Terorisme

Pelaku Mengintai sejak Sehari Sebelumnya

Kompas.com - 26/09/2011, 02:59 WIB

Tragedi bom bunuh diri yang mengguncang Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9) pagi, menorehkan luka. Tidak hanya fisik, tetapi peristiwa itu menyisakan trauma dan tanda tanya besar di kalangan masyarakat, apa sebenarnya motif pelaku bom bunuh diri itu?

Dari beberapa informasi yang diperoleh, pelaku sudah mondar-mandir di sekitar gereja itu sejak sehari sebelumnya. Bahkan, ada saksi yang menguatkan bahwa pakaian yang dikenakan pelaku pun masih sama seperti yang dipakai, Sabtu sore, saat mengintai lokasi tersebut. Saat itu, pelaku bom bunuh diri tersebut sempat makan di warung nasi. Ia juga menggunakan internet di sebuah warung internet, tak jauh dari tempat kejadian sesaat sebelum masuk ke gereja tersebut.

Dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.55, pelaku tewas di tempat kejadian. Sebanyak 22 anggota jemaat gereja yang beralamat di Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, terluka.

Peristiwa yang terjadi seusai ibadah yang dipimpin Pendeta Sigit Purbandoro itu mengejutkan ribuan anggota jemaat. Ibadah diikuti 5.000-6.000 orang.

Menurut Yuliati (78), salah seorang anggota jemaat, ledakan bom terjadi sesaat setelah jemaat akan meninggalkan ruang gereja. Saat beberapa jemaat sampai di depan pintu masuk, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang sangat keras. Banyak orang kemudian menjerit dan menangis.

”Setelah bunyi ledakan, semua hitam. Lengan dan kepala saya terasa nyeri. Saya pun mencoba melepaskan sekrup-sekrup yang menancap di lengan kiri saya,” kata Yuliati saat ditemui di Rumah Sakit Dr Oen, Solo.

Kendati terluka, warga Kelurahan Gading, Kecamatan Pasar Kliwon, ini masih bisa berjalan sampai pintu gerbang sebelum akhirnya terjatuh. Yuliati harus menjalani operasi untuk mengeluarkan sekrup yang masih menancap di kepala bagian kiri atas. ”Tadi jantung saya berdegup kencang sekali. Sekarang sudah tenang. Saya jadi trauma dan takut pergi ke gereja, takut kalau terjadi lagi. Kelihatannya damai-damai saja, kok tiba-tiba ada seperti ini,” tuturnya.

Nana, keponakan Yuliati, yang waktu kejadian berlangsung masih berada di dalam gedung gereja, sudah menduga, Yuliati dan ibunya, Febe (57), pasti terkena ledakan karena mereka sudah keluar lebih dulu. Ia pun berlari ke luar gedung gereja dan ternyata ibu dan bibinya sudah dilarikan ke rumah sakit.

Patah tulang

Akibat bom bunuh diri itu, seorang pelajar SMA Widya Wacana, Olivia Putri (16), juga mengalami patah tulang di bagian kaki kanannya dan harus menjalani operasi.

”Saya cuma ingin cepat sembuh, dan jangan ada lagi bom yang terjadi,” kata Olivia, warga Purwodoningratan, Kecamatan Jebres.

Menurut Olivia, saat bom meledak, ia berada tepat dekat pintu keluar. Tiba-tiba kakinya sakit. Remaja ini mengaku tak lihat pelaku dalam gereja. Ia hanya melihat saat pelaku sudah jatuh dan tewas di tempat.

Anggota jemaat lain yang terkena bom, Gan Sin Gwan (52), mengatakan, ketika sedang mengeluarkan sepeda motornya, ledakan terjadi. ”Saya waktu itu sudah pakai helm. Setelah ledakan keras terjadi, helm terlepas dari kepala saya dan dada saya terkena lempengan logam,” ujarnya.

Saat itu dia hanya berjarak tidak sampai 5 meter dari pelaku. Lempengan logam itu menancap di dada kanannya, tepat di bawah pundak.

Menurut informasi Kepala Sekolah Minggu GBIS Kepunton Julianto, berdasarkan rekaman CCTV yang dimiliki gereja, orang yang diduga pelaku masuk dari pintu samping barat laut, lalu berjalan ke tengah agak ke depan.

”Ia kemudian keluar dari pintu utara, masuk kembali, lalu keluar lagi. Sampai di pintu keluar, bom meledak. Waktu di CCTV menunjukkan pukul 10.53. Waktu ia masuk dan mondar-mandir kira-kira 5 menit. Pria ini mengenakan kacamata, topi hitam, kaus, dan rompi,” kata Julianto.

Pemilik warung internet Solonet, Sunu Prasetya, mengungkapkan, seorang pria yang mirip pelaku sempat mengakses internet di tempatnya, yang hanya berjarak 200 meter dari GBIS Kepunton.

Menurut catatan waktu penggunaan warnet, pria itu atas nama Oki menggunakan akses internet Minggu pagi mulai pukul 08.37 hingga pukul 09.28. Pria itu lantas keluar warnet dan kembali pukul 10.43-10.56. Namun, cacatan waktu yang tertera lebih cepat 24 menit dari seharusnya.

”Ia menyewa di bilik nomor sembilan. Ia membawa tas ranselnya dan masuk kamar mandi. Setelah itu, menitipkan tas kepada petugas counter,” kata Sunu.

Petugas satpam GBIS Kepunton, Suharto, mengakui sudah melihat pria terduga pelaku mondar-mandir di sekitar gereja sebelum ibadah dimulai.

Kehadiran pelaku bom diri di sekitar tempat kejadian diperkuat pemilik warung nasi, di sebelah timur gereja yang berjarak 300 meter. Pemilik warung, Prapti, mengatakan, pria yang mengaku dari Tasikmalaya itu sempat menanyakan lokasi salah satu gereja di Solo.

”Baju yang dikenakan pelaku saat tewas sama dengan pakaian yang dikenakan sehari sebelumnya saat masuk warung makan itu,” ujar Ketua Badan Antargereja Kristen Solo Pendeta Anthon Karundeng mengutip kesaksian pemilik warung di dekat GBIS. (Sri Rejeki/Amanda Putri)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau