Narkotika

Polisi Sita Ganja 1,5 Ton

Kompas.com - 26/09/2011, 21:48 WIB

SUKABUMI, KOMPAS.com — Polres Sukabumi menemukan  ganja kering seberat 1,529 ton di dalam truk di Kampung Cisarua, Desa Bojongasih, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Namun, polisi belum menemukan pemiliknya.

Kepala Satuan Narkoba Polres Sukabumi Ajun Komisaris Somantri, Senin (26/9/2011), menyatakan, seluruh ganja kering dalam truk itu dikemas rapi ke dalam karung yang berjumlah 35 buah.

”Dari keterangan sementara yang kami kumpulkan, ada empat orang yang kemungkinan bertanggung jawab atas ganja tersebut, kata Somantri, Senin, di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Somantri menambahkan, polisi belum bisa menangkap mereka. Sejauh ini pihaknya baru mengetahui identitas satu dari empat orang itu. Kini barang bukti diamankan di Polres Sukabumi.

Ganja dalam jumlah banyak itu ditemukan polisi pada Minggu (25/9/2011) dini hari setelah menerima laporan Hengki (63) ke Polsek Parakansalak. Hengki adalah pemilik villa di Kampung Cisarua yang disewa oleh lima orang yang membawa truk tersebut pada Sabtu sekitar pukul 23.00.

Ganja itu disimpan dalam bak truk jenis Mitsubishi Fuso bernomor polisi BE 9202 CB. Menurut Hengki, truk itu bermuatan buah kelapa. Namun, ia curiga karena penyewa villa itu tidak memperbolehkan ia melihat ke dalam truk.

Ia juga diminta untuk tidak tidur di rumah untuk sementara waktu oleh mereka. Dari kecurigaan itulah ia lalu melapor ke polisi.

Setelah diperiksa pada Minggu dini hari, ternyata berkarung-karung ganja siap edar yang dikemas masing-masing seberat sekitar 1 kilogram disimpan di bawah tumpukan kelapa. Selain itu, polisi juga membawa mobil jenis Avanza berwarna merah bernomor polisi F 1711 UI yang diduga milik pembawa ganja.  

Produksi

Di tempat terpisah, Ketua Badan Narkotika Provinsi Jabar Dede Yusuf mengatakan, penangkapan ganja seberat 1,5 ton tersebut membuktikan bahwa Jabar saat ini telah menjadi daerah untuk memproduksi narkotika.

Kiriman bahan narkotika datang dari luar (Jabar) lalu diolah di sini, untuk kemudian dipasarkan menuju Jakarta, kata Dede yang kemarin mencanangkan Kelurahan Subang Jaya di Kota Sukabumi sebagai Kelurahan Siaga Narkotika.

Menurut Dede, wilayah Jabar strategis sebagai sarang pembuatan narkotika karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Jakarta, provinsi dengan jumlah pengguna narkotika terbanyak se-Indonesia.

Selain itu, banyak tempat yang cenderng terisolasi dari masyarakat, seperti area perbukitan. Di lokasi seperti ini, biasanya aktivitas perdagangan dan produksi narkotika tidak terdeteksi, lanjut Dede.

Untuk menangkal hal tersebut, Dede meminta masyarakat untuk selalu waspada di lingkungannya. Para ketua rukun tetangga diminta untuk mengamati secara cermat aktivitas warganya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau