Pendiri apple

Steve Jobs Dulu Anak yang Diadopsi

Kompas.com - 07/10/2011, 05:15 WIB

Sebagai seorang tokoh besar, salah satu pendiri perusahaan raksasa Apple, sekaligus tokoh visioner dunia, Steve Jobs terlahir dan memulai kehidupan masa kecilnya tidak dalam kondisi layaknya anak dari sebuah keluarga normal.

Kedua orangtua kandungnya, Joanne Schieble dan Abdulfattah Jandali, pria kelahiran Suriah, adalah pasangan kekasih yang masih berstatus mahasiswa saat Steve dilahirkan ke dunia. Steve lahir di San Francisco, AS, 24 Februari 1955. Mereka lalu menyerahkan Steve untuk diadopsi pasangan lain.

Hanya berselang beberapa bulan setelah Steve diadopsi, Schieble dan Jandali menikah resmi, lalu memperoleh keturunan, seorang anak perempuan bernama Mona, yang tidak pernah tahu dan kenal kakak kandungnya hingga dewasa.

Steve diadopsi pasangan Paul dan Clara Jobs asal California. Mereka tinggal dan membesarkan Steve di Lembah Silikon, kawasan industri elektronik di AS. Walau berlatar belakang ”menyedihkan”, Steve mampu membuktikan dirinya menjadi orang yang sangat berbakat dan bervisi jauh ke depan.

Saat remaja, Steve menghabiskan masa liburan musim panas di masa SMA dengan bekerja magang di perusahaan Hewlett Packard di Palo Alto. Saat itulah dia bertemu dan menjalin pertemanan dengan Steve Wozniak, perancang mesin komputer. Wozniak berhasil membangun sebuah mesin komputer yang dinamai Steve, Apple I. Keduanya kemudian mendirikan perusahaan bernama Apple, yang awalnya bermula dari garasi di sebuah rumah di Los Altos.

Pada tahun 1976 Steve mampu menjual 50 unit Apple I ke sebuah toko elektronik setempat dengan membuat mereka bisa membeli dengan cara mencicil. Steve berhasil menjual Apple I tanpa harus mencari pinjaman atau bantuan pemilik modal dengan iming-iming bagi keuntungan.

Keuntungan yang didapat diputar kembali oleh Steve dan Wozniak untuk membangun Apple II, yang kembali sukses dijual di pameran komputer California tahun 1977. Pada tahun itu, mereka resmi mendirikan perusahaan komputer Apple setelah Steve berhasil meyakinkan seorang pengusaha lokal, Mike Markkula, untuk menyuntikkan dana 250.000 dollar AS.

Pernah ditendang Apple

Walau ikut mendirikan, pada tahun 1985 Steve dikeluarkan dari Apple lantaran dianggap ”tak dapat dikontrol”, dengan ide-idenya, serta tidak punya kemampuan manajerial. Ditendang dari Apple, Steve malah kembali membuktikan kehebatannya. Dia membuat Komputer NeXT dan membeli sebuah perusahaan grafis dari sutradara film Star Wars, George Lucas, seharga 10 juta dollar AS. Dia mengganti nama perusahaan menjadi Pixar, yang kemudian ”banting setir” mengembangkan perangkat keras animasi.

Komputer animasi rancangan Pixar laku dibeli dan dipakai banyak perusahaan film animasi, termasuk Walt Disney. Terobosan itu membuahkan hasil. Pada tahun 1995 Pixar sukses membuat film animasi Toy Story dengan keuntungan 350 juta dollar AS. Kesuksesan itu disusul dengan film A Bug’s Life”, Finding Nemo, dan Monster Inc.

Sekali lagi, Apple dipaksa mengakui kehebatan Steve. Mereka membeli komputer NeXT senilai 400 juta dollar AS sekaligus menarik kembali Steve pada tahun 1996. Setahun berselang Steve menjadi CEO. Pasca-kembalinya Steve, Apple maju pesat. Produk-produk revolusioner dan laku macam iPod, iPhone, dan Macbook Air yang supertipis (2008) pun lahir. Pundi-pundi kekayaan Steve bertambah gemuk. Pada tahun 2010 dia mencatat kekayaan senilai 8,3 miliar dollar AS.

Walau sukses, kondisi kesehatan Steve, yang menganut dan menikah dalam prosesi agama Buddha pada tahun 1991, memburuk. Dia menderita kanker pankreas pada tahun 2003. Hanya sedikit orang di lingkar dalam Apple yang tahu penyakitnya.

Pada tahun 2004 dia terpaksa menjalani sebuah pembedahan dan tahun 2009 dia mengambil cuti besar selama enam bulan dan kemudian menjalani operasi transplantasi hati pada bulan April. Dua tahun kemudian, Apple mengumumkan Steve akan keluar akibat kondisi kesehatannya. Dia ”pergi” dalam usia 56 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga anak.

(BBC/AFP/DWA) Pasca-kembalinya Steve, Apple maju pesat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau