ENDE, KOMPAS.com - Sebanyak 25 rumah warga Desa Raporendu, yang terletak di pesisir selatan Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, terancam rusak akibat abrasi.
Para pemilik rumah resah, karena empasan air laut saat pasang naik makin dekat dengan permukiman warga, yakni hanya berkisar 10 - 20 meter. Di sejumah rumah bahkan kikisan abrasi ada yang hanya menyisakan tanah, dengan jarak satu meter dari bagian belakang rumah mereka. Sejumlah dapur dan kandang ternak juga sudah ada yang rusak.
Dari pengamatan di lapangan, Minggu (25/9/2011), sejumlah pohon waru yang berfungsi sebagai tanaman penahan gelombang laut pun banyak yang roboh. Warga setempat mengkhawatirkan kerusakan parah akan melanda rumah mereka, terutama jika pondasi rumah mereka hancur tergerus akibat abrasi pantai.
Ketinggian tanah pondasi rumah penduduk setempat sekitar 2 meter saja dari pantai. Sementara Desa Raporendu terletak 20 kilometer (km) sebelah barat dari kota Ende.
"Dapur saya sudah roboh diterjang gelombang," kata Nyonya Nur Jaenab (31), warga Desa Raporendu.
Karim, warga Raporendu yang lain mengungkapkan, akibat abrasi kandang kambing miliknya rusak.
Ancaman abrasi di Raporendu makin mengkhawatirkan pasca kejadian tanggal 25 Agustus 2011 lalu . Sejak itu sampai saat ini hempasan gelombang laut kian dekat dengan permu kiman penduduk. Diperkirakan hal ini pengaruh cuaca ekstrem.
Sebelumnya saat pasang naik gelombang laut tak sedekat ini. Yang berbahaya, tiap tahun air laut naik (makin dekat ke darat), sehingga di daerah ini perlu dibangun semacam penahan gelombang, kata Mohamad Ali, warga Raporendu yang lain.
Secara terpisah K epala Desa Raporendu Hasan Ebas mengatakan, sebelum permukiman berkembang di daerah itu, di kawasan pesisir banyak ditumbuhi tanaman bakau, akan tetapi sekarang sudah punah.
Diperkirakan di masa kolonial Belanda bakau di sini sangat subur, tapi seiring dengan perkembangan permukiman saat ini tanaman bakau tidak ada lagi, kata Hasan.
Hasan telah melaporkan ancaman bahaya abrasi itu ke Pemerintah Kabupaten Ende, maupun DPR D Ende tanggal 17 September 2011 lalu.
Hasan mengusulkan, sebanyak 25 keluarga perlu direlokasi ke daerah yang lebih tinggi di perbukitan dengan dana stimulan Rp 10 juta per rumah. Selain itu perlu dibangun bronjong atau Pemkab Ende dapat membantu memberikan semen pada masyarakat supaya mereka membangun tembok pengaman abrasi sepanjang 1.200 meter.
Relokasi perlu dilakukan, dan masyarakat me miliki tanah di tempat lain, mereka pun mau direlokasi, asal biaya untuk pembangunan rumah baru dapat dibantu oleh pemerintah, kata Hasan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende Frans Hapri ketika dikonfirmasi menjelaskan, usulan pembangunan tembok pengaman abrasi di Raporendu akan diusulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Dengan panjang tembok pengaman 1.200 meter, maka diperkirakan biayanya Rp 1,2 miliar. Prosedurnya mesti dibuat proposal diajukan ke BNPB dengan disertai surat pernyataan terjadi bencana oleh bupati, dan rekomendasi dari gubernur, kata Frans Hapri.
Menurut Frans, untuk tahun 2010, BNPB telah membantu dana pembangunan tanggul penahan abrasi yang berwawasan lingkungan di Ende sebesar Rp 2,8 miliar untuk Kecamatan Ndori, maupun Kampung Rate, Kecamata n Ende Selatan sebesar Rp 1,4 miliar.
Soal relokasi dapat pula diusulkan ke BNPB, tapi sya ratnya masyarakat setempat yang menyediakan tanah dan material lokal. Pemerintah akan membantu material non lokal. Masyarakat juga mesti memberikan surat pernyataan bersedia direlokasi, sehingga bantuan yang diberikan tidak sia-sia, program relokasi benar-benar ber jalan sebagaimana mestinya, ujar Frans.(SEM)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang