Ratu kecantikan

Leila Lopes dari Angola Menjadi Miss Universe

Kompas.com - 14/09/2011, 04:54 WIB

Sao Paulo, Selasa - Ratu kecantikan Angola, Leila Lopes, seorang mahasiswa bisnis dari kota Benguela, Senin (12/9), dimahkotai sebagai Miss Universe, ratu sejagat. Dia memukau dewan juri dengan kecantikannya dan mengesankan mereka dengan kecerdasannya.

Lopes (25) tertawa dan tersenyum saat dia memeluk juara kedua Miss Ukraina, Olesia Stefanko. Kemudian, ia merasakan sebuah mahkota diletakkan dengan hati-hati di kepalanya pada kontes kecantikan yang diadakan di Sao Paulo, Brasil.

Dalam kontes itu, saat menjawab pertanyaan, Lopes mengatakan, dia tidak pernah menjalani operasi plastik apa pun. Ia menambahkan, tiga rahasia kecantikannya adalah tidur cukup, menggunakan tabir surya walau matahari tidak terik, dan minum banyak air. Ia mengatakan lagi, senyumnya adalah senjata yang paling baik dalam kompetisi itu.

Miss Angola itu ditanya apa yang mungkin dia ubah mengenai keadaan fisiknya kalau dia bisa. Namun, Lopes mengatakan puas dengan dirinya apa adanya.

”Saya menganggap diri saya seorang perempuan yang diberkati dengan kecantikan dari dalam diri saya,” katanya kepada juri. ”Saya telah mendapatkan banyak prinsip yang sangat bagus dari keluarga dan saya merencanakan untuk melanjutkan itu untuk seumur hidup.”

Lopes adalah pemenang pertama dari Angola dalam kontes ini. Dia mengalahkan 88 saingan lain untuk memenangi gelar dalam ulang tahun ke-60 kontes kecantikan terbesar dunia itu. Ia menggantikan pemenang tahun lalu, Ximena Navarrete, dari Meksiko.

Kontes kecantikan Miss Universe merupakan acara tahunan yang ditonton jutaan orang di seluruh dunia. Para kontestan bersaing dalam beberapa kategori, mulai dari baju renang sampai gaun malam. Mereka juga harus menjawab pertanyaan kritis dan mengungkapkan sedikit mengenai kepribadian mereka.

Juara ketiga adalah Priscilla Machado dari Brasil, juara keempat ratu wakil dari Filipina, dan kelima wakil dari China.

Belajar tari samba

Para kontestan melewatkan tiga pekan di Sao Paulo dan melewati pelajaran tari samba, mengunjungi anak-anak miskin, serta menendang bola untuk difoto saat kontes Miss Universe, yang pertama kali diselenggarakan di Brasil.

Walau bersaing dengan utusan Brasil yang menjadi favorit, Lopes merebut hati hadirin. Ia juga berbicara dalam bahasa Portugis. Angola, seperti Brasil, adalah bekas jajahan Portugis.

”Ia memikat hadirin dan kami semua mendukungnya,” kata Natalie Bursztyn (20), salah seorang hadirin di Credicard Hall, tempat berlangsungnya acara.

Paula Shugart, Ketua Organisasi Miss Universe, malam itu, sangat bersemangat. Ia mengatakan sangat cocok kontes kecantikan terbesar dunia itu diadakan di Brasil saat ini. Negara itu bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade dan Piala Dunia. ”...Kami adalah ’Piala Dunia’ kecantikan.”

Kontes yang diorganisasi jutawan Donald Trump itu mempunyai dewan juri yang terdiri dari tujuh orang, antara lain supermodel Brasil Isabeli Fontana, pebalap Helio Castroneves, dan aktris Vivica A Fox.

(Reuters/AP/AFP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau