BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Empat gajah jinak dari Way Kambas dijadikan penengah dalam menyelesaikan konflik antara gajah dan warga di sekitar Kawasan Konservasi Desa Pemerihan, Bengkunat, Lampung Barat.
"Keempat gajah tersebut, Yongki, Arni, Renggo, dan Karnangin. Mereka didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur," kata Koordinator Elephant Patrol, Ali Rizqi, di Bandar Lampung, Jumat (7/10/2011).
Kehadiran empat gajah ditambah satu anak gajah liar, Tomi, tersebut, menurutnya berdampak pada perkembangan signifikan dalam melerai konflik gajah liar dengan manusia. "Tomi ini anak gajah yang ditinggal mati oleh induknya. Saat semua gajah pergi berlari, justru Tomi terlihat kebingungan. Kami sudah coba mengusirnya, tetapi dia tetap di posisinya kala itu, makanya kami jinakkan. Dia bersama empat gajah dewasa lainnya mengemban misi mengatasi konflik," ujar Ali.
Gajah jinak itu juga mengantisipasi gajah liar yang turun ke tepi jalan dan sungai Pemerihan sebagai batas antara kawasan dan permukiman penduduk. "Bahkan, adanya gajah jinak ini menjaga populasi gajah liar dari ancaman pembunuhan dengan menggunakan racun yang dilakukan oleh manusia," tutur Ali.
Semula, Ali mengatakan, populasi gajah di sana hanya 25 ekor. Angka itu cenderung menurun karena perburuan gajah. "Namun sejak 2009, justru populasi gajah di kawasan itu meningkat menjadi 35 ekor," tambah dia.
Ali juga menambahkan, untuk mengetahui gangguan pada gajah-gajah liar, pihaknya telah memasang kalung GPS pada gajah tersebut. "Satelit itu berguna untuk mendeteksi gangguan pada gajah. Dengan demikian, kondisi hewan tersebut akan terus terpantau oleh tim," kata dia.
Meskipun gajah jinak memiliki peran positif di kawasan, pihaknya mengakui bahwa gajah jinak juga terbentur dengan undang-undang terhadap satwa yang harus dilindungi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang