Bahkan Petenis Pun Ancam Mogok

Kompas.com - 20/09/2011, 19:40 WIB

LONDON, Kompas.com - Petenis nomor empat dunia Andy Murray, Senin (Selasa WIB) mengatakan, para petenis putra akan melakukan mogok main jika jadwal yang dibuat Asosiasi Tenis Profesional (ATP) tidak diubah.      

Petenis berusia 24 tahun itu mengatakan kepada BBC bahwa ia telah menggelar sejumlah pembicaraan dengan beberapa petenis lain pada saat perhelatan turnamen AS Terbuka dan akan membincangkan hal itu dalam turnamen Shanghai Masters awal bulan depan.     

Persoalan terkait jadwal itu muncul dalam turnamen tenis AS Terbuka ketika hujan memaksa beberapa petenis seperti Rafael Nadal untuk bermain selama tiga hari berturut-turut dan kemudian libur satu hari untuk terbang ke Eropa dan bermain dalam kejuaraan Piala Davis.     

Para petenis itu juga kesal dengan pengumuman tahun lalu yang dibuat Pemimpin Eksekutif ATP, Adam Helfant, yang kemudian memutuskan mundur dari badan tenis itu.     

Hasil keputusan itu menyatakan bahwa turnamen Paris Masters dan putaran final Tur Dunia akan dimainkan dengan jadwal berdekatan, sehingga akan ada dua pekan yang terpotong dari Kalender ATP 2012.

"Kemungkinan para pemain akan mogok. Setelah berbicara dengan beberapa pemain saya tahu mereka tidak ragu untuk melakukan aksi itu," kata Murray, yang sebelumnya dikalahkan oleh Nadal dalam semifinal AS Terbuka.     

"Mari berharap hal itu tidak terjadi, namun saya yakin petenis akan mempertimbangkannya," katanya.     

Murray, yang belum memiliki gelar juara Grand Slam meskipun telah mencapai final Australia Terbuka dan menjadi semi finalis di tiga turnamen grand slam lainnya, bersikeras bahwa suara mereka harus didengar dan pembicaraan terkait aksi mogok atau boikot itu akan berlanjut di Shanghai.     

"Jika kami memiliki sejumlah hal yang ingin kami ubah dan meksipun semuanya setuju hal itu belum terwujud, maka kami harus memiliki suara dalam olahraga yang kami tekuni ini," kata Murray.     

"Saat ini kami belum melakukan apa-apa, kami akan berunding dengan pihak ATP serta Federasi Tenis Internasional (ITF). Kita akan lihat apakah mereka mau melakukan kompromi, jika tidak kami akan melakukannya," katanya.     

Murray juga menegaskan para petenis hanya menginginkan perubahan yang kecil, dengan sekitar dua atau tiga minggu selama tahun ini sehingga jumlah turnamen yang lebih sedikit setiap tahunnya."Saya rasa hal itu masuk akal," kata Murray yang mengatakan pentingnya isu tersebut dibahas saat ini.     

"Agar perubahan tersebut berjalan secara alami mungkin butuh waktu lima atau enam tahun lagi, namun saat itu kami semua sudah pensiun. Kami ingin perubahan itu dilakukan sebelum semuanya terlambat," kata Murray.     

Presiden ITF Francesco Ricci Bitti pekan lalu mengatakan bahwa keluhan Nadal mengenai penjadwalan Piala Davis itu "tidak konsisten" karena sebelumnya para pemain telah menyetujui hal itu ketika ITF menyusun jadwal pada 2009.     

ATP juga mengeritik balik para petenis dengan mengatakan mereka telah memperhitungkan aspek kelelahan para pemain dengan mengurangi sebagian partai final menjadi "best of three set" dan membolehkan delapan pemain unggulan untuk langsung lolos ke babak kedua dalam turnamen itu serta meningkatkan jumlah hadiah untuk pemenang.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau