JAKARTA, KOMPAS.com — Sikap sebagian kecil pengurus DPP Partai Golkar yang seolah mendorong keluar kader-kader Partai Golkar yang aktif di organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat dinilai sebagai cara "tradisional" dalam berpolitik.
Menurut kader Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, yang juga pengurus ormas Nasional Demokrat, sulit dibayangkan cara seperti itu dilakukan oleh pengurus partai sebesar Partai Golkar. Terlebih ketika cara itu disertai dengan meminjam istilah "lebih cepat, lebih baik".
"Padahal, ketika jargon itu digunakan oleh Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2009, yang bersangkutan entah di mana posisinya," kata Ferry, Minggu (4/9/2011).
Ferry mengatakan, di tengah keharusan mengembangkan misi partai untuk mencari anggota dan calon pemilih, justru aneh jika yang muncul malah sikap tidak simpatik, yang seolah "mengusir" kadernya.
"Tidaklah kita bahas dulu tentang alasannya. Sikapnya saja justru membuat kami bersedih. Sejak kapan partai sebesar Golkar memiliki pengurus yang bermental 'penjaga keamanan'?" kata Ferry.
Yang lebih memprihatinkan adalah jika sikap oknum pengurus itu merasa dan terekspresi seolah menjadi pemilik partai. Dengan sikap dan ketiadaan alasan yang argumentatif tersebut, sebenarnya Ferry merasa tidak bangga lagi di Golkar.
"Tapi, karena kecintaan saya kepada Partai Golkar tidak bersandar pada sikap oknum pengurus tersebut, tapi pada misi Partai Golkar yang menjaga semangat pluralisme dalam berbangsa. Sikap 'tradisional dalam berpartai' tersebut untuk jangka panjang sangat berpotensi merusak Partai Golkar," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang