Program internasional

Magang Internasional, Bonus Studi di Negeri Kincir Angin

Kompas.com - 03/10/2011, 09:51 WIB

DEVENTER, KOMPAS.com - Memiliki tiga kampus di tiga kota di Belanda, yaitu Deventer, Entschede, dan Apeldoorn, Saxion University saat ini merupakan salah satu kampus terbesar di negeri Kincir Angin tersebut. Tahun ini, dari 22.000 pelajar yang terdaftar di dalamnya, ada sekitar 30 pelajar Indonesia tengah menimba ilmu di sana bersama 1000 pelajar internasional lainnya. KOMPAS.com mengunjungi kampus utamanya di Deventer, sebuah kota kecil namun sangat nyaman pekan lalu.

Sebagai perguruan tinggi yang memberi diri dengan label university of applied science, Saxion University tampak cukup padat dengan pelajar-pelajar internasional. Bukan saja datang dari Eropa dan benua Amerika, karena kampus ini juga dijejali mahasiswa dari Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan lainnya seperti dari Afrika.

Selama kuang lebih lima tahun, pada skema kerjasama beasiswa antara Pemerintah Kerajaan Belanda yang difasilitasi Nuffic Neso Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia, kampus ini dipilih untuk mendidik sumber daya manusia dan kebutuhan tenaga-tenaga riset aplikatif yang cocok bagi negara berkembang seperti Indonesia. Khususnya melalui International Program untuk double degree, Saxion telah menyiapkan beberapa program studi yang saat ini telah dikolaborasikan dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti Art & Technology, Business Engineering, Leadership in Social Network, Urban & Regional Planning, Urban Design, dan banyak lagi.

Director of International Office Saxion University, Drs Chris van den Borne, mencatat bahwa tahun ini sebanyak 30 mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di Saxion. Adapun beberapa perguruan tinggi yang telah berkolaborasi dengannya antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Dipenogoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Petra dan lain-lainnya.

"Di sini mereka bukan hanya belajar dan belajar, tetapi juga bergaul dengan orang-orang dari banyak negara. Kami ingin mereka berkualitas bukan hanya pada nilai akademisnya, tapi juga memanfaatkan ilmunya itu secara luas di dunia internasional, dunia yang kami perkenalkan di sini kepada mereka," kata Chris di ruang kerjanya.

Chris menambahkan, internasionalisasi adalah pergerakan yang masif melalui studi terintegrasi ke seluruh dunia. Untuk itulah, lanjut dia, Saxion berupaya fokus dengan Program Internasional ini.

"Dengan begini, kami ingin pelajar-pelajar kami bukan saja punya skil dan network ke dunia kerja secara internasional, tapi juga bagaimana mereka benar-benar pintar memanfaatkan jaringannya itu," ujar Chris.

Untuk mendukung upaya itu, selain menawarkan tiga jenis beasiswanya andalannya, --yaitu Saxion Top Talent Scholarship, Saxion Talent Scholarship, serta Saxion Excellent Scholarship, Saxion University juga merancang International Traineeships atau program magang internasional untuk siswa yang telah lulus dan masih ingin menetap di Belanda.

"Melalui program ini mereka selama 6 sampai 12 bulan akan bekerja (magang) secara profesional, baik di perusahaan atau organisasi di Belanda. Mereka akan berimprovisasi dengan pengetahuan dan skilnya dalam frame berpikir dan bekerja di tataran internasional," papar Chris.

Mochammad Yusni Aziz, pelajar Indonesia dari program double degree di jurusan Urban and Regional Planning, mengakui hal tersebut. Aziz mengatakan, program International Traineeships sangat ia butuhkan sebagai pelajar internasional di kampus ini, terutama untuk mahasiswa double degree seperti dirinya.

"Kita studi dalam situasi, budaya, dan skema berpikir internasional, sehingga program ini kami butuhkan sebagai wadah melatih skil atau praktik kerja secara langsung yang belum tentu kami dapatkan di Indonesia," kata insinyur lulusan teknik arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Jawa Timur, ini.

Laurentius Judhianto, pelajar Indonesia lainnya dari jurusan Art & Technology, juga sepakat dengan pendapat itu. Apalagi, ia jujur mengakui, tujuannya sejak awal memilih studi ke Belanda adalah ingin menimba ilmu dalam kultur internasional.

"Basis pendidikan kita dan Eropa jelas berbeda. Di Eropa, untuk S-1 tidak sampai satu tahun, dan mereka setelah lulus SMA kerja dulu, baru kuliah lagi, sehingga mereka punya work experience. Kalau kita kan tidak begitu, karena setelah lulus SMA langsung kuliah, padahal justeru pengalaman kerja itulah yang menentukan sehingga kita di sini susah cari kerja. Ikut internship (International Traineeships) di sini adalah mimpi saya," ungkap Laurentius.

Apa yang diimpikan Laurentius, ternyata luar biasa. Ia mengatakan, saat ini sudah ada dua perusahaan di Belanda “meminangnya” untuk bekerja. Di sisi lain, baru tahun depan ia akan lulus dari kampus ini.

"Saat ini saya sudah mengerjakan beberapa proyek pribadi, mulai dari fotografi sampai desain grafis di sini. Ini pengalaman mencari kerja sendiri sambil belajar. Kalau kita yakin dan berusaha keras, semua pasti ada jalan," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau