Kolom olahraga

Hanya Barca yang Dibidik Madrid

Kompas.com - 08/09/2011, 02:42 WIB

Anton Sanjoyo

Sepak bola Eropa sudah mulai berdenyut dan dunia seakan mendapatkan kembali gairahnya. Dalam banyak hal, sepak bola Eropa tidak banyak mengalami perubahan. Liga Inggris tetap paling agresif dalam belanja pemain bintang, sementara Liga Italia tak kunjung selesai ditempa masalah. La Liga Spanyol, sementara itu, juga mulai berdenyut setelah sempat tertunda pemogokan asosiasi pemain profesional mereka. Jika di Inggris ada fenomena pergeseran kandidat juara, dari tim-tim seperti Arsenal atau Chelsea ke Manchester City, di Spanyol praktis tak berubah. Kuda pacunya tetap Barcelona dan Real Madrid.

Apa boleh buat, Liga Spanyol memang ibarat hanya dimiliki oleh dua tim dengan rivalitas paling pahit di muka bumi itu. Bagi keduanya, persaingan memang bukan sekadar prestasi di lapangan hijau, melainkan juga berkaitan erat dengan martabat, gengsi sosial, bahkan merasuk sampai ke ranah nasionalisme. Sejarah persaingan sepak bola paling fenomenal itu sudah berlangsung selama delapan puluh tahun dan segera diperbarui dengan momen-momen yang lebih dramatik.

Selama puluhan tahun, Real Madrid dikenal sebagai tim yang doyan mengumpulkan pemain-pemain terbaik di dunia sebagai bagian dari tradisi sebagai penguasa Spanyol. Jorge Valdano, mantan direktur ”El Real”, pernah mengakui, tradisi Madrid memang menjadi tempat berkumpulnya pemain terbaik di dunia dan mereka sanggup mengeluarkan uang berapa pun untuk terus membangun ”Los Galacticos”.

Sampai dengan dua musim terakhir, stigma El Real sebagai big spender dan ”tim beli jadi” masih melekat dengan kedatangan bintang seperti Cristiano Ronaldo, Xabi Alonso, Kaka, Mesut Oezil, dan Sami Khedira. Namun, ambisi besar Presiden Real Madrid Florentino Perez menghentikan laju Barcelona tak pernah kesampaian. ”El Blaugrana” justru semakin merajalela di tangan si genius Pep Guardiola.

Dengan mengandalkan bakat-bakat mudanya yang digodok di akademi La Masia, Guardiola bahkan merebut enam gelar dari enam kompetisi yang diikuti Barcelona pada musim pertamanya. Musim lalu, meski hanya menyabet dua gelar mayor, La Liga dan Liga Champions, serta dua gelar minor, Supercopa dan Super Eropa, pencapaian Guardiola tetap lebih mentereng ketimbang Jose Mourinho yang hanya kecipratan Copa del Rey.

Meski demikian, ada yang berbeda dengan Barcelona menjelang musim 2011-2012 digelar. Pada musim panas ini, mereka justru menjadi big spender dengan memboyong Cesc Fabregas dan Alexis Sanchez. Meski beberapa pemain muda La Masia tetap menjadi pilihan, seperti Thiago Alcantara, dibandingkan dengan Real Madrid yang relatif kalem di bursa transfer, Barcelona tampaknya sadar, persaingan dengan El Real akan semakin berat musim ini. Guardiola harus memperkuat pasukannya sedini mungkin.

Sebaliknya, Mourinho yakin dengan pasukan intinya yang semakin matang. Ditambah beberapa pembelian, seperti Nuri Sahin, Fabio Coentrao, Raphael Varane, Jose Callejon, dan Hamit Altintop, membuat mereka yakin mampu menghentikan dominasi Barcelona di semua kompetisi.

Secara gamblang, Mourinho bahkan menyatakan target juara Liga Champions dan La Liga dipasang sama tinggi. Namun, jika harus memilih, manajer asal Portugal itu memprioritaskan La Liga untuk menghambat Barca. Bagaimanapun, publik Madrid akan sangat ”terhina” jika Barcelona sukses empat kali beruntun menjadi jawara Primera Liga.

Ambisi besar Mourinho tampaknya harus ekstra diwaspadai oleh Guardiola. Gambaran ketatnya dua laga Supercopa baru-baru ini memberikan sinyal bahwa Real Madrid jauh lebih siap menghadapi Barcelona. Tak seperti dua musim terakhir, Real Madrid memang terkesan jauh lebih berani menghadapi gaya permainan cantik Barcelona. Meski tetap harus memakai cara-cara keras, bahkan cenderung kasar, dari sisi respons terhadap permainan Barcelona, pasukan Mourinho mengalami kemajuan pesat.

Dengan kondisi di atas, sekali lagi La Liga Spanyol dipastikan hanya akan punya dua kuda pacu, Barca dan Madrid. Sebanyak 18 tim lain kans terbaiknya adalah memperebutkan posisi ketiga dan keempat untuk jatah Liga Champions. Presiden Valencia Manolo Llorente dengan merendah mengatakan, timnya hanya menargetkan posisi ketiga dan mendekatkan jarak dengan Barca dan Madrid. ”Bersaing dengan mereka untuk juara hampir mustahil,” ujar Llorente yang pada musim lalu timnya berjarak 21 poin dari Real Madrid.

Valencia tampaknya tetap menjadi penantang terkuat untuk menempati posisi ketiga seperti pencapaian musim lalu. Kedatangan play maker Argentina, Pablo Piatti; kiper Brasil, Diego Alves; bek tengah Adil Rami; serta striker pinjaman dari Real Madrid, Sergio Canales, menguatkan keyakinan tersebut. Apalagi pada laga pramusim, penampilan Valencia cukup stabil, termasuk kemenangan 3-0 atas AS Roma.

Villarreal dan Sevilla tampaknya akan bersaing ketat dengan Valencia untuk memperebutkan posisi Liga Champions. Villarreal masih akan menggantungkan nasibnya kepada Giuseppe Rossi dan Nilmar. Namun, kepergian Santi Cazorla ke Malaga akan sedikit menghambat peluang mereka untuk kembali ke posisi keempat seperti musim lalu.

Jangan lupakan Malaga, yang juga mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan kasta baru di La Liga. Selain Cazorla, klub yang dimiliki Sheikh Abdullah dari Qatar itu mendatangkan Ruud van Nistelrooy dan Joaquin untuk meraih ambisi Liga Champions musim depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau