rio di trek basah. ”Jika kamu hanya menang sekali, orang akan bilang itu keberuntungan. Namun jika lebih dari sekali, tentu ada yang hebat dari pebalap itu. Apalagi, kemampuan Rio di trek basah menjadi pertanda kemampuan hebat seorang pebalap, seperti Ayrton Senna dan Michael Schumacher,” kata Piers.

Kini Rio fokus di seri balapan selanjutnya, khususnya di Sirkuit Spa, Belgia, pada 26-28 Agustus, serta di seri terakhir balapan yang akan dilangsungkan di Sirkuit Monza, Italia, pada 9-11 September.

Perhatian keluarga

Prestasi gemilang Rio tak luput dari dukungan keluarga. Dalam seri balapan di GP3 Series di Eropa, Rio terus-menerus didampingi ayah dan bundanya, Sinyo Haryanto dan Indah Pennywati.

Sebagai ibu, Indah mengaku, saat pertama kali Rio mencoba balapan, perasaan takut menghantui dirinya. Akan tetapi, belakangan ia semakin yakin pada kemampuan anaknya.

”Saya selalu berpesan tiga hal kepada Rio. Doa, konsentrasi, dan strategi,” kata Indah. Maka, hal itulah yang dilakukan Rio. Dalam kokpit mobil GP3 yang dia kendarai tertempel Ayat Kursi (bagian dari Surat Al-Baqarah dalam kitab suci Al Quran).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau