Bertekad Sapu Bersih Emas

Kompas.com - 07/09/2011, 02:40 WIB

Jakarta, Kompas - Hasil bagus Asian Games 2010 berupa tiga emas dari perahu naga putra nomor 1.000 meter, 500 meter, dan 250 meter menjadi motivasi timnas perahu naga SEA Games XXVI. Timnas tidak hanya ingin mempertahankan catatan apik itu, tetapi juga menambah emas.

Pelatih perahu naga, Muhammad Suryadi, Selasa (6/9), yang baru saja tiba di Tanah Air seusai mendampingi tim perahu naga berlaga di Busan, Korea Selatan, mengatakan, para pedayung perahu naga Indonesia memiliki keunggulan pada daya tahan, khususnya untuk nomor jarak jauh 1.000 meter. Keunggulan pada daya tahan itu memampukan pedayung perahu naga Indonesia menyalip tim-tim lawan yang sudah unggul dari segi jarak setelah start.

Keunggulan itu menjadi kunci tim Indonesia menghadapi SEA Games XXVI/2011. Apalagi, di pesta olahraga itu akan dipertandingkan jarak 2.000 meter, jarak yang selama ini ada di pertandingan ajang internasional, tetapi baru akan dipertandingkan di SEA Games November 2011 mendatang.

Manajer timnas perahu naga SEA Games, Young Mardinal, menuturkan, karena keunggulan itu, tim perahu naga putra Indonesia mencatatkan waktu terbaik di Asian Games 2010. Emas nomor 1.000 meter diraih dalam waktu 3 menit dan 32,016 detik. Adapun tim putri meraih perak nomor 1.000 meter dengan waktu 4 menit dan 14,590 detik.

”Para pedayung Eropa sempat tidak percaya dengan hasil kita di Asian Games. Karena normalnya, baik di kejuaraan perahu naga di Eropa maupun di kejuaraan dunia, jarak 1.000 meter itu ditempuh dalam waktu sekitar 4 menit,” ujar Mardinal.

Agar bisa menyamai hasil Asian Games, latihan intensif menguasai kayuhan menjadi fokus. Pada SEA Games, latihan disiapkan untuk nomor dengan 20 pedayung dan 10 pedayung sesuai yang akan dilombakan.

Adapun jarak yang dilombakan di SEA Games, 11-22 November 2011, adalah jarak 500 meter putra/putri dengan 20 dan 10 pedayung, 1.000 meter putra/putri dengan 20 dan 10 pedayung, dan 2.000 meter putra/putri dengan 20 pedayung.

Perkuat daya ledak

Mardinal menambahkan, meski unggul pada daya tahan, pedayung Indonesia masih perlu memperkuat daya ledak. ”Daya ledak itu diperlukan sebagai kekuatan melakukan sprint dalam beberapa meter sebelum finis, khususnya di jarak pendek,” ujar Mardinal.

Pedayung perahu naga Indonesia, ujar Mardinal, masih harus meningkatkan penguasaan daya ledak itu. ”Kita lemah di jarak pendek 200 meter,” ujar Mardinal.

Di antara negara-negara di Asia Tenggara, penguasa jarak pendek 500 meter dan 250 meter adalah Myanmar. Namun, perlu dicatat pula, Myanmar juga mencatatkan hasil baik di Asian Games dengan meraih perak di jarak 1.000 meter putra.

Belum lagi tim putri Thailand yang juga meraih perunggu di jarak 1.000 meter Asian Games. Filipina yang baru saja mengikuti kejuaraan dunia perahu naga di Tampa Bay, Amerika Serikat, Agustus 2011, juga bisa menjadi kuda hitam di jarak pendek, bahkan jarak menengah.

”Di SEA Games nanti, kita tidak boleh lengah dan harus terus mewaspadai Myanmar, Thailand, dan Filipina. Khusus Myanmar, karena dia tuan rumah SEA Games 2013, Myanmar pasti akan mati-matian berusaha,” ujar Mardinal.

Tim harus kuat

Kunci untuk menyamai hasil Asian Games bahkan mengungguli SEA Games adalah dengan membentuk tim yang kuat di segala lini, kuat di daya tahan dan daya ledak. Rencananya tim perahu naga putra ataupun putri akan diperkuat pedayung yang merupakan gabungan pedayung eks Asian Games dan pedayung baru.

”Saat ini, kita masih menggodok tim perahu naga,” ujar Suryadi.

Rencananya tim inti akan diambil dari para pedayung yang sudah berlatih selama ini yang sudah mengikuti seleksi dan belum mengikuti kejuaraan, juga para pedayung yang sudah terpilih mengikuti kejuaraan.

Mardinal menambahkan, dengan tim yang masih akan disusun, pedayung 20 dan 10 dimungkinkan masih bisa diganti-ganti. ”Kami masih akan menyusunnya. Apalagi, kita punya target tidak hanya mengulang sukses Asian Games, tetapi juga juara umum di cabang dayung,” ujar Mardinal.

Penguatan tim juga berlaku untuk disiplin kano/kayak. Itu sebabnya, 40 pedayung kano/kayak saat ini terus diseleksi.

Melihat hasil Kejuaraan Kano Asia Tenggara 2011 di Cipule, Karawang, Jawa Barat, Juni lalu, Singapura bersama-sama Vietnam dan Thailand menjadi lawan berat Indonesia sehingga layak diwaspadai.

”Namun, di kano dan kayak, kita masih punya peluang,” ujar Mardinal. Tim ”Merah Putih” berharap mencuri peluang di nomor kano, khususnya C1, juga dari nomor kayak, K1.

Pelatih kano/kayak, La Dulu, mengatakan, dari hasil kejuaraan dunia kano sprint 2011 di Szeged, Hongaria, para pedayung Indonesia unggul di beberapa nomor dari negara Asia Tenggara yang ikut. ”Sayang, kita tidak berlomba dalam satu heat sehingga kurang tergambarkan persaingannya,” ujarnya. (HLN/WAD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau