Turki Rangkul Dunia Arab

Kompas.com - 14/09/2011, 04:53 WIB

Kairo, Kompas - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Selasa (13/9), berada di Kairo dalam rangka kunjungan tiga hari di Mesir. Kunjungan ini merupakan bagian dari lawatan ke Libya dan Tunisia. Kunjungan ini bertujuan merangkul dan mengusung nilai politik dan ekonomi strategis.

Ada 200 pengusaha yang menyertai Erdogan. Ia ingin mendukung revolusi di Mesir, Tunisia, dan Libya karena akan membuka investasi Turki di negara Arab itu.

Atmosfer politik di Timur Tengah sangat mendukung ambisi Erdogan.

Lawatan Erdogan dilakukan saat terjadi krisis hubungan Turki-Israel dan Mesir-Israel. Krisis Israel-Mesir dipicu tewasnya lima polisi perbatasan Mesir di Gurun Sinai bulan lalu. Krisis hubungan Turki-Israel dipicu oleh tewasnya sembilan aktivis Turki di kapal Mavi Marmara ketika berlayar menuju Jalur Gaza tahun lalu akibat tembakan Israel.

Turki berani mengambil sikap tegas dengan mengusir Duta Besar Israel untuk Turki dan membekukan hubungan militer kedua negara karena Israel menolak meminta maaf.

Krisis hubungan Mesir-Israel membuat ribuan pemuda Mesir, Jumat malam pekan lalu, mendobrak kantor Kedubes Israel di Kairo dan menurunkan bendera Israel serta mengacak-acak dokumen di Kedubes Israel.

Jika hubungan Mesir-Turki berlanjut ke arah hubungan strategis melawan Israel, hal ini pasti mengubah peta perimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Hubungan Turki-Arab juga secara implisit bisa berimplikasi pada pengucilan Israel. Di Mesir, Erdogan mengatakan bahwa Israel telah mengisolasikan dirinya sendiri dan harus membayar mahal sikapnya yang kasar soal Jalur Gaza.

Erdogan juga mengatakan akan mendukung kemerdekaan Palestina dan di masa depan akan mengutus Angkatan Laut Turki untuk mengiringi armada bantuan ke Jalur Gaza. ”Israel harus membayar tindakan kriminal yang dilakukannya,” katanya.

Di Amman, Senin, Raja Jordania Abdullah II juga mengatakan, revolusi di Arab hanya akan memperkuat Arab sekaligus mengisolasikan Israel. ”Jordania dan masa depan Palestina lebih kuat dari Israel,” katanya.

Barat memantau

Secara politik, Israel akan semakin terisolasi di kancah regional Timur Tengah. Israel pun bisa kehilangan keunggulan militernya. Gabungan kekuatan militer Turki dan Mesir itu bisa menjelma menjadi kekuatan militer raksasa, baik secara kualitas maupun kuantitas yang dapat menggilas kekuatan militer Israel.

Karena itu, para pengambil keputusan di Israel ataupun negara-negara Barat harus mengevaluasi hubungan ke depan Turki-dunia Arab pascarevolusi.

Erdogan juga punya popularitas di dunia Arab untuk menancapkan pengaruhnya di kawasan. Publik Arab kini mengidolakan Erdogan yang bersih, tegas, dan demokratis.

Hampir semua kekuatan politik di Mesir, Tunisia, dan Libya, yang diwarnai persaingan antara kubu islamis dan liberalis, menginginkan demokrasi model Turki di tiga negara Arab tersebut. Turki adalah negara demokrasi sipil, terbuka, dan dipimpin oleh partai islamis ataupun partai beraliran non-agama.

Erdogan bisa memanfaatkan popularitas itu untuk mendekati kubu islamis, khususnya Ikhwanul Muslimin, di Mesir, Tunisia, dan Libya agar bersedia mengadopsi kebijakan atau platform Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki saat ini.

Jika pendekatan Erdogan berhasil mencapai tujuan, Turki akan menghamparkan karpet merah bagi budaya demokrasi di dunia Arab. Hal ini akan membuka hubungan luas Turki-Arab di segala bidang.

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menulis artikel di harian Mesir Al Ahram edisi Selasa menegaskan, Turki menginginkan kemitraan strategis dengan Mesir untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan.

Menurut Davutoglu, nilai investasi Turki di Mesir dalam lima tahun terakhir ini melampaui 1 miliar dollar AS, naik dari sebelumnya yang hanya 100 juta dollar AS. Neraca perdagangan kedua negara meningkat 300 persen lebih dalam lima tahun terakhir ini.

Misi di balik lawatan Erdogan ke Mesir, Tunisia, dan Libya saat ini adalah ingin semakin memperkuat investasi politik dan ekonomi Turki di tiga negara Arab pasca-revolusi itu. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau