Siang sedang menunjukkan digdayanya ketika tangan keriput Ahmad Suganda (71) tengah merapikan cetakan genteng di Kampung Cimenteng, Desa Gunungguruh, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bersama istrinya, Imas Rohilah (45), dia baru mulai kembali bekerja setelah libur Lebaran, dan pulih dari sakit yang mendera paha kirinya.
Dalam gubuk yang dikelilingi lintangan bambu untuk penjemuran itu, Suganda pun bersiap menghadapi musim kemarau. Setiap musim, semangat pembuat genteng seperti dirinya terlecut karena cuaca yang kering dan panas menyingkat waktu penjemuran sebelum dibakar.
Gubuk seluas sekitar 10 x 10 meter itu terasa teduh, kontras dengan keadaan di jalan yang berdebu dan panas menyengat. Genteng yang siap dibakar dijajarkan dekat tungku. Sudah hampir 150 buah genteng yang mereka kerjakan hari itu, yang artinya nyaris mendekati batas maksimal kekuatannya.
”Badan saya sudah tidak kuat bekerja sampai sore. Paling lama sampai pukul 14.00 sudah pulang, itu sudah dapat 150 genteng,” kata Suganda, yang bercucu tujuh dari enam anak.
Dia merasa di musim kemarau kali ini, jumlah produksinya tidak akan berlipat. Kekuatan fisik menjadi batasnya. Saat ditemui pun, Suganda sesekali masih meringis saat menggerakkan paha kiri sembari sedikit terbatuk.
”Kalau yang pakai mesin cetak mungkin jumlah gentengnya (yang diproduksi) bisa lebih banyak. Tetapi, saya tidak pakai mesin, selain harganya mahal, butuh karyawan lebih banyak,” ujarnya dengan gaya bicara yang berapi-api.
Suganda mengaku penghasilan dari membuat genting tidak besar. Dalam sebulan, dirinya bisa menghasilkan 6.000 buah genteng soka yang disebutnya gaya ”jogja”. Satu buah genteng dijual ke tengkulak Rp 4.500. ”Kalau pembeli datang sendiri ke gubuk, harganya sekitar Rp 5.000,” imbuhnya.
Istrinya, Imas Rohilah, menimpali, saat ini sudah semakin sedikit pembeli yang datang langsung. ”Pembeli kebanyakan sudah ditawari oleh tengkulak sebelum sampai ke sini (gubuk). Jadi harga yang dipakai adalah harga tengkulak. Paling banter bapak dikasih bonus uang rokok Rp 10.000,” kata Imas yang sudah 30 tahun mendampingi Suganda.
Jika dihitung-hitung, Suganda memang bisa meraup pendapatan hingga Rp 3 juta per bulan. Tetapi, ongkos produksinya terbilang besar, mencapai Rp 2 juta untuk 6.000 genteng yang dibuat. Sebagian besar modal itu diserap untuk membeli kayu bakar dan tanah liat. ”Musim kemarau biasanya harga tanah agak naik. Satu truk harganya menjadi Rp 140.000 dari sebelumnya Rp 130.000,” kata Suganda.
Kendala lain juga dirasakan pengusaha genteng Wilda Widi Astuti (32) yang mengelola tiga gubuk. Menurut dia, sukar mencari tenaga kerja berusia di bawah 30 tahun untuk menggenjot produksi genteng di musim kemarau ini.
”Seharusnya setiap musim kemarau, produksi genteng bisa bertambah karena masa pengeringan bisa lebih cepat tiga hari dari biasanya. Peningkatan yang bisa saya kejar mungkin hanya sekitar 80.000 genteng. Kalau banyak tenaga kerja mungkin bisa 100.000 lebih,” ujar Wilda.
Saat ini Wilda mempekerjakan tidak kurang dari 32 karyawan. Semua karyawan tersebut berusia 40 tahun ke atas. ”Yang muda-muda lebih tertarik kerja di pabrik baju atau sepatu. Padahal, untuk menggarap genteng dan batu bata dibutuhkan fisik yang bagus,” ujar Wilda.
Beberapa perajin genteng mengisahkan, kampung tersebut terkenal dengan kerajinan genteng yang berkembang sejak tahun 1960-an. Namun, belakangan perajin berkurang dan berganti dengan batu bata. Suganda dan Wilda adalah sedikit perajin yang masih mempertahankan kerajinan itu.