Hayat Dikenal Keras dalam Ajaran Agama

Kompas.com - 27/09/2011, 20:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pino Damayanto alias Ahmad Urip alias Hayat (30) yang tewas dalam aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Solo, Jawa Tengah, dikenal sebagai sosok yang pendiam, namun berpendirian keras. Hayat juga dikenal sebagai sosok yang taat dalam beribadah.

Hal ini disampaikan oleh paman Hayat, Imran Masoi, saat mendatangi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Selasa (27/9/2011). "Sebenarnya dia itu orang yang pendiam, tidak banyak tingkah. Namun, kalau soal agama dia itu sangat idealis. Kami melihatnya itu bagus saja, enggak ngerti kalau sampai dia jadi teroris," kata Imran.

Imran menuturkan, Hayat juga dikenal sangat membenci anggota keluarganya yang tidak taat menjalankan ibadah. "Dia gimana gitu sama keluarga kami yang suka enggak sholat. Dia keras kalau soal itu," ujar Imran.

Imran menilai, keteguhan hati Hayat ini mungkin karena pandangan terhadap agama Islam yang makin bertambah. Hayat dikenal aktif dalam pengajian di Cirebon, Jawa Barat. Hal ini dianggap keluarga sebagai tindakan positif sehingga tidak pernah dipermasalahkan. Tetapi, prinsip Hayat itu justru sempat membuatnya terjerumus dalam masalah.

Imran mengungkapkan, keponakannya itu pernah terlibat dalam kasus pengrusakan minimarket di Cirebon. "Dia marah karena toko itu menjual minuman keras, akhirnya dirusak. Pihak toko akhirnya memenuhi untuk tidak menjual minuman keras lagi," tutur Imran.

Pada bulan April 2011, keluarga Hayat yang kebanyakan tinggal di Cirebon dan Jakarta dikagetkan dengan kabar keterlibatan Hayat dalam aksi bom bunuh diri Muhammad Syarif di Masjid Adz-Zikro di kompleks Mapolresta Cirebon. Hayat diduga terlibat dalam jaringan yang sama dengan Syarif. Ia juga disebut-sebut mengantarkan Syarif sebelum temannya itu meledakkan diri jelang shalat Jumat dimulai.

"Kami kaget pas tahu dia itu terlibat di kasus teroris Cirebon. Nama dia disebut-sebut dan foto-fotonya disebar ke polsek dan puskesmas di Cirebon. Sejak saat itu dia enggak pernah lagi kelihatan," kata Imran.

Setelah kejadian itu, Hayat tidak pernah mencari keluarganya semenjak itu. Imran berpendapat, keponakannya mungkin takut anggota keluarganya dikaitkan dengan keterlibatannya dalam jaringan teroris. "Jadi kami juga sudah ikhlas dengan kepergian dia," kata Imran.

Lama menghilang, Hayat kembali membuat keluarga shock dengan berita aksi radikalnya dengan meledakkan diri di GBIS Kepunton, Solo, pada 25 September 2011. Hayat tewas di tempat dengan bagian perut terkoyak.

Awalnya, jenazah Hayat tidak dikenali karena tidak terdapat identitas di tubuhnya. Setelah dilakukan identifikasi dan tes DNA dari pihak keluarga, polisi pun memastikan bahwa pelaku bom bunuh diri di Solo adalah Pino Damayanto alias Ahmad Urip alias Hayat.

"Keluarga juga yakin itu dia karena muka di televisi sama. Kami sekeluarga jelas berduka apalagi kakak saya (ibunda Hayat) yang masih shock, nangis terus. Enggak pernah nyangka dia bisa salah sangka dan bergabung ke kelompok seperti itu," pungkas Imran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau