Calon Gubernur Banten Cut

Kompas.com - 05/10/2011, 05:02 WIB

Serang, Kompas - Hari Rabu (5/10) ini dimulai kampanye pemilihan gubernur Banten yang akan berakhir pada 18 Oktober. Ketiga pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah Banten yang akan ikut kampanye itu harus mengajukan cuti. Pasalnya, mereka adalah pejabat publik yang sedang memangku jabatan.

Ketiga pasangan itu adalah Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno, Wahidin Halim-Irna Narulita, dan Jazuli Juwaini-Makmun Muzakki.

Ratu Atut Chosiyah saat ini adalah Gubernur Banten, sedangkan Wahidin Halim menjabat Wali Kota Tangerang. Rano Karno adalah Wakil Bupati Tangerang, sedangkan Jazuli Juwaini dan Irna Narulita adalah anggota DPR. Sementara Makmun Muzakki adalah anggota DPRD Banten.

”Mereka cuti pada hari-hari selama mereka berkampanye,” kata Kepala Bagian Hukum, Teknis, dan Hubungan Masyarakat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Banten Endang Suryadi ketika dihubungi, Selasa.

Asisten I Bidang Tata Praja Pemerintah Provinsi Banten Anwar Mas’ud mengatakan, selama Ratu Atut Chosiyah cuti untuk berkampanye, tugas sehari-hari dilaksanakan Wakil Gubernur Banten Mohamad Masduki.

”Bunyi surat dari Menteri Daalam Negeri seperti itu,” kata Anwar.

Sementara itu, Miftahuddin, Ketua Tim Pemenangan pasangan Jazuli Juwaini-Makmun Muzakki, mengatakan, pasangan tersebut juga sudah mengajukan izin cuti untuk berkampanye dalam ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten 2011.

Jazuli Juwaini yang saat ini menjabat anggota DPR mengajukan izin cuti ke Ketua DPR, sedangkan Makmun Muzakki yang merupakan anggota DPRD Banten mengajukan cuti ke Ketua DPRD Banten.

”Surat pengajuan izin cuti bagi keduanya sudah turun dan tembusannya kami kirimkan ke KPU,” kata Miftahuddin.

Sebelumnya, anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Provinsi Banten Bidang Divisi Hukum dan Pelanggaran, Haer Bustomi, menuturkan, ada beberapa potensi pelanggaran yang kemungkinan terjadi saat tahapan kampanye Pilgub Banten pada 5-18 Oktober.

Potensi pelanggaran yang akan diawasi jajaran Panwaslu di semua tingkatan antara lain kampanye melebihi batas waktu yang ditentukan, kampanye di luar jadwal, praktik politik uang, dan potensi pelanggaran politik birokrasi, yakni pelibatan birokrasi dalam kampanye.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Tangerang Harry Mulya Zein mengatakan, secara administrasi, Wali Kota Tangerang Wahidin Halim sudah mengajukan cuti untuk mengikuti kampanye Pilkada Banten.

Cuti selama dua minggu juga diambil Wakil Bupati Tangerang Rano Karno. ”Selama kampanye, bapak (Rano Karno) pasti cuti. Selama itu tugas-tugas bapak diambil alih bupati dan sekretaris daerah,” kata Suti Karno, manajer Rano Karno.

”Tugas-tugas Pak Wali untuk sementara waktu, selama masa kampanye, diberikan kepada saya. Saya akan menjadi pelaksana tugas harian Wali Kota Tangerang. Sebagai pelaksana harian wali kota, tugasnya tidak ada bedanya dengan tupoksi wali kota,” kata Wakil Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah.

Problem

Pemprov Banten mengklaim sejumlah keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan selama 11 tahun berdirinya provinsi tersebut. Namun, sejumlah kalangan menilai Banten belum terbebas dari belitan masalah, terutama pengangguran dan kemiskinan warganya.

”Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, berbagai keberhasilan telah kami capai walaupun masih ada kekurangan,” kata Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pada Rapat Paripurna DPRD Banten dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-11 Provinsi Banten di Serang.

Saat berlangsungnya paripurna tersebut, ratusan mahasiswa berunjuk rasa di depan kantor Gubernur Banten. Mereka menilai, di Banten masih banyak pengangguran, kemiskinan, balita gizi buruk, hingga mengguritanya praktik korupsi di Banten.

(CAS/PIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau