Akreditasi Ditangani Manual

Kompas.com - 11/09/2011, 01:56 WIB

Jakarta, Kompas - Panitia pelaksana SEA Games XXVI/2011 harus memproses data peserta yang berjumlah sekitar 10.000 atlet dan ofisial secara manual. Hal itu disebabkan sistem teknologi informasi belum tersedia saat pendaftaran final dibuka pada 15 September 2011.

Menurut Pelaksana Tugas Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Djoko Pekik Irianto, penyediaan sistem teknologi informasi untuk SEA Games tengah dalam masa lelang yang dimulai sejak 6 September lalu. Pemenang lelang dipastikan sudah diperoleh pada 21 September mendatang.

Dijelaskan, lelang baru dibuka pada awal September menyusul perbedaan perhitungan kebutuhan dana. ”Dana yang ada Rp 19 miliar, dari Inasoc (Panitia Pelaksana SEA Games) itu tidak cukup. Dibutuhkan Rp 35 miliar. Oleh karena itu, kami minta Inasoc untuk merevisi dan kekurangannya diambil dari anggaran untuk media. Nanti, dana media diambilkan dari APBN-P 2011,” ujar Djoko, Jumat (9/9).

Berdasarkan jadwal tersebut, kemungkinan sistem informasi untuk pelaksanaan SEA Games baru tersedia pada medio Oktober 2011. Itu belum memperhitungkan jika ada peserta yang melakukan sanggahan. Jika itu terjadi, proses penentuan pemenang bakal tertunda karena lelang memasuki masa sanggah.

Secara terpisah, Deputi I Inasoc Bidang Sport dan Venues Djoko Pramono mengatakan, sistem informasi yang belum terpasang membuat timnya kelabakan.

Sistem tersebut amat berguna sebagai sarana seluruh negara peserta SEA Games melakukan pendaftaran akhir dalam bentuk pengiriman data rinci setiap peserta (entry by name). Adapun pendaftaran itu dijadwalkan bermula pada 15 September dan berakhir 30 September 2011.

”Sebanyak 10.000 nama atlet dan ofisial dari 11 negara peserta SEA Games akan masuk. Sudah bisa dipastikan, per 15 September para peserta sudah akan memasukkan nama-nama atlet dan ofisial,” ujar Djoko.

Pendaftaran manual

Bila sistem teknologi informasi sudah terpasang dan aktif, setiap negara peserta bisa mendaftar secara online. Namun, karena sistem itu belum ada, pendaftaran akan dilakukan manual.

Yang harus diperhatikan pemerintah, ujar Djoko, adalah bisa muncul masalah dalam hal kecepatan dan ketelitian memproses data saat proses dilakukan secara manual. Apalagi, pada 15 Oktober 2011, seluruh data pendaftaran harus dikembalikan ke setiap negara peserta dalam bentuk kartu identitas peserta. Kartu tersebut akan berlaku aktif di saat peserta tiba di bandara di Indonesia.

Dalam kesempatan berbeda, anggota Komisi X DPR, Dedi Gumelar mengatakan, masalah teknologi informasi bukan persoalan gampang. Usulan mengenai sistem yang akan dipakai sudah disampaikan sejak lama.

Untuk menyiapkan dan menguji coba aplikasi teknologi informasi seperti itu, tutur Dedi, setidaknya dibutuhkan enam bulan sebelum SEA Games.

”Pasti akan ada human error dan utility error. Jadi IT (informasi teknologi) itu bukan persiapan yang cepat. Padahal, usulan pemasangan IT sudah lama diajukan,” ujar Dedi.

Dengan segala masalah tersebut, Indonesia harus terus maju sebagai tuan rumah. ”Ini bukan hajat main-main. Pemerintah harus bergerak cepat mencairkan dana penyelenggaraan,” ujar Dedi.

Selain masalah teknologi informasi, dia juga menyoroti lingkungan di kompleks olahraga Jakabaring, Palembang. Saat musim kemarau sekarang, di wilayah Sumsel banyak terjadi kebakaran hutan. Asap akibat kebakaran hutan sudah menyebar, bahkan bisa jadi mengganggu arena SEA Games. ”Pemerintah juga harus memperhatikan masalah tersebut,” ujar Dedi.

Sementara Ketua Satlak Prima Utama Tono Suratman mengatakan, dengan situasi persiapan saat ini, ia memastikan sebagian cabang sudah menerima alat-alat latihan yang dibutuhkan

(HLN/YNS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau