Tegal, Kompas -
Waduk yang mengalami penurunan volume air adalah Waduk Cacaban, Waduk Malahayu, dan Waduk Penjalin, serta 30 bendung di pantai utara Tegal dan sekitarnya yang semuanya di Jawa Tengah (Jateng).
Kondisi serupa terjadi di Waduk Gondang dan Waduk Prijetan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim).
Koordinator Pelaksana Alokasi Air, Balai Pengelola Sumber Daya Air Pemali Comal, Jateng, Adi Setijono, Senin (19/9), mengatakan, penghematan air irigasi terus dilakukan dengan sistem gilir.
Saat ini volume air Waduk Cacaban mencapai 10,97 juta meter kubik (m
Untuk Waduk Malahayu, pengeluaran air masih 5 m
Adapun dari 30 bendung yang ada di wilayah pantura, hanya delapan bendung yang mampu memenuhi 100 persen kebutuhan air pada daerah irigasinya. Kemarau tahun ini juga mengakibatkan kekeringan pada tanaman cabai di Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Hamparan tanaman cabai di wilayah ini tampak meranggas di atas tanah sawah yang merekah.
Di Kabupaten Lamongan, kondisi Waduk Gondang menyisakan 2 juta m
Kondisi bagian waduk yang kering di Waduk Gondang bahkan telah ditanami jagung dan kacang. Kondisi waduk menyusut sejak akhir Juli lalu.
Kekeringan membuat areal pertanian di Madiun selatan tak tergarap. Bupati Madiun Muhtarom mengatakan, hingga saat ini areal pertanian di Kabupaten Madiun selatan tidak tergarap karena kelangkaan air. Padahal, potensi lahan seluas 10.000 hektar ini memproduksi padi 64.000 ton sekali musim panen.
Wilayah itu meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Wungu, Kare, Dagangan, Pagotan, dan Geger.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jatim
Di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pemerintah pusat akan mengganti rugi Rp 3,7 juta dari Kementerian Pertanian untuk setiap hektar sawah yang gagal panen. Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Firdaus Hasan mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan Rp 44,4 juta untuk ganti rugi 12 hektar sawah yang puso di Kecamatan Bungoro dan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan.
Rusaknya jaringan irigasi membuat sejumlah petani padi di Sumatera Barat (Sumbar) beralih profesi pascagempa bumi 30 September 2009. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumbar Sukardi Bendang, kemarin, mengatakan, alih profesi terjadi karena petani terus didesak kebutuhan hidup sehari-hari.
”Pemerintah mestinya tidak bergantung pada dana bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memperbaiki saluran irigasi yang hancur. Seharusnya ada dana APBD,” kata Sukardi.
Di Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, kekeringan mengakibatkan petani berebut air irigasi. Ini terjadi di Kelurahan Singakerta, Kabupaten Indramayu. Kian susutnya debit air dari Bendung Rentang membuat petani terpaksa berebut air.
Di Kabupaten Temanggung (Jateng), kekeringan meluas di 29 dusun di 12 desa di empat kecamatan, dan sudah dialokasikan 200 tangki air bersih.