Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan sejak bulan Agustus hingga hari ini memang mengagetkan. Pada akhir 2010, indeks ditutup pada kisaran 3.700, menembus angka 4.100 pada Juli 2011, kemudian merosot tajam lagi pada bulan Agustus, bahkan sempat turun jauh hingga 3.700, seperti posisi pada akhir tahun.
Lebih hebat lagi, hampir setiap hari indeks naik-turun dalam persentase yang besar. Investor asing konon melakukan penjualan sebesar Rp 30 triliun pada bulan Agustus saja dan bulan September ini juga tetap melakukan penjualan. Kemudian, untuk pertama kali sepanjang tahun 2011, nilai rupiah anjlok mencapai Rp 8.900 per dollar AS. Selain itu, harga surat utang negara juga merosot. Apa sebabnya?
Sebenarnya tidak ada yang mengkhawatirkan tentang kondisi ekonomi Indonesia. Mulai dari indikator ekonomi utama, seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, laju inflasi, dan pergerakan tingkat bunga, semuanya menunjukkan angka yang baik-baik saja. Di sisi pertumbuhan ekonomi, tampak bahwa belanja konsumtif masyarakat terus meningkat. Ini menunjukkan adanya daya beli di kalangan masyarakat.
Nilai tukar rupiah sampai dengan Agustus lalu tetap stabil. Suku bunga nyaris tidak bergerak. Artinya, ada stabilitas di pasar. Lantas, kenapa pasar modal mengalami turbulensi? Sederhana saja. Pergerakan harga saham di pasar modal hakikatnya dipicu oleh dua faktor, yakni faktor fundamental dan faktor sentimen. Nah, gonjang-ganjing pasar saham dalam beberapa bulan terakhir lebih disebabkan oleh faktor kedua, yakni sentimen. Bagaimana maksudnya?
Investor di pasar modal terdiri dari investor asing dan investor domestik. Perilaku investor domestik biasanya mengacu pada perilaku investor asing. Nah, perilaku investor asing tentu saja bergantung dari persepsinya tentang kondisi ekonomi. Dan, kita tahu bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini, kondisi ekonomi di Eropa serta Amerika Serikat masih dibayangi ketidakpastian.
Ekonomi Eropa didera persepsi negatif karena beberapa negara di benua itu menanggung utang yang luar biasa dan dikhawatirkan gagal bayar, misalnya utang dari negara-negara seperti Yunani, Portugal, Spanyol, bahkan Italia. Ketidakmampuan negara-negara tersebut membayar utang tentu akan berdampak negatif terhadap negara kreditor dan pada gilirannya akan memberikan efek domino bagi negara-negara di belahan dunia lain, termasuk Asia.
Demikian juga dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat yang belum membaik. Pertumbuhan ekonomi melambat, tingkat pengangguran tinggi, dan seabrek persoalan lain yang kemudian dikhawatirkan bisa mengarah pada resesi. Jika ini terjadi, pergerakan ekonomi dunia, termasuk negara eksportir, akan terganggu. Nah, hal-hal seperti itulah yang memengaruhi persepsi investor asing, sehingga untuk mengamankan investasi, mereka melepas saham, termasuk di pasar modal Indonesia. Namun, apakah persepsi itu akan sesuai dengan kenyataan? Belum tentu.
Sebagian investor memersepsikan bahwa krisis ekonomi tahun 2008 akan berulang lagi tahun 2011 dengan pemicu utang Eropa. Ini jelas kurang relevan. Kenapa? Karena krisis keuangan tahun 2008 disebabkan oleh utang swasta atau korporasi yang membengkak dan kemudian gagal bayar. Utang tersebut menimbulkan efek domino dan merambah ke negara Asia.
Situasi sekarang berbeda. Utang yang terjadi adalah milik pemerintah, bukan swasta. Kemudian, kondisi ekonomi negara-negara Asia, khususnya Indonesia, berbeda dengan tahun 2008. Saat ini, cadangan devisa negara mencapai Rp 125 miliar dollar AS. Angka tertinggi sepanjang sejarah. Lebih dari itu, kecil kemungkinan Uni Eropa akan membiarkan negara-negara anggotanya menjadi bangkrut. Sebab, implikasi negatifnya juga akan menerpa negara kuat, seperti Jerman dan Perancis.
Ringkasnya, kekhawatiran investor mengenai kebangkrutan negara-negara Eropa lebih berupa persepsi. Dan, itu sebabnya, kemudian, ketika ada pernyataan dari petinggi negara-negara maju untuk mem-bail out utang negara yang terlilit krisis, investor kembali masuk ke pasar modal, baik itu di AS, Eropa, maupun Asia.
Nah, dengan realitas seperti itu, semestinya bagaimana menyikapi gonjang-ganjing saham belakangan ini? Keberhasilan dalam berinvestasi saham hakikatnya merupakan keberhasilan menyeimbangkan rasa takut dan keserakahan. Apa artinya?
Jika Anda merupakan investor jangka panjang, dalam arti membeli saham untuk dipegang dalam kurun waktu yang lama, bisa setahun atau dua tahun, sebenarnya tidak ada yang perlu diresahkan. Anda boleh saja memborong saham-saham yang berfundamental bagus ketika harganya di bawah nilai wajar. Potensi keuntungannya akan sangat besar pada masa mendatang.
Akan tetapi, jika Anda investor saham jangka pendek, apalagi bermain saham untuk mencari untung dari perdagangan harian dan lebih dari itu, tidak menggunakan dana untuk investasi yang berasal dari kantong sendiri, sebaiknya Anda bersikap wait and see. Sebab, situasi pasar yang diselimuti faktor sentimen sangat sulit diprediksi. Kecuali Anda termasuk gemar meningkatkan adrenalin dengan risiko kerugian besar.
Kesimpulannya, naik-turun harga saham merupakan hal biasa. Memang ada siklusnya, baik karena faktor fundamental maupun persepsi investor. Yang penting, Anda bukan investor ikut-ikutan yang gampang dipengaruhi investor asing, melainkan investor yang bertransaksi berdasarkan tujuan investasi pribadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang