Jalur Selatan Rawan

Kompas.com - 05/09/2011, 02:56 WIB

Purwakarta, Kompas - Dibandingkan jalur laut dan udara, kecelakaan jalur darat tetap mendominasi arus mudik dan balik Lebaran 2011 di jalur utara, tengah, dan selatan Jawa. Namun, jalur selatan Jawa Barat, yakni Cianjur-Cileunyi- Tasikmalaya-Banjar, dinilai lebih rawan kecelakaan.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno di Pos Cikopo, Kabupaten Purwakarta, Minggu (4/9), mengatakan, karakteristik jalur selatan yang mulus dengan banyak kelokan, tanjakan dan turunan, serta lebar jalan yang relatif sempit turut memicu kecelakaan. Faktor kondisi kendaraan dan pengendara juga berperan.

Selain karakteristik jalan, kecelakaan juga dipicu oleh kelaikan kendaraan. Sepeda motor yang tidak didesain untuk jarak jauh masih digunakan oleh pemudik untuk menempuh puluhan hingga ratusan kilometer. Faktor kurangnya pengetahuan berlalu lintas dan berkendara yang baik juga turut berpengaruh.

Dari 134 kasus yang terjadi di jalur mudik utama selama 12 hari, hingga Sabtu (3/9), 69 kasus atau 51,4 persen di antaranya terjadi di jalur selatan, 43 kasus di utara, dan 22 kasus di tengah.

Secara keseluruhan, total kasus kecelakaan di Jawa Barat sejak H-7 hingga H+2 Lebaran mencapai 218 kasus serta mengakibatkan 40 orang tewas, 62 luka berat, dan 135 luka ringan. Sebanyak 134 kasus terjadi di jalur utama (utara, tengah, dan selatan), 32 kasus di jalur alternatif, 4 kasus di tol, dan 48 kasus di ruas lain.

Di Jawa Tengah, kecelakaan beruntun yang melibatkan satu bus dan 12 mobil di Kabupaten Semarang juga terjadi di daerah rawan kecelakaan, yakni di jalur turunan yang tajam.

Meski tidak ada korban jiwa, kecelakaan yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di jalan yang menurun di daerah Gembol, sekitar 1 kilometer dari pertigaan Terminal Bawen ke arah Semarang, Sabtu (3/9), menimbulkan kemacetan yang panjang.

Akibat tabrakan beruntun yang terjadi pukul 23.30 itu, enam orang harus dilarikan ke RS Ken Saras karena terluka. Kecelakaan tersebut diduga karena bus Dahlia Indah yang meluncur dari arah Bawen mengalami rem blong dan menabrak 12 mobil di depannya.

Berdasarkan data Satuan Lalu Lintas Polres Semarang, sejak H-7 hingga H+5 siang, telah terjadi 18 kecelakaan lalu lintas.

KA masih diminati

Seperti saat arus mudik, pada arus balik Lebaran ini kereta api tetap menjadi moda transportasi yang diminati masyarakat. Di Surabaya, tiket keberangkatan KA sejak Sabtu hingga Minggu habis terjual. Bahkan, di Solo, tiket KA tujuan Jakarta hingga tanggal 10 September habis terjual.

Untuk mengatasi penumpukan penumpang di Stasiun Poncol, Semarang, Jateng, diterapkan tiga ring penumpang, yakni penumpang bertiket masuk satu jam sebelum kereta berangkat, penumpang bertiket yang menunggu pemberangkatan di luar stasiun, dan penumpang yang membeli tiket.

Di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, diterapkan sistem boarding dengan membatasi penumpang yang masuk peron agar mereka tidak berebutan masuk peron.

Di Tasikmalaya, polisi memberlakukan sistem satu arah di Jalur Gentong.

Di Makassar, hingga Minggu, arus balik Lebaran di Pelabuhan Makassar terlihat padat. Di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jatim, arus balik ke arah Gilimanuk terlihat dari antrean kendaraan yang masuk ke kapal.

Kepadatan penumpang pada arus balik Lebaran juga terjadi di bandara di Kalimantan, seperti di Palangkaraya dan Banjarmasin. Semua kursi pesawat penuh terisi. (Tim Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau