Manila, Sabtu
Demikian antara lain yang terungkap dalam serangkaian kawat-kawat diplomatik Amerika Serikat (AS), yang dibocorkan Wikileaks, Sabtu (3/9).
Julian Assange, salah satu pendiri Wikileaks, mendorong transparansi pemerintahan di berbagai negara dengan alasan transparansi akan membantu pembangunan sebuah negara.
Saat bertugas sebagai Duta Besar (Dubes) AS di Filipina, Kristie Kenney menuliskan serangkaian komentarnya saat Aquino mulai mencalonkan diri sebagai presiden, September 2009.
Ia menulis, ”Dalam kontak-kontak awal dengan Senator Aquino, yang sering didampingi ibunya (Corazon Aquino)... terkesan ia tidak punya gereget dan hanya mencoba melanggengkan dinasti politik keluarga, tetapi secara pribadi ia tidak memiliki keistimewaan.”
Kenny mendapatkan kesan ini ketika ia diundang oleh almarhum mantan Presiden Corazon Aquino, Januari 2010, ke rumah keluarga. ”Tidak jelas apakah Benigno Aquino bisa membuang sikap malu dan mengubahnya menjadi kekuatan,” tutur Kenney, yang mengakhiri tugasnya tahun lalu di Manila.
”Berbeda dengan para calon presiden lainnya..., Aquino tidak memiliki kejelasan soal agenda yang akan dia targetkan jika menang.... Hanya saja, Aquino relatif bersih dari skandal, dan itu bisa menjadi kekuatan.”
Juru bicara (jubir) Presiden Filipina, Ricky Carandang, Sabtu, menyatakan, komentar Kenney tersebut merupakan sinyalemen keberpihakan Kenney kepada Gloria Macapagal Arroyo, yang digantikan Aquino. ”Kenney terkooptasi dengan rezim Arroyo.”
Kawat diplomatik AS lainnya pada tahun 2005 juga memuat tulisan Dubes AS untuk Singapura Frank Lavin. Dituliskan, perbankan Singapura yang sarat dengan kerahasiaan mengindikasikan sebuah kerawanan. ”Posisi signifikan Singapura sebagai pusat keuangan dengan kerahasiaan perbankan membuatnya rawan sebagai tujuan kepentingan organisasi-organisasi teroris dari segi perbankan,” demikian antara lain isi kawat diplomatik itu.
Otoritas Singapura tidak bisa dijangkau untuk dimintai komentarnya. Namun, tahun lalu, Menteri Kehakiman Singapura K Shanmugam mengatakan, berbagai badan di Singapura selalu aktif dan berkolaborasi untuk memerangi praktik pencucian uang dan pendanaan organisasi terorisme.
Kawat diplomatik AS lainnya menyebutkan, AS menolak permohonan dari Front Pembebasan Islam Moro (MILF) agar AS lebih terlibat dalam proses perdamaian di Filipina selatan. Penolakan AS itu didasarkan pada dugaan bahwa MILF hanya sedang mencoba menekan presiden Filipina saat itu, Gloria Macapagal Arroyo.
Selain itu, ada kawat diplomatik AS soal penyalahgunaan wewenang pasukan PBB di Pantai Gading, yang dituduh telah melecehkan para perempuan belia di negara itu. Jubir PBB di Pantai Gading, Jumat, mengatakan, PBB prihatin dengan informasi tersebut.
”Kami tidak memiliki toleransi tentang hal itu. Kami hadir di negara ini untuk melindungi warga, bukan melakukan hal-hal seperti itu.”
Ia mengomentari kawat diplomatik AS pada Januari 2010, yang menyebutkan pasukan PBB asal Benin telah mengeksploitasi para wanita di Pantai Gading dengan imbalan sesuap nasi.
Pemerintah Irak, Jumat, berang dengan informasi baru yang dibocorkan Wikileaks. Hal itu seiring dengan bocornya sebuah surat dari PBB. Isinya, PBB mengatakan sebuah keluarga di Irak dengan segenap anggotanya telah diborgol. Mereka semua ditembak di bagian kepala.
Isi surat PBB ini merujuk pada kejadian tahun 2006. PBB mengatakan, segenap anggota keluarga itu meninggal bukan akibat serangan udara, melainkan akibat perbuatan sengaja oleh pasukan AS yang bertugas di Irak.
Para pejabat Irak mengatakan, informasi itu menjadi penguat untuk mendorong pasukan AS segera keluar dan tidak perlu bertahan lebih lama lagi di Irak.
Rinciannya, kejadian itu terjadi pada 15 Maret 2006. Disebutkan, saat itu tentara AS sedang mencari sel-sel Al Qaeda yang diduga berada di sebuah rumah di Ishaqi, sekitar 80 kilometer di utara Baghdad.
Pasukan AS mengatakan, kedatangan mereka dibalas dengan tembakan dari rumah itu. Pasukan AS kemudian mengusulkan serangan udara setelah aksi baku tembak berlangsung. Serangan udara pasukan AS kemudian menghancurkan rumah itu dengan segala isinya.
Dua belas hari kemudian, penyelidik dari PBB, Philip Alston, mengirimkan surat ke sejumlah pejabat AS. Isi surat itu mengatakan, berdasarkan hasil otopsi di dekat Rumah Sakit Tikrit, terlihat bahwa segenap anggota keluarga tewas akibat tembakan di kepala. Saat ditembak, segenap anggota keluarga dalam keadaan tangan diborgol.
Gambar-gambar yang diambil kantor berita Associated Press kemudian menunjukkan bahwa para korban terdiri dari dua pria dewasa dan tiga anak, tetapi sudah tidak terborgol lagi.
”Berdasarkan informasi yang kami terima, pasukan AS memasuki rumah itu lalu memborgol semua penghuni dan mengeksekusi semuanya. Kemudian serangan udara AS melakukan tugas untuk menghancurkan rumah itu,” demikian isi surat Alston, yang tidak tersedia untuk dikonfirmasikan.
Kolonel Marinir Dave Lapan, jubir Pentagon, di Washington, Jumat, memberi komentar, ”Kami telah melakukan investigasi tuduhan ini dan tidak mendapatkan informasi tambahan.”
Anggota parlemen Irak berang dengan informasi tersebut. ”Laporan terbaru itu akan berdampak pada setiap perjanjian baru,” kata Aliya Nusayif, anggota parlemen Irak dari kubu Sunni, di Baghdad.