Ketahanan air

Mimpi Jakarta soal Air Bersih

Kompas.com - 08/09/2011, 02:33 WIB

Ironi menyergap pikiran saat tiba di Singapura, Senin lalu. Baru saja menyaksikan ratusan orang—dan mungkin juga ribuan orang—di Jakarta kesulitan air bersih karena alirannya terhenti akibat pintu air Kalimalang jebol, Singapura negara yang luasnya tak lebih dari Pulau Bangka ini bisa menyediakan air bersih siap minum yang segar di Bandara Changi.

Sebagian dari kita dengan mudah menganggap negara itu sudah maju perekonomiannya sehingga semua fasilitas publiknya akan tersedia dengan prima. Namun, kalau pemerintah dan warga Singapura hanya berpangku tangan, tentu itu semua tidak akan ada.

Dalam suasana cukup santai di ruang lounge Hotel Intercontinental, Singapura, Achmad Harijadi duduk tenang mengobrol dengan koleganya, Russel Cheong, konsultan pembangunan di Singapura. Achmad Harjadi adalah Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.

Berbeda satu kursi, duduk Presiden Direktur Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, yang ikut menyimak obrolan Harjadi dan Cheong.

Kehadiran ketiganya bukan kebetulan. Mereka datang untuk menghadiri ”Infrastructure Finance Summit” yang diselenggarakan Bank Dunia. Berkaitan dengan acara yang akan dihadiri, Harjadi dan Cheong terlibat pembicaraan hangat soal penyediaan air bersih.

Cheong menuturkan, saat pertama kali Singapura menyediakan air bersih tidak mudah. ”Butuh sepuluh tahun untuk mengelola air sungai dan air limbah permukiman sampai bisa digunakan dan dikonsumsi,” katanya.

Sama halnya dengan Jakarta, kata Cheong, saat itu banyak warga Singapura yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Limbah rumah tangga dan air selokan dibuang ke sungai satu-satunya yang ada di negara tersebut.

Baru setelah pemerintah bertekad mengelola air, warga di bantaran sungai direlokasi ke rumah-rumah sederhana. Bersamaan dengan itu, dibangun pula saluran limbah rumah tangga yang terpisah dari sungai.

Air limbah itu dikelola sedemikian rupa sehingga bisa jernih lagi, yang digunakan untuk penghijauan dan mencuci. Endapan limbah digunakan untuk reklamasi dan juga taman. Aliran sungai steril dari sampah, dan hanya digunakan sebagai penampung air hujan serta penyedia air bersih untuk konsumsi warga.

Harus disiapkan

Kira-kira demikian pula mimpi Jakarta saat ini. Namun, diakui Harjadi, ada banyak hal harus disiapkan untuk mewujudkannya. Terlebih Jakarta terus didesak warga urban dari sejumlah daerah di Indonesia.

Namun, setidaknya, katanya, pemerintah telah memiliki rencana membangun pipa bawah tanah untuk mengalirkan air bersih dari Jatiluhur secara langsung ke tempat penampungan di Jakarta Utara. Pipa itu bisa dibangun dalam waktu tiga tahun.

”Akhir tahun ini studi kelayakannya selesai,” katanya.

Penyediaan air bersih itu nantinya juga didukung pengolahan air laut menjadi air tawar, seperti yang sudah dijalani Pembangunan Jaya Ancol.

Menurut Harjadi, langkah itu sebagai strategi awal untuk mengendalikan penggunaan sumur pompa air dalam. ”Biar warga tak resah, sekarang kami sediakan airnya dulu, baru sumur air dalam dilarang,” ujarnya.

Penurunan tanah di Jakarta akibat penyedotan air tanah berlebih pun dapat dikendalikan. Apalagi, laju penurunan tanah saat ini antara 2 dan 3 sentimeter per tahun. Tahap selanjutnya, 13 sungai yang mengalir ke Jakarta akan dinormalisasi. Selokan-selokan tidak lagi dihubungkan ke sungai, tetapi disambung ke saluran pembuangan yang ditanam di bawah jalan atau dasar sungai.

Pabrik-pabrik di sepanjang sungai akan diminta untuk pindah ke kawasan pinggiran Jakarta. Itu untuk mengurangi limbah yang masuk ke sungai.

Proyek tanggul raksasa kerja sama DKI Jakarta dengan pemerintah Belanda juga akan terus dilaksanakan. Selain dapat mengendalikan abrasi, tanggul itu juga untuk membendung air sungai di hilir Jakarta.

”Air sungai yang terbendung di muara akan menjadi payau karena ikut tercampur air laut. Dibandingkan dengan air laut, air payau ini lebih mudah diolah sebagai air bersih,” kata Harjadi.

Membayangkan mimpi itu bisa terwujud sepertinya sulit. Namun, menurut Budi Karya Sumadi, tanpa ada yang memulai, semuanya tidak akan terjadi. Saat Taman Impian Jaya Ancol mengolah air laut menjadi air tawar pada mulanya juga berat.

Namun, setelah beberapa tahun berjalan, itu semua menjadi ringan dan pihaknya tidak pernah kekurangan air. ”Saat air mati di Jakarta, persediaan air kami melimpah,” kata Budi Karya Sumadi.

Lantas, kapan itu semua akan dimulai? Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, pembangunan pipa air bersih dari Jatiluhur akan jadi rencana utama pembangunan Jakarta. ”Kami berupaya bisa segera dilaksanakan, dengan menghimpun dana dari swasta,” katanya.

Mimpi besar ini bukan mustahil, selama itu semua dijalankan dengan konsisten. Hal yang utama tentunya adalah jaminan pembangunan yang berkelanjutan serta kepastian kerja sama pengolahan air dengan pemerintah provinsi tetangga karena Jatiluhur berada di Jawa Barat.

Satu lagi, kepastian pembangunan infrastruktur pendukungnya di tengah Jakarta yang semakin padat penduduk juga perlu dipikirkan secara matang. (Madina Nusrat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau