Dampak kekeringan

Puluhan Waduk Surut, Petani Berebut Air

Kompas.com - 21/09/2011, 03:31 WIB

Tegal, Kompas - Puluhan waduk yang selama ini menjadi sumber air untuk lahan persawahan kian susut debit airnya karena kekeringan. Akibatnya, sejumlah daerah tidak bisa menggarap lahan pertanian, dan petani terpaksa berebut air irigasi.

Waduk yang mengalami penurunan volume air adalah Waduk Cacaban, Waduk Malahayu, dan Waduk Penjalin, serta 30 bendung di pantai utara Tegal dan sekitarnya yang semuanya di Jawa Tengah (Jateng).

Kondisi serupa terjadi di Waduk Gondang dan Waduk Prijetan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim).

Koordinator Pelaksana Alokasi Air, Balai Pengelola Sumber Daya Air Pemali Comal, Jateng, Adi Setijono, Senin (19/9), mengatakan, penghematan air irigasi terus dilakukan dengan sistem gilir.

Saat ini volume air Waduk Cacaban mencapai 10,97 juta meter kubik (m3) dengan elevasi 69,29 meter. Untuk menghemat air, menurut Adi, pengeluaran air pada Waduk Cacaban dibatasi 2,5 m3 per detik, lebih sedikit dari pola yang direncanakan sebanyak 3 m3 per detik.

Untuk Waduk Malahayu, pengeluaran air masih 5 m3 per detik, dan giliran dilaksanakan empat hari dialirkan, empat hari ditutup. Padahal, waduk ini tiap saat harus menjamin ketersediaan air untuk 3.000 hektar tanaman padi.

Adapun dari 30 bendung yang ada di wilayah pantura, hanya delapan bendung yang mampu memenuhi 100 persen kebutuhan air pada daerah irigasinya. Kemarau tahun ini juga mengakibatkan kekeringan pada tanaman cabai di Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Hamparan tanaman cabai di wilayah ini tampak meranggas di atas tanah sawah yang merekah.

Di Kabupaten Lamongan, kondisi Waduk Gondang menyisakan 2 juta m3 atau 8,69 persen dari kapasitas normal 23 juta m3 air, sedangkan Waduk Prijetan juga menyusut tinggal terisi 2,3 juta m3 atau 24,4 persen dari kapasitas normal 9 juta m3.

Kondisi bagian waduk yang kering di Waduk Gondang bahkan telah ditanami jagung dan kacang. Kondisi waduk menyusut sejak akhir Juli lalu.

Lahan tak tergarap

Kekeringan membuat areal pertanian di Madiun selatan tak tergarap. Bupati Madiun Muhtarom mengatakan, hingga saat ini areal pertanian di Kabupaten Madiun selatan tidak tergarap karena kelangkaan air. Padahal, potensi lahan seluas 10.000 hektar ini memproduksi padi 64.000 ton sekali musim panen.

Wilayah itu meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Wungu, Kare, Dagangan, Pagotan, dan Geger.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jatim Siswanto mengatakan, pihaknya sudah mengajukan anggaran Rp 91 miliar untuk mengatasi kekeringan di Jatim.

Di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pemerintah pusat akan mengganti rugi Rp 3,7 juta dari Kementerian Pertanian untuk setiap hektar sawah yang gagal panen. Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Firdaus Hasan mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan Rp 44,4 juta untuk ganti rugi 12 hektar sawah yang puso di Kecamatan Bungoro dan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan.

Rusaknya jaringan irigasi membuat sejumlah petani padi di Sumatera Barat (Sumbar) beralih profesi pascagempa bumi 30 September 2009. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumbar Sukardi Bendang, kemarin, mengatakan, alih profesi terjadi karena petani terus didesak kebutuhan hidup sehari-hari.

”Pemerintah mestinya tidak bergantung pada dana bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memperbaiki saluran irigasi yang hancur. Seharusnya ada dana APBD,” kata Sukardi.

Di Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, kekeringan mengakibatkan petani berebut air irigasi. Ini terjadi di Kelurahan Singakerta, Kabupaten Indramayu. Kian susutnya debit air dari Bendung Rentang membuat petani terpaksa berebut air.

Di Kabupaten Temanggung (Jateng), kekeringan meluas di 29 dusun di 12 desa di empat kecamatan, dan sudah dialokasikan 200 tangki air bersih.

(WIE/ACI/NIK/INK/ RIZ/REK/EGI/ETA/NIT/BAY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau