Kekeringan

Kesulitan Air Bersih Berlanjut

Kompas.com - 12/09/2011, 20:46 WIB

TEGAL, KOMPAS.com — Kesulitan air bersih yang dialami sebagian warga di Kota Tegal, Jawa Tengah, terus berlanjut, seperti dialami warga di Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana. Sumur warga saat ini sebagian besar sudah kering.

Kalaupun masih mengeluarkan air, air dari dalam sumur tersebut berbau dan berubah warna. Bahkan, sumur bor dengan kedalaman sekitar 14 meter pun saat ini sudah sulit mengeluarkan air, seperti yang dialami Tarmadi (64).

Menurut Tarmadi, Senin (12/9/2011), selama ini ia menggunakan air sumur bor itu untuk kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci. Namun, pada musim kemarau kali ini, aliran air dari sumur bor sangat kecil sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga.

Oleh karena itu, untuk memasak, ia terpaksa membeli air dari penjual keliling sebanyak dua jeriken per hari seharga Rp 3.000. "Untuk mandi dan mencuci sedapatnya air dari sumur bor, kadang-kadang juga menggunakan air yang dibeli," ujarnya.

Caryati (57), warga Kelurahan Kalinyamat Kulon lainnya, mengatakan, kesulitan air terjadi sejak Juni lalu. Sebelumnya, warga hanya membeli air untuk keperluan memasak, sedangkan air untuk mencuci dan mandi bisa dipenuhi dari sumur.

Namun, saat ini, semua kebutuhan air harus dipenuhi dengan membeli karena air di dalam sumur sudah berubah warna menjadi hitam. "Dulu, 10 jeriken bisa untuk tiga hari, tetapi sekarang dibutuhkan 20 jeriken air untuk kebutuhan tiga hari," kata Caryati.

Darwi (55), juga warga Kalinyamat Kulon, mengatakan, sumurnya mengering dan tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk memasak, mandi, dan mencuci. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia harus membeli air dari sumur bor atau dari pedagang air keliling. Dengan anggota keluarga lima orang, setiap hari Darwi membutuhkan 10 jeriken air.

Kesulitan air bersih tersebut mengakibatkan meningkatnya biaya hidup yang harus ditanggung masyarakat. Padahal, kebanyakan warga di wilayah tersebut hanya mengandalkan pekerjaan sebagai petani dan pedagang kecil.

Bahkan, saat ini, sawah di wilayah Kalinyamat Kulon juga mengering sehingga petani tidak bisa mendapatkan hasil panen secara maksimal, seperti dialami Kasnah (60).

Tanaman cabai di lahan seluas 1.800 meter persegi miliknya sulit berbuah karena kekurangan air. Padahal, setiap dua hari sekali, ia sudah menyedot air tanah dengan menggunakan mesin pompa air untuk mengairi sawah.

Ia mengaku menghabiskan sedikitnya dua liter bensin setiap penyedotan. "Memompa air juga sulit, tidak selalu ada air," ujarnya.

Sebenarnya warga sempat mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah dan instansi swasta. Namun, volumenya hanya sekitar dua tangki atau 10.000 liter sekali pengedropan. Itu pun tidak mesti diperoleh setiap satu pekan sekali.

Air sebanyak itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 kepala keluarga di wilayah itu. Mereka berharap pemerintah lebih sering memberikan bantuan air bersih.

Selain di Kalinyamat Kulon, para petani di wilayah Kabupaten Tegal juga kesulitan air, seperti dialami petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang.

Sodikin (67), petani di wilayah itu, mengatakan, saat ini para petani harus mengairi sawah dengan menggunakan mesin pompa air agar tanamannya bisa bertahan hidup. Hal itu mengakibatkan membengkaknya biaya yang harus mereka tanggung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau