Pembinaan

Musim Semi Panahan Indonesia

Kompas.com - 28/09/2011, 02:57 WIB

Kamis siang di Shanghai, awal Agustus lalu, penampilan Farisah Asfarina di babak eliminasi 16 besar Piala Dunia Panahan seri ke-4 membuat Jamie Van Natta tak tenang. Van Natta, atlet Amerika Serikat, pun harus menenangkan diri bila tak ingin muncul berita mengejutkan darinya.

Farisah, atlet pelatnas cabang panahan SEA Games XXVI/2011 Indonesia, tampil konsisten selama beberapa ronde. Farisah unggul 28-27, 57-55, 86-84, 114-113 atas Van Natta yang sebelumnya baru memecahkan rekor dunia divisi compound perseorangan putri.

Pada ronde terakhir, keduanya berbagi angka sama, 141-141. Keduanya pun melakukan tembakan penentuan. Keduanya mengambil posisi dan melepaskan anak panah dari busurnya. Anak panah keduanya menghunjam lingkaran kuning dan menghasilkan nilai sempurna. Namun, wasit memutuskan Van Natta sebagai pemenang setelah anak panahnya terdekat dengan lingkaran inti di papan target.

Kejutan

Kejutan lain datang dari Erwina Safitri, rekan satu tim Farisah. Dia lolos ke babak final kecil divisi recurve perseorangan putri. Di babak ini, dia bersaing dengan atlet panahan asal India, Deepika Kumari, yang sedang menanjak prestasinya.

Seperti Farisah, kali ini Erwina belum berhasil. Medali perunggu melayang ke Kumari. Erwina kalah 4-6 dan harus puas di posisi keempat seri kali ini.

Puryoto, salah seorang pelatih pelatnas panahan, mengatakan, jam terbang Kumari lebih banyak di kompetisi internasional ketimbang Erwina. Menurut dia, secara mental, Kumari lebih siap. ”Kita harus perbanyak kompetisi. Tak hanya di domestik, tetapi juga keluar.”

Muda berprestasi

Indonesia pernah memiliki ratu-ratu panahan pada era 1980-1990. Ada Leane Suniar, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Hamdiah, Dahliana Damanhuri, Rusiana Gelanteh, Purnama Pandiangan, dan sederet nama-nama beken lain. Di kelompok putra, Hendra Setiawan, Gatot Arianto, Wilson Pane, hingga almarhum mantan pelatih timnas Donald Pandiangan tak terpisahkan dari sejarah panahan Indonesia.

Dibandingkan dengan nama-nama itu, nama Erwina Safitri, Farisah Asfarina, Dellie Thressya Dinda, Novia Nuraini, I Nyoman Gusti Puruhito, Kuswardono, dan Riau Ega Agatha Salsabilla mungkin masih asing di telinga mayoritas masyarakat Indonesia.

Tak berarti mereka miskin prestasi. Tiga kali SEA Games terakhir, sebagian dari mereka adalah bagian dari tim inti panahan Indonesia. Puruhito dan Novia adalah dua atlet panah penyumbang emas bagi Indonesia di SEA Games Laos 2009.

Puncak prestasi tim panahan Indonesia memang pada SEA Games 1985 di Thailand. Saat itu, Indonesia menyabet 16 emas, 10 perak, dan 6 perunggu. Dua tahun sebelumnya, pada 1983, Indonesia menyabet 8 emas, 9 perak, dan 8 perunggu. Tahun 1987, saat menjadi tuan rumah, Indonesia menyabet 10 emas, 10 perak, dan 4 perunggu. Setelah periode itu, prestasi Indonesia terus menurun.

Prestasi panahan Indonesia sekarang diakui masih tertatih-tatih. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi, PB Perpani (induk cabang olahraga panahan di Indonesia), I Nyoman Budiana mengakui, saat uji coba di Torino, tim Indonesia bisa dibilang gagal total. Namun, ujarnya, prestasi olahraga perlu proses. Malaysia butuh waktu 11 tahun untuk bisa meloloskan atletnya ke olimpiade. Kuncinya adalah pembinaan terus-menerus tanpa henti dan program yang jelas.

Masuknya wajah-wajah segar dalam tim inti panahan Indonesia yang diplot untuk SEA Games XXVI adalah bagian dari proses itu. Nyoman menyatakan, SEA Games adalah sasaran antara proses panjang pembinaan, dengan sasaran utama olimpiade. Meski sasaran antara, Indonesia tak mau bertekuk lutut di hadapan pendukungnya. Target empat emas dari 10 emas yang dipatok PB Perpani menjadi hal realistis di tengah ketatnya persaingan. (MHD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau