Ada 200 pengusaha yang menyertai Erdogan. Ia ingin mendukung revolusi di Mesir, Tunisia, dan Libya karena akan membuka investasi Turki di negara Arab itu.
Atmosfer politik di Timur Tengah sangat mendukung ambisi Erdogan.
Lawatan Erdogan dilakukan saat terjadi krisis hubungan Turki-Israel dan Mesir-Israel. Krisis Israel-Mesir dipicu tewasnya lima polisi perbatasan Mesir di Gurun Sinai bulan lalu. Krisis hubungan Turki-Israel dipicu oleh tewasnya sembilan aktivis Turki di kapal Mavi Marmara ketika berlayar menuju Jalur Gaza tahun lalu akibat tembakan Israel.
Turki berani mengambil sikap tegas dengan mengusir Duta Besar Israel untuk Turki dan membekukan hubungan militer kedua negara karena Israel menolak meminta maaf.
Krisis hubungan Mesir-Israel membuat ribuan pemuda Mesir, Jumat malam pekan lalu, mendobrak kantor Kedubes Israel di Kairo dan menurunkan bendera Israel serta mengacak-acak dokumen di Kedubes Israel.
Jika hubungan Mesir-Turki berlanjut ke arah hubungan strategis melawan Israel, hal ini pasti mengubah peta perimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Hubungan Turki-Arab juga secara implisit bisa berimplikasi pada pengucilan Israel. Di Mesir, Erdogan mengatakan bahwa Israel telah mengisolasikan dirinya sendiri dan harus membayar mahal sikapnya yang kasar soal Jalur Gaza.
Erdogan juga mengatakan akan mendukung kemerdekaan Palestina dan di masa depan akan mengutus Angkatan Laut Turki untuk mengiringi armada bantuan ke Jalur Gaza. ”Israel harus membayar tindakan kriminal yang dilakukannya,” katanya.
Di Amman, Senin, Raja Jordania Abdullah II juga mengatakan, revolusi di Arab hanya akan memperkuat Arab sekaligus mengisolasikan Israel. ”Jordania dan masa depan Palestina lebih kuat dari Israel,” katanya.
Secara politik, Israel akan semakin terisolasi di kancah regional Timur Tengah. Israel pun bisa kehilangan keunggulan militernya. Gabungan kekuatan militer Turki dan Mesir itu bisa menjelma menjadi kekuatan militer raksasa, baik secara kualitas maupun kuantitas yang dapat menggilas kekuatan militer Israel.
Karena itu, para pengambil keputusan di Israel ataupun negara-negara Barat harus mengevaluasi hubungan ke depan Turki-dunia Arab pascarevolusi.
Erdogan juga punya popularitas di dunia Arab untuk menancapkan pengaruhnya di kawasan. Publik Arab kini mengidolakan Erdogan yang bersih, tegas, dan demokratis.
Hampir semua kekuatan politik di Mesir, Tunisia, dan Libya, yang diwarnai persaingan antara kubu islamis dan liberalis, menginginkan demokrasi model Turki di tiga negara Arab tersebut. Turki adalah negara demokrasi sipil, terbuka, dan dipimpin oleh partai islamis ataupun partai beraliran non-agama.
Erdogan bisa memanfaatkan popularitas itu untuk mendekati kubu islamis, khususnya Ikhwanul Muslimin, di Mesir, Tunisia, dan Libya agar bersedia mengadopsi kebijakan atau platform Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki saat ini.
Jika pendekatan Erdogan berhasil mencapai tujuan, Turki akan menghamparkan karpet merah bagi budaya demokrasi di dunia Arab. Hal ini akan membuka hubungan luas Turki-Arab di segala bidang.
Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menulis artikel di harian Mesir Al Ahram edisi Selasa menegaskan, Turki menginginkan kemitraan strategis dengan Mesir untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan.
Menurut Davutoglu, nilai investasi Turki di Mesir dalam lima tahun terakhir ini melampaui 1 miliar dollar AS, naik dari sebelumnya yang hanya 100 juta dollar AS. Neraca perdagangan kedua negara meningkat 300 persen lebih dalam lima tahun terakhir ini.
Misi di balik lawatan Erdogan ke Mesir, Tunisia, dan Libya saat ini adalah ingin semakin memperkuat investasi politik dan ekonomi Turki di tiga negara Arab pasca-revolusi itu.