Hari batik

Menuju Rumah Batik Dunia

Kompas.com - 02/10/2011, 10:14 WIB
Myrna Ratna & Yulia Sapthiani

KOMPAS.com - Menjadi tuan rumah batik bagi dunia, itu target berikut Indonesia. Diawali dengan menyertakan sejumlah desainer asing untuk mengolah batik ke dalam rancangan mereka.

Malam Budaya yang menjadi acara puncak World Batik Summit 2011, Kamis (29/9), mencoba merangkum inti pertemuan selama dua hari itu ke atas panggung. Termasuk memberikan penghargaan bagi sejumlah pembatik yang sudah berdedikasi sepanjang hidupnya dengan membatik, seperti Ny Prawiro (85) dari Klaten dan Ny Pariyem (81) dari Sukoharjo. 

Malam Budaya itu tidak hanya menampilkan peragaan busana karya sejumlah perancang senior Indonesia, seperti Anne Avantie, Carmanita, Chossy Latu, Ramli, Sebastian Gunawan, serta koleksi Danar Hadi, Bi, dan Parang Kencana, tetapi juga karya perancang dari China, Jepang, dan Malaysia.

Sulit untuk tidak membandingkan karya desainer tuan rumah dengan desainer tamu. Namun jelas teraba, yang mungkin membedakan keduanya adalah derajat keterikatan dengan proses budaya yang melatarbelakangi terciptanya kain batik. Bagaimanapun, pemahaman dan keterlibatan perancang Indonesia dalam tradisi batik jelas terekspresikan pada pilihan motif, pilihan material kain, penempatan padu padan, dan siluet rancangan yang dihasilkannya. 

Mari tengok rancangan elegan dengan garis potongan simpel karya Chossy Latu yang malam itu didominasi warna hitam putih. Jaket dan jubah batik dengan motif pakis-pakisan dan bunga dari sutra taffeta itu dipadu padan dengan setelan celana maupun gaun selutut berwarna hitam polos. Kombinasi motif ceplok bunga kemerahan yang tersusun vertikal sampai ke ujung kain yang menyapu lantai—seakan menyembul dari balik ”rimbunan” motif batik hitam putih—memberikan efek kontras yang menyegarkan, seperti juga tema yang ditawarkan Chossy malam itu, ”Twilight Garden”. 

Sebastian Gunawan, yang mengambil inspirasi batik China-Melayu untuk rancangannya, juga memberi perhatian khusus pada bunga. Ia merancang sendiri motif bunga yang menjadi ciri khas batik pada era itu dan kemudian diproses para perajin batik Pekalongan di atas tenun Garut ATBM (alat tenun bukan mesin). Warna-warna cerah khas batik Pekalongan menjadi kekuatan rancangan Seba dalam gaun-gaun selutut tanpa lengan, ataupun two pieces dengan atasan polos dan rok panjang lurus dengan belahan tinggi yang secara penuh mengekspos keindahan motif batik. 

”Saya menggunakan sutra yang ditenun supaya mendapat tekstur kain yang saya inginkan, yaitu sedikit tebal dan kaku, supaya konstruksi pakaiannya lebih terlihat,” kata Seba.

Kasual-anggun

Carmanita menyuguhkan rancangan yang lebih kasual dan funky. Kekuatannya adalah pada teknik draperi dan lilit, serta padu padan motif batik dengan warna-warna cerah yang mengesankan kemodernan. Sesuai dengan temanya, ”Global Remix”, Carmanita, yang terus melakukan inovasi batik pada berbagai medium itu, menunjukkan bahwa batik yang dililitkan ke tubuh dengan konstruksi asimetris, saling tabrak, bisa menghasilkan efek memesona. 

Sementara Ramli, yang menyuguhkan rancangan gaun malam dengan sentuhan prada, membangkitkan kembali semangat batik sebagai adibusana. Ada kemewahan, keanggunan, ketika rok lebar dengan motif batik berwarna keemasan yang dikenakan model melambai di lantai catwalk. Dalam beberapa rancangannya, Ramli juga menampilkan baju panjang dengan lapisan tembus pandang dengan bordiran keemasan di pinggiran kain. Ia juga menyertakan kerudung berbahan lembut dengan motif senada. 

Sifat batik yang ramah, yaitu bisa beradaptasi dengan karakter apa pun sesuai kreativitas perancangnya, mendorong perancang Anne Avantie untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kain batik. Kemerdekaan berinspirasi melalui batik diwujudkan melalui penggunaan kain batik secara utuh, dipotong sesuai kebutuhan, hingga memanfaatkan sisa-sisa kain. ”Memang ada perasaan sayang ketika memotong kain batik yang indah, tetapi saya sekaligus ingin memperlihatkan keindahan batik melalui sisa-sisa kainnya,” kata Anne.

Ia mengeluarkan koleksi lama bertema ”Tut Wuri Handayani” berupa rancangan kebaya modifikasi yang seksi dan anggun. Ada kebaya berkerah tinggi, kebaya dengan punggung terbuka, lengan tanpa jahitan, yang kadang dipadu dengan jubah panjang.

Inspirasi luar

Kaoru, perempuan desainer dari Jepang, sudah tak asing dengan budaya batik Indonesia. Untuk pergelaran malam itu, ia berkolaborasi dengan suaminya, Prof Masakatsu Tozu, yang sudah meneliti batik selama 42 tahun. Pasangan ini selain menjadi pencinta batik juga memiliki rumah batik di Tokyo. Rancangan Kaoru mengekspresikan cita rasa Jepang dengan garis-garis rancangan yang sederhana, kasual, dan pilihan warna-warni musim panas yang cerah. 

Perancang China, Lu Kun, memilih pendekatan konservatif dalam rancangannya dan berupaya memaksimalkan pemanfaatan helaian kain batik. Rancangannya khusus gaun panjang pas badan dengan modifikasi di bagian lengan (ada gaun satu lengan, tanpa lengan, lengan pendek) dan penambahan aksen di pinggang berupa bis dan ikat pinggang mungil. 

Sementara label Deanoor dari Malaysia, yang menggunakan kombinasi batik dari Tanjung Bumi, Madura, dan Parang Kencana untuk sebagian rancangan gaun pendek, juga menampilkan beberapa desain kaftan yang memanfaatkan batik dengan teknik celup.

”Kita bisa melihat bagaimana persepsi para perancang ini terhadap batik yang kemudian mereka tuangkan dalam gagasan. Kita ingin antusiasme terhadap batik di arena internasional terus semakin kuat,” kata Ika BS Wahyudi, Ketua Acara Malam Budaya. 

Pintu telah terbuka menuju rumah batik dunia....

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau