Jakarta, Kompas
Tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu. Semburan api juga dapat langsung ditangani kurang dari dua jam karena petugas Perusahaan Gas Negara (PGN) langsung menutup keran aliran gas. Namun, kejadian itu menyebabkan arus lalu lintas dari Pasar Rumput, Manggarai, hingga percabangan jalan di Pintu Air Manggarai menuju Matraman tersendat karena ruas Jalan Tambak ditutup.
Keberadaan pipa gas itu, menurut sejumlah warga, dulu untuk menyalurkan gas ke sejumlah rumah warga. Namun, beberapa tahun ini warga setempat tidak lagi menggunakan suplai gas dari pipa tersebut.
Warga setempat, Dasim (65), menuturkan, kebocoran pipa gas itu sudah diidentifikasi warga sejak dua hari sebelumnya sebab papan beton yang menutup selokan di depan rumah warga sepanjang 100 meter dari rumah Umi Kulsum terasa panas. Dari sela-sela selokan itu juga muncul jejak hangus bekas jilatan api.
Sebagai tetangga Umi Kulsum, Dasim menduga, semburan api tersebut muncul akibat pengeboran sumur untuk pompa air yang dilakukan keluarga Umi Kulsum yang dilakukan beberapa hari sebelum bulan puasa yang lalu. Hal itu disebabkan semburan api pun muncul di titik pengeboran pompa tersebut.
”Semula tidak ada yang khawatir dengan pengeboran sumur untuk pompa itu karena memang tidak pernah ada kejadian pipa gas bocor seperti sekarang,”
Rudi (27), salah seorang anak Umi Kulsum, mengaku, pengeboran sumur yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan lalu itu untuk memperdalam pipa air dengan menggunakan tenaga pengebor sumur air. Pengeboran itu pun dilakukan karena pompa yang dibuat sejak satu setengah tahun lalu tersebut tidak lagi mengeluarkan air akibat kemarau.
”Sebelumnya, pipa air itu hanya sedalam 13 meter. Karena airnya tak lagi keluar sejak kemarau, kami bor lagi hingga kedalaman 17 meter dari permukaan jalan,” katanya.
Namun, setelah pengeboran dilakukan, menurut Rudi, air tidak juga keluar. Sebaliknya, malah keluar hawa dingin seperti gas dari lubang pipa sehingga lubang itu akhirnya ditutup.
Karena terdesak kebutuhan air, dibuat lagi pengeboran sumur baru yang berjarak 5 meter dari titik semula. Itu juga tidak mengeluarkan air. Rudi mengaku tidak pernah mengetahui bahwa di bawah selokan di depan rumahnya tertanam pipa gas. Dia hanya tahu bahwa di bawah selokan itu tertanam kabel listrik PLN.
Saat semburan api muncul pun, Rudi mengaku terkejut. Apalagi, di lokasi semburan itu berdiri bedeng kayu bekas warung tempat ibunya berdagang nasi beberapa tahun lalu.
Sementara beberapa warga lainnya juga mengaku tidak menyadari ada pipa gas tertanam di bawah selokan. Adapun papan peringatan atas keberadaan pipa gas itu juga hanya ada satu di sepanjang Jalan Tambak, dan itu pun berukuran kecil.
Seorang petugas PGN, Dwi, mengatakan, dibutuhkan perbaikan secara menyeluruh pada pipa untuk menghentikan kebocoran. ”Untuk sementara, kami tutup dulu kerannya,” katanya.
Kepala Kepolisian Sektor Menteng Komisaris Didi Heriadi mengatakan, belum ada tersangka dalam kasus kebocoran pipa gas itu. Sebaliknya, pihaknya lebih berkonsentrasi menjaga keamanan di area pipa gas yang bocor.
”Kami telah meminta PGN untuk segera memeriksa pipa yang bocor itu agar tidak terjadi kebakaran. Untuk saat ini, ini yang lebih penting,” katanya.