Akun Twitter Yingluck Dibajak

Kompas.com - 03/10/2011, 05:10 WIB

BANGKOK, MINGGU - Pemerintahan baru Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra saat ini tengah kebobolan. Seseorang membajak akun Twitter orang nomor satu di negeri itu. Pelaku juga mengirim delapan pesan berisi olokan dan kalimat menjelekkan kinerja sang PM yang cantik itu.

Pembajak diketahui mengambil alih akun Twitter Yingluck, Minggu (2/10). Belakangan diketahui pula sejumlah peretas tak dikenal membobol situs web Kementerian Luar Negeri Thailand pekan lalu.

Kedelapan pesan Twitter yang dikirimkan berisi kritik atas ketidakmampuan dan praktik kronisme, yang selama ini memang kerap dituduhkan kepada Yingluck.

Selain menjelek-jelekkan, si pelaku juga mengolok-olok Yingluck sebagai seorang pemimpin yang sama sekali tidak kompeten dan bahkan tak mampu melindungi akun Twitter-nya sendiri.

”Kalau dia saja tidak mampu menjaga akun Twitter-nya, bagaimana pula dia bisa melindungi keamanan seluruh negeri ini?” ejek si pembajak.

Salah satu pesan lain berisi, seolah-olah, pernyataan Yingluck bahwa Thailand tak lebih dari sekadar ladang bisnis miliknya dan para kroninya, bukan milik rakyat Thailand.

”Negeri ini hanyalah bisnis. Kami bekerja untuk sekutu kami dan bukan untuk rakyat Thailand. Kami bekerja buat mereka yang mendukung kami, bukan yang berbeda dari kami,” begitu isi salah satu pesan di dalamnya.

Sementara dalam pesan Twitter lain, tertulis kalimat mengatasnamakan Yingluck, yang menyebut warga miskin Thailand hanya dia manfaatkan dengan diberi berbagai harapan agar mereka memilihnya (Yingluck) pada pemilu kemarin.

”Dengan demikian, kelompok kamilah yang mendapat keuntungan dari situ,” begitu tertulis dalam akun Twitter yang dibajak tersebut.

Kejadian pembajakan akun Twitter Yingluck dibenarkan oleh juru bicara pemerintah Thailand, Thitima Chaisaeng. Namun, dia mengaku masih belum tahu siapa pelakunya (pembajak).

”Kami diberi tahu bagian teknologi informasi dan komunikasi kementerian. Mereka sedang mencari siapa yang harus bertanggung jawab,” ujar Thitima.

Tuduhan rencana makar

Dalam kesempatan terpisah, surat kabar The Bangkok Post memberitakan pernyataan juru bicara partai Pheu Thai, Prompong Nopparit, yang menuduh adanya rencana makar dari kelompok oposisi terhadap pemerintahan yang sah.

Nopparit mengaku mengetahui hal itu dari temuan otoritas keamanan Thailand. Berbicara di Bangkok hari Minggu, dia juga menyebut kelompok makar itu punya sedikitnya sembilan rencana untuk mendongkel pemerintahan Yingluck sekaligus membubarkan Pheu Thai.

Targetnya, Nopparit menambahkan, sebelum Mei tahun depan Yingluck sudah turun dari kekuasaannya.

Kesembilan rencana makar itu antara lain memanfaatkan media massa pro-oposisi menyerang Pheu Thai, baik kebijakan maupun anggotanya.

Selain itu, kelompok makar itu juga berencana memanfaatkan media massa, yang memang sudah dikendalikan, untuk menyebarluaskan pemberitaan Yingluck tidak becus memerintah dan hanya berupaya membantu kakak kandungnya, Thaksin Shinawatra.

Thaksin adalah mantan Perdana Menteri (PM) Thailand, yang dikudeta oleh militer pada tahun 2006, dan melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari vonis dua tahun penjara dalam kasus korupsi.

Lebih lanjut kelompok makar itu berencana menghasut masyarakat dan para pejabat, yang ”tersingkir”, untuk menyerang pemerintah.

Selain itu, para aktivis antipemerintah yang menyamar menjadi anggota lembaga swadaya masyarakat juga dimanfaatkan untuk menyerang pemerintah.

Nantinya pemerintah dan Pheu Thai dipojokkan serta diposisikan seolah-olah menentang dan tidak loyal kepada pihak kerajaan (monarki).

Seperti diwartakan, sosok Yingluck sejak awal kemunculannya memang mengundang banyak kontroversi.

Akan tetapi pada pemilihan umum Juli lalu, Yingluck dan Pheu Thai menang telak. Hal itu menjadikan Yingluck resmi sebagai wanita PM pertama di Negeri Gajah Putih.

Oleh para musuh politiknya, Yingluck dinilai tidak lebih dari sekadar boneka politik sang kakak, Thaksin. (AP/AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau