Dari Wuhan, hanya tiga hari timnas berada di Jakarta. Tiga hari itu pun dimanfaatkan untuk berlatih di Hall A Senayan, Gelora Bung Karno.
”Pokoknya tidak berhenti latihan,” kata pelatih timnas basket putra, Rastafari Horongbala, pada latihan terakhir sebelum ke Broome.
Di Broome, Australia Barat, timnas mengikuti kejuaraan invitasi basket di lapangan terbuka di pinggir Pantai Cable. Itu adalah kegiatan tahunan khas di Broome. Timnas Indonesia dua kali bertanding dan kalah.
Timnas menyerah melawan Shanghai Sharks 41-45, Jumat (30/9), dan kalah dari Singapore Slingers, 44-68, Sabtu (1/10). Slingers menurunkan dua pemain asing yakni Jamal Brown dan Ben Smith.
”Kami mencoba lapangan baru di pinggir pantai. Karena lapangan licin, semua berhati-hati saat bermain, begitu juga Sharks,” kata Andy ”Batam” Poedjakusuma, pemain.
Timnas mendapat pengalaman baru saat melawan Sharks, yakni melawan tim mantan pemain tim di NBA, Houston Rocket, Yao Ming.
Dari Broome, timnas yang berjumlah 12 pemain plus 3 cadangan terbang ke Perth untuk berlaga dengan klub lokal. Hingga sepekan ke depan, timnas masih tur ke tiga kota di Australia Barat untuk berlatih-tanding melawan klub-klub lokal dengan para pemain yang rata-rata berpostur tinggi besar.
”Sepulang dari Australia, kami berlatih di (Sports Mall) Kelapa Gading, menyesuaikan diri dengan lapangan baru,” kata Rastafari.
Arena basket di Kelapa Gading, Jakarta Utara, selesai diperbarui untuk keperluan SEA Games. Ada tambahan lapisan kayu. ”Kami akan lihat bagaimana pantulan bolanya,” ujarnya.
Timnas basket putri tidak kalah sibuk. Sepulang dari Kejua- raan FIBA Asia Putri 2011 di Nagasaki, Jepang, 21-18 Agustus 2011, timnas putri berlatih intensif untuk persiapan berlatih-tanding ke China.
Senin (3/10), timnas putri bertolak ke Guangzhou. Mereka berada di sana hingga 12 Oktober 2011 untuk berkompetisi melawan beberapa tim lokal.
”Kami bertanding lima atau enam gim di Guangzhou untuk menajamkan performa dan mengasah mental,” kata asisten manajer timnas putri, Cecilia Dwi Maya.
Timnas putri mendapat pelajaran berarti saat bertanding di Jepang. Tim ”Merah-Putih” berada di peringkat ketiga untuk kategori Level II setelah Malaysia dan Kazakhstan. Di bawah Indonesia ada Uzbekistan, Singapura, dan Sri Lanka.
Indonesia, Malaysia, dan Kazakhstan sama-sama memetik angka sembilan poin pada laga penyisihan, hasil dari empat kali menang dan sekali kalah. Akan tetapi, Indonesia kalah selisih skor dari kedua negara itu. Alhasil, Indonesia gagal masuk babak play-off.
Timnas minimal mendapat gambaran performa timnas Malaysia. Menurut Cecilia, kekuatan Indonesia dan Malaysia berimbang. Makin kerap bertanding dengan tim-tim besar, makin kuat mental para pemain.
China tetap peringkat pertama di Asia. Di bawahnya adalah Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
Banyak berkompetisi melawan tim selevel Asia, timnas basket putra dan putri yakin mampu menggaet target medali. Seperti kata Ketua Perbasi Anggito Abimanyu, target tim putra meraih medali perak dan tim putri perunggu.
Target medali perak bagi tim putra cukup realistis mengingat ketangguhan Filipina sulit untuk dilampaui. Namun, menggaet perak pun bukan hal mudah. Thailand dan Malaysia juga bukan lawan sembarangan.
Bagi tim putri, target perunggu pun sulit digaet. Thailand berperingkat 35 berdasarkan data ranking FIBA 2010. Malaysia peringkat ke-40, dan Filipina ke-50. Indonesia tidak tercatat karena bertahun-tahun tidak pernah mengikuti kompetisi.
Melihat perkembangan tim putri saat ini di bawah arahan pelatih dari Amerika Serikat, Bill McCommon, performa tim putri meningkat tajam.
”Tugas saya untuk membuat tim menang,” kata McCommon.
Manajer timnas basket putra, Syailendra Bakrie, menyodorkan 12 nama pemain sebagai skuad utama. Masih ada tiga pemain untuk cadangan yang dibutuhkan jika mendadak ada pemain cedera. Manajer timnas putri, Hasan Gozali, juga mengajukan nama.