Salmah (45) mengepel di ruang tamunya, Selasa (20/9) pagi. Sementara sang suami menyiram sofa dengan air bersih di halaman dan putri sulungnya mengumpulkan pakaian yang masih bersih di kamar. Semua berupaya mengembalikan kondisi rumah seperti sebelum banjir menerjang.
Ada kelegaan dalam hati Salmah. Kendati banjir menerjang kampungnya di Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Senin sore hingga malam, nyawanya selamat. Lebih kurang sejam Salmah bersama menantunya, Sumardi (22); kedua putrinya, Siti (21) dan Nurul (11); serta cucunya yang berusia setahun empat bulan terjebak air berketinggian setinggi dada orang dewasa.
”Mau keluar sudah enggak bisa. Dua pintu sudah susah digeser karena air sudah penuh di dalam rumah,” tutur Salmah.
Suaminya, Ahmad Adun (54), sedang tak berada di rumah, petang itu. Ia bekerja sebagai petugas keamanan di Bogor Baru. Siti terpaksa naik ke atas lemari sambil menjunjung bayinya agar tak terkena air bercampur lumpur. Posisi rumahnya memang cukup riskan, di bantaran Kali Cibuluh yang berkelok persis di samping rumahnya. Jadi, separuh rumahnya ”terkepung”
Pagi hari sebelum banjir besar, di kali itu mengalir air tak terlalu besar dengan ketinggian tak sampai 1 meter dari dasarnya dengan lebar 2-3 meter. Namun, saat hujan deras, Senin sore hingga malam, air naik hingga 1 meter di atas permukiman warga. Padahal, jarak dari dasar kali hingga permukiman warga berkisar 3-4 meter. Namun, air itu cepat datang, cepat pula berlalu, berkisar 1-2 jam saja. Hari Selasa siang, kondisinya sudah kembali normal seperti biasa.
”Dulu sudah pernah juga banjir, tetapi tidak separah ini. Kira-kira lima tahun lalu,” tutur Makmur (52), Ketua RT 2 RW 1 Tegallega.
Menurut dia, di RT 2 yang dihuni 805 jiwa ada 41 rumah yang terendam air. Sementara tujuh rumah rusak berat, sedang, dan ringan. Sebagian warganya menghuni bantaran Kali Cibuluh, yang sebagian alirannya mengalir ke Sungai Ciliwung. Mereka menempati kawasan ini bertahun-tahun.
”Mau pindah juga ke mana. Sudah warisan orangtua di sini. Paling-paling harus lebih waswas kalau hujan,” kata Salmah.
Data dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Bogor, banjir tidak hanya terjadi di Tegallega, tetapi juga di beberapa titik, seperti Tegalgundil, Baranangsiang, Katulampa, dan Empang.
”Data pasti rumah terendam belum ada. Namun, kami sudah menurunkan logistik darurat, seperti mi instan, sarden, beras, dan sarung ke korban-korban,” tutur Kepala Bidang Pelayanan Sosial Krishna Sudiarto.
Empat hari terakhir, sore menjelang petang, hujan deras mengguyur sebagian kawasan Bogor, hanya beberapa pekan setelah sebagian warga Bogor ”menjerit” kekurangan air. Di Kabupaten Bogor, misalnya, ada 56 kelurahan di Kecamatan Caringin, Sukaraja, Mega Mendung, Cariu, Jonggol, Parung Panjang, dan Tenjo harus mendapat kiriman air bersih.
”Sejak 10 September sudah ada kiriman air 196.000 liter ke sana. Saat ini daerah yang masih kekeringan karena belum hujan di Jonggol dan Cariu,” tutur Budi Aksomo, Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Pemerintah Kabupaten Bogor.
Menurut Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung Kota Bogor Hapsoro, kondisi ekstrem kekeringan dan banjir tidak terlepas dari buruknya kualitas tangkapan air. Pohon-pohon mulai habis berganti permukiman maupun vila. Akibatnya, air saat hujan yang seharusnya diserap pohon dan masuk ke dalam tanah dan menjadi ”tabungan” air saat kemarau justru menjadi luncuran air permukaan yang berpotensi menyebabkan banjir.
Data Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor, di Jabodetabek menunjukkan kecenderungan perluasan daerah yang terkena banjir, yakni tahun 2000 sebanyak 102 desa atau sekitar 6 persen menjadi 644 desa atau 37,88 persen tahun 2008.
Hal itu tidak terlepas dari konversi lahan. Dari tahun 1972-2005, di Jabodetabek, 40.564 hektar hutan dan 180.199 hektar ruang terbuka hijau
Menurut Hapsoro, potensi banjir itu menjadi lebih berbahaya karena masyarakat juga menghuni bantaran sungai dan anak sungai yang ada. Jadi, selama kualitas lingkungan terus menurun, tidak ada jaminan Bogor bebas dari banjir. Apalagi, kini musim hujan sudah mulai mengintip.
Dari tahun ke tahun wilayah Depok mengalami penurunan daya dukung lingkungan. Pada saat kemarau, di sebagian wilayah mengalami krisis air tanah karena ditandai dengan penyusutan air sumur warga. Di sisi lain, setelah sepekan terguyur hujan, warga Depok kembali menghadapi persoalan ancaman banjir karena minimnya resapan air.
Kerusakan lingkungan Depok sudah tergambar dari pergantian musim tahun ini. ”Krisis air tanah dan ancaman banjir harus dihadapi serius. Terjadi ketidakseimbangan daya dukung lingkungan dengan daya tampung warga di Depok. Karena itu, kajian lingkungan hidup strategis yang sedang dibuat harus segera diselesaikan,” tutur Kepala Badan Lingkungan Hidup Depok Rahmat Subagyo.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Yayan Arianto mengatakan, penurunan kedalaman air tanah terjadi di wilayah tengah dan timur. Di dua wilayah ini terjadi pertumbuhan bangunan yang luar biasa sejak Depok memisahkan diri dari Bogor tahun 1996. Menurut catatan Yayan, kedalaman air tanah di wilayah ini bisa lebih dari 25 meter.