Abbas Didesak Batalkan Niat

Kompas.com - 22/09/2011, 01:35 WIB

New York, Kompas - Presiden AS Barack Obama akan bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas di New York, AS, Rabu (21/9) petang atau Kamis pagi WIB. Obama akan membujuk Abbas mengurungkan niat menyampaikan proposal demi keanggotaan Palestina di PBB. AS mendesak Palestina mendahulukan perundingan dengan Israel. A Joice Tauris Santi

”Hari Rabu sekitar pukul 18.00, Obama melakukan pertemuan bilateral dengan Abbas,” kata Ben Rhodes, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih. Sebelumnya, Obama diagendakan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Rhodes mengatakan, ”Presiden memutuskan melakukan pembicaraan langsung karena kami percaya langkah Abbas di PBB bukan sebuah cara yang baik untuk mewujudkan negara Palestina.”

Pertemuan Obama dan Abbas itu terkait dengan proposal Palestina yang ingin menjadi anggota PBB. Rhodes mengatakan, Obama ingin sekali lagi membujuk Abbas agar membatalkan proposal keanggotaan Palestina di PBB. AS mendesak Palestina agar lebih dahulu membuka pintu perundingan dengan Israel yang terhenti sejak 2010.

Pembicaraan terakhir antara Israel dan Palestina macet setahun lalu. Ini karena Israel menolak perpanjangan moratorium soal pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Dengan alasan perundingan Palestina-Israel tidak dijalankan, AS sering menentang rencana Palestina ke PBB itu. AS bahkan mengancam akan menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB jika Abbas tetap kukuh mengajukan usulan ke dalam Sidang Umum PBB di New York, Jumat besok.

Obama lebih mendukung pandangan Netanyahu yang menginginkan pembicaraan langsung Palestina-Israel sebagai jalan menuju perdamaian. Namun, sejauh ini, AS, Eropa, Rusia, dan PBB belum merumuskan upaya untuk melanjutkan lagi pembicaraan damai yang sudah terhenti.

Permohonan resmi Palestina akan diserahkan setelah Abbas menyampaikan pidato pada Sidang Umum PBB. Abbas telah menyampaikan permintaan tertulis kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.

Akan tetapi, AS tetap tidak berkenan dengan upaya ini. ”Kepada pemimpin Israel dan Palestina, Obama akan menyatakan langsung alasan di balik sikap AS, yang menilai upaya Palestina melalui PBB bukan jalan terbaik untuk mewujudkan negara Palestina,” kata Rhodes.

AS, Eropa, Rusia, dan PBB merupakan kuartet yang akan menawarkan jalur pembicaraan damai bagi Palestina dan Israel. Kuartet memberi kedua negara tenggat satu tahun untuk mencapai konsensus yang berpedoman pada pandangan Obama. Pandangan Obama ini terkait dengan perbatasan Israel-Palestina sebelum tahun 1967 dengan persetujuan pertukaran lahan, yang garis perbatasannya sudah semakin jauh dari jelas.

Sama dengan menjual

Obama mendorong ide ”dua negara untuk dua rakyat, Yahudi dan Palestina”. Netanyahu dan Abbas juga sebenarnya siap melakukan kembali pembicaraan langsung. Namun, Abbas bersikeras menyampaikan usulan kepada Majelis Umum PBB agar Palestina menjadi anggota penuh PBB.

Abbas sudah skeptis dengan perundingan. ”Negosiasi yang tidak maju selama 20 tahun sudah lebih dari cukup. Dunia harus turun tangan dan menghentikan pendudukan Israel karena AS tidak bisa lagi mencegah hal itu,” kata juru bicara Abbas, Mohamed Ishtayeh.

Bukan rahasia umum lagi bahwa AS memang sulit menekan Israel. Palestina sudah tidak lagi bisa berharap penuh kepada AS, yang secara empiris selalu cenderung berpihak kepada Israel.

Lepas dari itu, baik AS maupun Palestina sedang giat melobi para pemimpin dunia untuk memuluskan rencana masing-masing. Abbas pada Selasa melakukan pertemuan dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Presiden Lebanon Michel Suleiman. Dia menggalang dukungan menjelang pidatonya di depan Sidang Umum PBB.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki juga mengatakan, Palestina berhak merdeka seperti negara-negara lain di dunia. Dia mengatakan, hal itu harus dilakukan agar rakyat Palestina dapat hidup mandiri dan jauh dari tekanan Israel yang selama ini kerap memperluas areal kompleks permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Dari sisi AS, lobi dilakukan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dengan mendekati sekutu Barat. Hillary mengatakan kepada beberapa koleganya bahwa masih ada waktu menghalangi rencana Abbas. Menurut dia, satu-satunya cara mewujudkan ”solusi dua negara” adalah melalui negosiasi atau perundingan damai.

AS menilai upaya Abbas itu akan mempertajam ketegangan Israel-Palestina. Oleh karena itu, upaya pintas Palestina ke PBB harus dicegah. ”Tak ada jalan pintas menuju perdamaian,” kata Rhodes.

Sebaliknya, Palestina menyatakan, upaya meminta pengakuan PBB itu justru untuk membuka pintu bagi pembicaraan damai babak baru yang sederajat di antara kedua pihak. Kesederajatan tersebut tentu saja akan terjadi jika Palestina telah menjadi negara merdeka yang setara dengan Israel.

Namun, kubu Hamas, yang berkuasa di Jalur Gaza, berharap upaya Palestina di PBB tidak terwujud. ”Jika Abu Mazen (Mahmoud Abbas) gagal, Hamas akan menjadi lebih kuat. Pengajuan keanggotaan merupakan langkah terakhir Abbas karena hal ini akan mengakhiri negosiasi damai dengan Israel. Inilah situasi yang diinginkan Hamas,” ujar peneliti Akram Atallah, Rabu.

Bagi Hamas, tindakan Abbas untuk mendirikan negara yang berdampingan dengan Israel, dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota, sama saja dengan menjual Palestina. Masalahnya, Hamas selalu menolak mengakui Israel sebagai sebuah negara dan berniat menciptakan negara Islam berdasarkan sejarah Palestina. Hamas selalu mengambil garis keras dalam menghadapi Israel. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau