JAKARTA, KOMPAS.com -- Politik pencitraan dalam pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintah di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terjadi karena tidak ada keikhlasan dalam memberantas tindakan yang sebenarnya termasuk kejahatan kemanusiaan tersebut. Pencitraan dilakukan karena sesungguhnya ada niatan menyembunyikan perbuatan yang sebenarnya.
Mantan anggota DPR Zulfan Lindan mengungkapkan, orang-orang yang tidak ikhlaslah yang sebenarnya melakukan politik pencitraan. "Mereka menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka. Korupsi tetapi membangun masjid. Korupsi tetapi bantu pesantren," tutur Zulfan, Selasa (13/9/2011) di Jakarta.
Zulfan menilai, apa yang dilakukan Presiden Yudhoyono dalam pemberantasan korupsi juga termasuk bagian dari politik pencitraan tersebut.
Dia mencontohkan, tindakan politik pencitraan dalam pemberantasan korupsi Presiden Yudhoyono jelas terlihat ketika terjadi korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. "Menterinya enggak benar, tetapi enggak segera diganti," katanya.
Padahal, kata dia, bila bersandar pada ajaran Islam, orang-orang yang melakukan pencitraan jelas mereka yang perbuatannya tak ikhlas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang