Kementerian agar Lapor Keuangan

Kompas.com - 06/09/2011, 02:39 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta laporan keuangan kementerian, terutama yang serapan belanja modalnya rendah. Langkah ini dilakukan menyusul rendahnya serapan belanja kementerian sampai dengan saat ini.

”Presiden memberikan perhatian sangat tinggi atas permasalahan ini. Kementerian-kementerian diminta melaporkan segera, terutama yang serapan belanja modalnya rendah. Dan kami akan minta kementerian untuk mempercepat penyerapan belanja modal karena waktu mepet,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa seusai halal bihalal di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Senin (5/9).

Dalam waktu satu-dua hari ini, menurut Hatta, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi untuk mendorong kementerian-kementerian bekerja keras membelanjakan anggaran yang telah tersedia. Meski demikian, ia berharap serapan anggaran belanja tahun ini setidaknya tidak lebih kecil dibanding 2010.

Data yang ada menyebutkan, serapan anggaran seluruh kementerian dan lembaga sampai semester I-2011 hanya 26 persen dari total anggaran (APBN-P 2011), yakni Rp 1.320,8 triliun.

”Terus terang saya tidak happy kalau defisit sudah dinaikkan dari 1,8 persen jadi 2,1 persen tapi serapannya masih rendah. Itu kan ada cost of money-nya. Ada dana yang kita tanggung karena bersumber dari utang, itu kan jadi beban,” kata Hatta.

Salah satu faktor penyebab persoalan tersebut, menurut Hatta, adalah kementerian tidak siap melaksanakan proyek. Proses tender kadang-kadang makan waktu, apalagi jika proyeknya sendiri tidak dipersiapkan matang. Bahkan, laporan menyebutkan, ada tender ulang sementara waktu sudah mepet.

Solusinya, menurut Hatta, adalah dengan melakukan tender awal. Setelah ada persetujuan anggaran dari DPR, kementerian bisa langsung melakukan tender awal sebelum Januari dengan catatan tender batal demi hukum jika dana urung cair.

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Econit, Hendri Saparini, menyatakan, rendahnya serapan anggaran merupakan persoalan klasik yang tak kunjung selesai, bahkan kian parah. Salah satu indikatornya adalah penyerapan anggaran belanja modal untuk semester I tahun ini lebih rendah daripada tahun lalu.

”Kita tahu bahwa alokasi anggaran modal terbesar 2011 adalah untuk infrastruktur. Untuk itu perlu adanya dukungan kebijakan lain, misalnya soal pembebasan lahan dan persiapan visibility study. Yang terjadi adalah anggaran sudah dialokasikan, tapi persiapannya tidak dilakukan. Ini salah satu penyebab rendahnya penyerapan anggaran,” kata Hendri.

Anggaran, lanjut Hendri, digembar-gemborkan berbasis kinerja. Namun, porsi terbesar justru untuk kegiatan rutin. Akibatnya, kemampuan stimulus anggaran lemah.

Persoalan ini juga persis terjadi pada dana transfer ke daerah yang trennya kian besar. Kecepatan transfer tidak sebanding pengelolaan anggaran di daerah.

”Dengan sisa waktu tinggal kurang dari empat bulan, bisa saja terjadi anggaran asal diserap saja. Tapi saya khawatir, anggaran akhirnya tidak diserap dengan harapan bisa mengoreksi defisit. Sangat merugikan,” ujarnya

Menurut Hendri, pertama, dari pembiayaan (utang) ini akan membebani APBN. Kedua, hal ini akan membebani ekonomi nasional berkaitan dengan suku bunga tinggi. Ketiga, ini merugikan karena utang tak dimanfaatkan.

Kementerian Keuangan melaporkan, dana menganggur dalam rekening pemerintah hingga akhir Juni 2011 mencapai Rp 104,1 triliun. Penyebabnya, realisasi penerimaan lebih cepat dibandingkan realisasi belanja ditambah dana hasil penerbitan obligasi dan pinjaman luar negeri. (LAS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau