Sudah Saatnya Revolusi Seksual di Arab?

Kompas.com - 15/09/2011, 09:30 WIB

BUNGA dan kumbang” menghiasi “Musim Semi Arab.” Jembatan ke Tahrir Square Mesir, yang jadi saksi revolusi besar, kembali dipenuhi muda-mudi yang saling menebar pesona. Namun, menurut para ahli, itu tidak cukup untuk menggelorakan revolusi seksual di sana.

Selama unjuk rasa, perempuan Mesir bercerita dengan antusias bahwa mereka tiba-tiba tak lagi digoda di jalan. “Ada semacam rasa persatuan baru,” kata mantan diplomat Belanda, Petra Stienen, seperti dilansir Radio Nederland, Rabu (14/9/2011). Namun beberapa bulan kemudian perempuan kembali menghadapi masalah yang sama. “Walaupun secara pribadi saya merasa, laki-laki sudah tidak terlalu sering lagi mengganggu perempuan.”

Revolusi sosial dunia Arab tidak secanggih revolusi politiknya, kata Stienen. Ia menghadiri sebuah debat dengan ahli Islam Mohammed Cheppih mengenai kemungkinan revolusi seksual di dunia Arab.

“Sebenarnya, saya lebih berharap revolusi sosial dimulai di sana, ketimbang revolusi politik. Sekarang memang ada revolusi sosial, sayang sekali skalanya masih terlalu kecil," kata Cheppih.

Toh Cheppih dan Stienen sama-sama terganggu bahwa Barat selalu menggambarkan seksualitas dunia Arab sebagai sesuatu yang menyeramkan. “Kita harus berhenti menggeneralisasi, seolah Maroko dan Arab Saudi punya masalah yang sama, dan di sana hanya ada penindasan,” kata Stienen. “ Anak muda Arab juga punya keinginan sama dengan anak muda Barat: punya pasangan dan bersenang-senang.”

Lama sebelum revolusi, sudah ada perkembangan dan diskusi mengenai seksualitas. Stienen memberi contoh. “Di Mesir ada terapis seks, Heba Kotb. Ia membawakan acara talkshow mengenai betapa pentingnya perempuan bisa menikmati seks dengan suami mereka – tentu saja, ia membicarakan seks dalam kerangka perkawinan.”

“Lalu ada penulis Libanon yang menerbitkan majalah, Al Jasad (tubuh). Ia memperlihatkan bahwa tubuh laki-laki dan perempuan adalah karya seni, bahwa sebagai manusia kita boleh menikmatinya, dan Anda mengingkari diri sendiri jika menganggap seks tabu,” kata Stienen seperti dikuti Radio Nederland.

Pemerintah Islam

Cheppih berharap orang Mesir, Tunisia, Libia punya lebih banyak kebebasan pasca pemberontakan. Kebebasan seksual berhubungan dengan kebebasan individual lainnya. “Kembalikan hak mereka untuk menjadi seperti yang mereka mau,” kata Cheppih, “Baik dalam hal seksual, namun juga dalam masalah korupsi, dan memutuskan pilihan sendiri.”

Pemerintahan Islam juga bisa memberikan kebebasan, Cheppih menekankan. “Bullshit kalau Anda bilang, jika ikhwanul muslim berkuasa, tidak akan ada kebebasan. Lihat saja di Belanda, ada partai kristen CDA, atau di Maroko ada partai Islam PJD. Nyatanya semua normal-normal saja.”

Cheppih ingin agar masalah-masalah seperti penganiayaan dan perkawinan paksa ditangani. Selain itu pendidikan untuk anak lelaki juga harus diubah, kata Stienen. “Anak-anak laki-laki biasanya diperlakukan bak raja. Sangat aneh bahwa anak perempuan selalu diperingatkan untuk berhati-hati, sementara anak laki-laki tidak pernah diajarkan menghormati perempuan dan dididik agar tidak menjadi pemerkosa.”

Revolusi seksual Arab memang belum sampai di situ. “Kejatuhan Mubarak merupakan satu langkah besar, namun sekarang harus ada sejuta langkah kecil yang diambil,” Petra Stienen mengutip kata-kata seorang teman Mesirnya. Toh ia cukup optimis.

“Ketika berjalan-jalan di lokasi demonstrasi Mesir – yang Januari lalu dipenuhi demonstran dan tentara – saya melihat muda-mudi yang sedang saling menebar pesona. Kita harus percaya terhadap anak muda yang dengan cara mereka sendiri memperjuangkan kebebasan. Penekanannya ada pada: cara mereka sendiri. Kita tak bisa berharap semua akan berjalan seperti di dunia Barat,” kata Stienen. “Bahwa segalanya boleh. Dan orang boleh berhubungan seks dengan siapa saja, seperti tahun 70-an. Orang Barat sekarang juga tidak begitu. Biarkan saja orang menentukan sendiri apa yang mereka mau.”

Pendapatnya disetujui mantan Menteri Kerja Sama Pembangunan Belanda Bert Koenders, yang memimpin debat antara Cheppih dan Stienen di organisasi penerangan seksual Rutgers WPF:

“Saya pikir, kita harus melihat dengan mata terbuka. Dan tidak delusional soal masyarakat, yang pada kenyataannya lebih rumit. Orang-orang tidak boleh bilang: ayo, kunci perempuan dalam rumah. Sebaliknya, orang juga jangan sampai berpikir: revolusi emansipasi perempuan ini bakal jadi penuh kekerasan seperti di Barat.”

Cara Barat tidak cocok di Arab, kata Koenders. “Dan kita tidak tahu bagaimana menghadapi kenyataan itu. Marilah tunjukkan kalau kita tertarik dengan apa yang terjadi, membantu jika mungkin, namun tidak menentukan apa yang harus terjadi di sana. Lagipula, kita juga tidak bisa, kok.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau