Infrastruktur

Pipa Gas Bocor akibat Pengeboran Sumur

Kompas.com - 17/09/2011, 05:18 WIB

Jakarta, Kompas - Terjadi kebocoran pipa gas yang menyebabkan semburan api dari selokan di depan rumah warga bernama Umi Kulsum di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/9) pukul 11.00. Kebocoran pipa gas itu diduga akibat pengeboran sumur untuk pipa pompa air sedalam 17 meter yang dilakukan oleh Umi Kulsum lebih dari sebulan lalu.

Tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu. Semburan api juga dapat langsung ditangani kurang dari dua jam karena petugas Perusahaan Gas Negara (PGN) langsung menutup keran aliran gas. Namun, kejadian itu menyebabkan arus lalu lintas dari Pasar Rumput, Manggarai, hingga percabangan jalan di Pintu Air Manggarai menuju Matraman tersendat karena ruas Jalan Tambak ditutup.

Keberadaan pipa gas itu, menurut sejumlah warga, dulu untuk menyalurkan gas ke sejumlah rumah warga. Namun, beberapa tahun ini warga setempat tidak lagi menggunakan suplai gas dari pipa tersebut.

Warga setempat, Dasim (65), menuturkan, kebocoran pipa gas itu sudah diidentifikasi warga sejak dua hari sebelumnya sebab papan beton yang menutup selokan di depan rumah warga sepanjang 100 meter dari rumah Umi Kulsum terasa panas. Dari sela-sela selokan itu juga muncul jejak hangus bekas jilatan api.

Sebagai tetangga Umi Kulsum, Dasim menduga, semburan api tersebut muncul akibat pengeboran sumur untuk pompa air yang dilakukan keluarga Umi Kulsum yang dilakukan beberapa hari sebelum bulan puasa yang lalu. Hal itu disebabkan semburan api pun muncul di titik pengeboran pompa tersebut.

”Semula tidak ada yang khawatir dengan pengeboran sumur untuk pompa itu karena memang tidak pernah ada kejadian pipa gas bocor seperti sekarang,” katanya.

Rudi (27), salah seorang anak Umi Kulsum, mengaku, pengeboran sumur yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan lalu itu untuk memperdalam pipa air dengan menggunakan tenaga pengebor sumur air. Pengeboran itu pun dilakukan karena pompa yang dibuat sejak satu setengah tahun lalu tersebut tidak lagi mengeluarkan air akibat kemarau.

”Sebelumnya, pipa air itu hanya sedalam 13 meter. Karena airnya tak lagi keluar sejak kemarau, kami bor lagi hingga kedalaman 17 meter dari permukaan jalan,” katanya.

Namun, setelah pengeboran dilakukan, menurut Rudi, air tidak juga keluar. Sebaliknya, malah keluar hawa dingin seperti gas dari lubang pipa sehingga lubang itu akhirnya ditutup.

Karena terdesak kebutuhan air, dibuat lagi pengeboran sumur baru yang berjarak 5 meter dari titik semula. Itu juga tidak mengeluarkan air. Rudi mengaku tidak pernah mengetahui bahwa di bawah selokan di depan rumahnya tertanam pipa gas. Dia hanya tahu bahwa di bawah selokan itu tertanam kabel listrik PLN.

Saat semburan api muncul pun, Rudi mengaku terkejut. Apalagi, di lokasi semburan itu berdiri bedeng kayu bekas warung tempat ibunya berdagang nasi beberapa tahun lalu.

Sementara beberapa warga lainnya juga mengaku tidak menyadari ada pipa gas tertanam di bawah selokan. Adapun papan peringatan atas keberadaan pipa gas itu juga hanya ada satu di sepanjang Jalan Tambak, dan itu pun berukuran kecil.

Seorang petugas PGN, Dwi, mengatakan, dibutuhkan perbaikan secara menyeluruh pada pipa untuk menghentikan kebocoran. ”Untuk sementara, kami tutup dulu kerannya,” katanya.

Kepala Kepolisian Sektor Menteng Komisaris Didi Heriadi mengatakan, belum ada tersangka dalam kasus kebocoran pipa gas itu. Sebaliknya, pihaknya lebih berkonsentrasi menjaga keamanan di area pipa gas yang bocor.

”Kami telah meminta PGN untuk segera memeriksa pipa yang bocor itu agar tidak terjadi kebakaran. Untuk saat ini, ini yang lebih penting,” katanya. (MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau