Jakarta, Kompas
Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Eka Sari Lorena, Senin (5/9), di Jakarta. ”Nanti kita lihat, apakah Organda kembali diundang dalam analisis tahun ini? Padahal, analisis penting untuk menyukseskan angkutan Lebaran tahun depan,” kata Eka Sari.
Pengamat transportasi dan mantan ketua Organda, Rudy Thehamihardja, menyatakan, Kementerian Perhubungan memang tidak pernah mengundang untuk mengevaluasi angkutan Lebaran dengan serius. ”Biasanya pengusaha transportasi diundang hanya untuk diberi hukuman, terutama jika menerapkan tarif di atas batas atas,” ujar Rudy.
Evaluasi angkutan Lebaran, menurut Eka Sari, sangat penting agar tak jatuh korban jiwa sekitar 600 orang seperti yang kini terjadi. ”Ini, kan, aneh. Banyak bus yang kekurangan penumpang, tetapi di sisi lain banyak pemudik terpaksa naik sepeda motor dengan taruhan nyawa,” ujarnya.
Tanpa evaluasi, Eka Sari memberikan contoh, kegiatan mudik gratis malah membinasakan angkutan umum reguler karena kekurangan penumpang. ”Mari kita membuka dengan jujur angka-angka dari indikator utama angkutan Lebaran, lalu membuat pola angkutan Lebaran yang jelas,” tuturnya.
Wakil Ketua Komisi V DPR, yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi, Nusyirwan Soejono berjanji segera memanggil Menteri Perhubungan terkait dengan tingginya angka kecelakaan. ”Kami sedang menentukan harinya,” ujarnya.
Rudy pun menyarankan evaluasi dilakukan setelah H+7 Lebaran. ”Jangan hanya mengundang Menteri Perhubungan, tetapi juga Menteri Pekerjaan Umum dan institusi kepolisian. Jadi, setiap pihak harus mempertanggungjawabkan kinerjanya,” katanya.
Rudy menegaskan, DPR sebaiknya juga menginvestigasi keakuratan data kecelakaan. Ia mempertanyakan tidak adanya data apabila korban kecelakaan tidak melapor kepada polisi. Lalu, apabila ada biaya ”damai” terhadap korban kecelakaan, juga tidak ada data di Jasa Raharja.
”Kalau soal data saja sudah lemah dan simpang siur, bagaimana kita mau membuat kebijakan yang benar,” ujar Rudy. Ia menegaskan, sebaiknya data kecelakaan wajib disampaikan pula oleh rumah sakit, puskesmas, atau balai pengobatan untuk mempertegas keakuratannya.
Di tengah perdebatan soal angka kecelakaan dan desakan supaya evaluasi secepatnya dikerjakan, Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Darmaningtyas mengingatkan, angka kecelakaan saat arus balik pada umumnya tinggi. ”Pemudik biasanya sudah lelah karena di desa tetap beraktivitas. Lalu biasanya petugas juga tidak fokus lagi dalam pengawalan arus balik. Maka, idealnya, jangan lengah sedikit pun supaya tidak jatuh korban lebih banyak,” kata Darmaningtyas.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Senin, menyatakan, pemerintah masih mengkaji penyebab meningkatnya kecelakaan pada arus mudik Lebaran. ”Kecelakaan itu terjadi karena banyak faktor, bukan semata-mata dari sarana dan prasarana atau dari kendaraan saja. Itu yang masih belum bisa diketahui. Ini yang nanti dievaluasi kembali,” tutur Julian.
Hingga Senin siang, Kepolisian Resor Semarang, Jawa Tengah, masih mencari pengemudi bus Dahlia Indah yang menyebabkan terjadinya tabrakan beruntun di jalur Semarang-Solo ruas Bawen, Kabupaten Semarang, Sabtu malam lalu. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Semarang Ajun Komisaris Matrius mengatakan, pengemudi bus melarikan diri setelah bus yang dia kendarai menabrak 12 mobil secara beruntun karena rem bus tak berfungsi.
Pada kecelakaan tunggal di Kilometer 96+500 Jalan Tol Purbaleunyi, Sabtu lalu, yang mengakibatkan istri artis Saipul Jamil meninggal dunia, Polres Purwakarta akan memeriksa Saipul yang mengemudikan mobil Avanza B 1843 UFU itu. Menurut Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Bahtiar Ujang Permana, penyidik masih mempertimbangkan kondisi psikologis Saipul yang kehilangan sang istri, Virginia Anggraini (23), akibat kecelakaan tersebut. (UTI/MKN/RYO/WHY)