Bom meledak di solo

Termasuk Upaya Makar terhadap NKRI

Kompas.com - 25/09/2011, 19:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepuluh (GBIS), Kepunton Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9/2011), dinilai sebagai upaya makar terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kekejian itu memprovokasi munculnya gangguan terhadap kondisi keberagamaan bangsa kita.  

Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Noer Fajrieansyah, dalam rilisnya yang diterima Kompas, Minggu sore.

"Bom bunuh diri itu kami anggap sebagai upaya makar terhadap keutuhan NKRI dengan memprovokasi kondisi keberagamaan kita," katanya.  

Karena itu, lanjut Noer, PB HMI mendesak Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), untuk segera tanggap dan cekatan mengusut tuntas persoalan kebangsaan ini.

Seluruh umat beragama di Indonesia diharapkan tidak terprovokasi dengan bom tersebut.  

Menurut Noer Fajrieansyah, persoalan yang mencuat terkait konflik keagamaan tidak bisa dilihat secara sederhana. Estafet persoalan politik disertai sahut-menyahut konflik keagamaan di berbagai daerah, tentu menjadi hal yang tidak bisa dilihat terpisah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau