Urbanisasi

Atasi Urbanisasi, Indonesia Patut Mencontoh Thailand

Kompas.com - 10/09/2011, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia dipandang perlu mencontoh kesuksesan pemerintah Thailand mengatasi masalah urbanisasi. Semasa mantan Perdana Menteri Thaksin Sinawatra berkuasa, pemerintah Thailand memiliki program "One Village, One Product, One Million Bath", yang membuat masing-masing desa berlomba-lomba memiliki produk-produk unggulan.

"Ini patut kita contoh," kata Pengamat Urbanisasi International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Wahyu Susilo, pada diskusi di Jakarta, Sabtu (10/9/2011).

Program tersebut dijalankan secara serius dan konsisten oleh pemerintah sehingga dapat mengembangkan perekonomian masyarakat pedesaan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD RI Laode Ida mengatakan, pemerintah berkomitmen akan mengeluarkan kebijakan khusus terkait pengembangan perekonomian masyarakat pedesaan. Pemerintah juga berkomitmen memuncul sentra-sentra ekonomi produk unggulan, seperti sentra kerajinan di Jepara.

"Pemerintah tak akan mengeluarkan himbauan saja, tapi realisasi," katanya.

Laode mengatakan, fenomena urbanisasi dipandang sebagai hal manusiawi. Banyak desa dipandang belum dapat memenuhi ekspektasi masyarakat di bidang ekonomi.

Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan industri masih banyak yang bertumpu di Pulau Jawa. Lapangan pekerjaan di daerah tak banyak bertambah.

Hal tersebut diamini Kepala Lembaga Demograsi FE UI Sonny Harry B Harmadi pada diskusi di Jakarta. Investasi di Indonesia bias perkotaan sehingga pembangunan di daerah tersendat-sendat.

Sonny juga mengungkapkan, selain faktor ekonomi, urbanisasi juga disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur. Banyak warga pedesaan pindah ke kota untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.

"Ada desa yang hanya memiliki gedung SD, sementara gedung SMP ada di kecamatan, dan SMA di ibu kota provinsi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau