Identifikasi jenazah

Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Tinggalkan RS Polri

Kompas.com - 26/09/2011, 16:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kedatangan keluarga terduga pelaku bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah, masih simpang siur. Belasan wartawan tampak masih menanti kedatangan keluarga jenazah yang diduga buron dalam pengeboman di Mapolres Cirebon beberapa waktu lalu.

Namun, sekitar pukul 14.10, Senin (26/9/2011), tampak seorang wanita berkerudung merah muda, berbusana muslim berwarna biru cerah, keluar dari kamar jenazah RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Jenazah terduga pelaku bom sudah dibawa ke rumah sakit ini untuk dilakukan proses identifikasi.

Kemunculan wanita ini sempat menimbulkan kecurigaan para wartawan di lokasi. Pasalnya, wanita itu keluar tidak dari pintu depan, melainkan melalui pintu belakang dan menghindar dari wartawan. Ia berjalan bersama beberapa pria tegap melalui samping gedung ruang rawat tahanan dan bejalan tergesa-gesa memasuki mobil Innova warna hitam berplat nomor H.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com, wanita ini menggendong seorang anak perempuan. Di dalam mobil, tampak beberapa orang lain yang memakai batik dan seorang sopir. Seusai wanita dan anak perempuan itu memasuki mobil, seorang pria yang sedari tadi ada di sekitar kamar jenazah pun turut masuk. Mobil kemudian melaju meninggalkan lokasi kamar mayat dengan didampingi sebuah mobil Innova berwarna hitam di depannya.

Keluarga pelaku

Salah seorang penyidik yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa wanita dan anak itu adalah keluarga dari jenazah yang diduga pelaku bom bunuh diri di Solo.

"Itu keluarganya. Tadi mereka datang. Anak, istri, dan orang tuanya. Sekarang sudah selesai," ujarnya.

Namun, ia tidak menjelaskan apa yang dilakukan keluarga itu di dalam kamar jenazah.

"Saya hanya bisa pastikan A1 itu adalah dia," ucapnya.

Ketika ditegaskan maksud kata "dia" dalam pernyataannya, penyidik itu pun mengungkapkan bahwa "dia" yang dimaksud adalah Ahmad.

"Ya, dia itu seperti yang sudah diduga. Ahmad. Tadi mereka datang sejam yang lalu," tambahnya.

Sebelumnya, beredar informasi bahwa pelaku bom bunuh diri mirip buron bom Cirebon bernama Ahmad Yosepa Hayat. Namun, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian terkait dugaan ini.

Secara terpisah, Humas RS Polri Sukanto, Komisaris Besar Sarwoto, mengatakan pihaknya belum mengetahui soal perkembangan identifikasi jenazah tersebut.

"Belum. Kami belum dapat perkembangannya. Saya enggak tahu kalau soal ini," kata Sarwoto.

Sementara itu, Kepala RS Polri Sukanto Brigadir Jenderal Budi Siswanto dan Wakil Kepala RS Polri Sukanto Komisaris Besar Edi Raharja hingga kini juga tidak menjawab panggilan telepon.

Sebelumnya, Polri meminta agar masyarakat bersabar menunggu kepastian siapa jenazah pria yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri tersebut. Polri akan mengumumkannya setelah proses identifikasi selesai dilakukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau