Partai golkar

Ultimatum, Cara Tradisional dalam Berpolitik

Kompas.com - 04/09/2011, 18:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sikap sebagian kecil pengurus DPP Partai Golkar yang seolah mendorong keluar kader-kader Partai Golkar yang aktif di organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat dinilai sebagai cara "tradisional" dalam berpolitik.

Menurut kader Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, yang juga pengurus ormas Nasional Demokrat, sulit dibayangkan cara seperti itu dilakukan oleh pengurus partai sebesar Partai Golkar. Terlebih ketika cara itu disertai dengan meminjam istilah "lebih cepat, lebih baik".

"Padahal, ketika jargon itu digunakan oleh Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2009, yang bersangkutan entah di mana posisinya," kata Ferry, Minggu (4/9/2011).

Ferry mengatakan, di tengah keharusan mengembangkan misi partai untuk mencari anggota dan calon pemilih, justru aneh jika yang muncul malah sikap tidak simpatik, yang seolah "mengusir" kadernya.

"Tidaklah kita bahas dulu tentang alasannya. Sikapnya saja justru membuat kami bersedih. Sejak kapan partai sebesar Golkar memiliki pengurus yang bermental 'penjaga keamanan'?" kata Ferry.

Yang lebih memprihatinkan adalah jika sikap oknum pengurus itu merasa dan terekspresi seolah menjadi pemilik partai. Dengan sikap dan ketiadaan alasan yang argumentatif tersebut, sebenarnya Ferry merasa tidak bangga lagi di Golkar.

"Tapi, karena kecintaan saya kepada Partai Golkar tidak bersandar pada sikap oknum pengurus tersebut, tapi pada misi Partai Golkar yang menjaga semangat pluralisme dalam berbangsa. Sikap 'tradisional dalam berpartai' tersebut untuk jangka panjang sangat berpotensi merusak Partai Golkar," ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau