Kamis siang di Shanghai, awal Agustus lalu, penampilan Farisah Asfarina di babak eliminasi 16 besar Piala Dunia Panahan seri ke-4 membuat Jamie Van Natta tak tenang. Van Natta, atlet Amerika Serikat, pun harus menenangkan diri bila tak ingin muncul berita mengejutkan darinya.
Farisah, atlet pelatnas cabang panahan SEA Games XXVI/2011 Indonesia, tampil konsisten selama beberapa ronde. Farisah unggul 28-27, 57-55, 86-84, 114-113 atas Van Natta yang sebelumnya baru memecahkan rekor dunia divisi compound perseorangan putri.
Pada ronde terakhir, keduanya berbagi angka sama, 141-141. Keduanya pun melakukan
Kejutan lain datang dari Erwina Safitri, rekan satu tim Farisah. Dia lolos ke babak final kecil divisi recurve perseorangan putri. Di babak ini, dia bersaing dengan atlet panahan asal India, Deepika Kumari, yang sedang menanjak prestasinya.
Seperti Farisah, kali ini Erwina belum berhasil. Medali perunggu melayang ke Kumari. Erwina kalah 4-6 dan harus puas di posisi keempat seri kali ini.
Puryoto, salah seorang pelatih pelatnas panahan, mengatakan, jam terbang Kumari lebih banyak di kompetisi internasional ketimbang Erwina. Menurut dia, secara mental, Kumari lebih siap. ”Kita harus perbanyak kompetisi. Tak hanya di domestik, tetapi juga keluar.”
Indonesia pernah memiliki ratu-ratu panahan pada era 1980-1990. Ada Leane Suniar, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Hamdiah, Dahliana Damanhuri, Rusiana Gelanteh, Purnama Pandiangan, dan sederet nama-nama beken lain. Di kelompok putra, Hendra Setiawan, Gatot Arianto, Wilson Pane, hingga almarhum mantan pelatih timnas Donald Pandiangan tak terpisahkan dari sejarah panahan Indonesia.
Dibandingkan dengan nama-nama itu, nama Erwina Safitri, Farisah Asfarina, Dellie
Tak berarti mereka miskin prestasi. Tiga kali SEA Games terakhir, sebagian dari mereka adalah bagian dari tim inti panahan Indonesia. Puruhito dan Novia adalah dua atlet panah penyumbang emas bagi Indonesia di SEA Games Laos 2009.
Puncak prestasi tim panahan Indonesia memang pada SEA Games 1985 di Thailand. Saat itu, Indonesia menyabet 16 emas, 10 perak, dan 6 perunggu. Dua tahun sebelumnya, pada 1983, Indonesia menyabet 8 emas, 9 perak, dan 8 perunggu. Tahun 1987, saat menjadi tuan rumah, Indonesia menyabet 10 emas, 10 perak, dan 4 perunggu. Setelah periode itu, prestasi Indonesia terus menurun.
Prestasi panahan Indonesia sekarang diakui masih tertatih-tatih. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi, PB Perpani (induk cabang olahraga panahan di Indonesia), I Nyoman Budiana mengakui, saat uji coba di Torino, tim Indonesia bisa dibilang gagal total. Namun, ujarnya, prestasi olahraga perlu proses. Malaysia butuh waktu 11 tahun untuk bisa meloloskan atletnya ke olimpiade. Kuncinya adalah pembinaan terus-menerus tanpa henti dan program yang jelas.
Masuknya wajah-wajah segar dalam tim inti panahan Indonesia yang diplot untuk SEA Games XXVI adalah bagian dari proses itu. Nyoman menyatakan, SEA Games adalah sasaran antara proses panjang pembinaan, dengan sasaran utama olimpiade. Meski sasaran antara, Indonesia tak mau bertekuk lutut di hadapan pendukungnya. Target empat emas dari 10 emas yang dipatok PB Perpani menjadi hal realistis di tengah ketatnya persaingan.