Moskwa, Senin -
Akhir pekan lalu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengumumkan, Putin, yang sekarang menjabat perdana menteri, akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden tahun 2012. Adapun Medvedev, yang sebelum menjadi presiden adalah deputi PM, akan menempati pos PM.
Awalnya, pengumuman ini tidak menimbulkan gejolak dan aksi protes. Namun, Menteri Keuangan Alexei Kudrin mengejutkan banyak pihak dengan mengatakan tak mau meneruskan tugas yang diembannya 11 tahun terakhir jika Medvedev menjadi PM.
Sikap Kudrin disusul Gorbachev, yang menyuarakan keprihatinan kaum liberal bahwa Rusia saat ini menghadapi ”jalan buntu”. Peraih Nobel Perdamaian 1990 ini meragukan Putin— Presiden Rusia selama dua periode tahun 2000-2008—adalah orang yang tepat untuk membuat perubahan.
”Dia akan bertanggung jawab jika presiden mendatang tidak bisa mengubah keadaan, hanya berpikir soal mempertahankan kekuasaan, dan tetap mempertahankan tim yang lama, yang akan disalahkan untuk semua yang terjadi,” kata Gorbachev.
Ia menyampaikan pandangannya dalam tulisan di harian oposisi, Novaya Gazeta, yang sebagian sahamnya dimiliki mantan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet tersebut. ”Kita anggap tak ada kemajuan jika tak ada perubahan serius sepanjang tak ada perubahan sistem,” tulisnya.
”Tanpa perubahan itu, kita akan kehilangan enam tahun. Presiden mendatang harus memikirkan hal ini dengan serius,” tulisnya lagi.
Mandat presiden kini diperpanjang dari empat tahun menjadi enam tahun untuk tiap periode. Secara teoretis, Putin bisa menjadi presiden untuk dua periode berikut hingga tahun 2024. Saat itu dia akan berusia 72 tahun dan akan menjadi pemimpin Rusia terlama sejak era Joseph Stalin.
Harian Novaya Gazeta dengan berani memasang karikatur di halaman depan yang menggambarkan Putin, Medvedev, dan para pejabat tinggi Rusia lainnya sebagai sederetan orang tua dengan jas mereka dipenuhi medali dan simbol kepangkatan.
Sejauh ini, Kudrin menjadi penentang terkuat skema pemerintahan yang disiapkan duet Putin-Medvedev, yang seperti langkah catur menukar posisi presiden dan PM. Kudrin mengatakan memiliki banyak perbedaan dengan Medvedev, yang dituduhnya menggelembungkan pengeluaran pemerintah—terutama untuk militer—dan mengacaukan anggaran negara.
Namun, harian Kommersant menduga ada hal lain yang melatarbelakangi penolakan Kudrin, menteri keuangan yang menjabat paling lama dibandingkan dengan negara-negara anggota G-8 lainnya. ”Kudrin berambisi memimpin Partai Liberal sayap kanan, dan punya prospek yang bagus. Mereka (pemerintahan Putin) tidak membiarkannya dan menjanjikan Kudrin sebagai PM tahun 2012. Namun, sekarang kita tahu siapa yang akan menjadi PM,” tulis harian itu.
Media Rusia yang liberal bersikap sinis terhadap rencana Putin-Medvedev. Harian Vedomosti yang berwibawa menulis, perubahan di Rusia hanya akan terjadi jika ada protes jalanan seperti yang berlangsung belakangan ini di dunia Arab.
”Pertukaran jabatan Putin dan Medvedev tak memberi petunjuk ada kesiapan untuk menyelesaikan masalah jangka panjang Rusia,” tulis harian itu.