Eropa-Indonesia, Mitra di Masa Sulit

Kompas.com - 10/10/2011, 02:12 WIB

Julian Wilson

Ekonomi global sedang mengalami masa sulit. Publik mengikuti perdebatan soal tantangan ekonomi dan keuangan yang dihadapi Yunani dan sejumlah negara di kawasan euro.

Diperkirakan laju pertumbuhan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat akan lebih lambat. Namun, berspekulasi lebih jauh adalah hal keliru. Uni Eropa sedang menanggapi krisis secara serius dan mata uang euro akan tetap bertahan. UE tetap perekonomian terbesar di dunia. UE dan Indonesia memiliki hubungan ekonomi kuat dan berkembang.

UE investor asing terbesar kedua di Indonesia dengan 700 perusahaan secara langsung menampung 500.000 pekerja. UE juga pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia, senilai 14 miliar euro pada 2010. Wajar masyarakat Indonesia prihatin atas kemungkinan berlanjutnya kesulitan ekonomi di Eropa.

Sementara perekonomian Indonesia sedang tumbuh kuat. Negara ini, seperti banyak negara lain, tak dapat menghindari akibat dari perlambatan atau resesi ekonomi mitra-mitra dagang utamanya. Namun, perekonomian UE punya daya tahan dan akan kembali ke jalur pertumbuhan. Hubungan perdagangan dan investasi UE-Indonesia akan tetap jadi pusat kemitraan kita. Para pemimpin UE sedang menangani keadaan serius saat ini.

Sebagaimana dikatakan Presiden Dewan UE Herman van Rompuy, ”Kami akan tetap melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menjaga kestabilan finansial di kawasan euro, dengan mengupayakan tata kelola, disiplin fiskal, dan integrasi fiskal yang lebih baik.” Ditambahkan, ”Para pemimpin Eropa sedang membuat keputusan-keputusan, secara terpisah ataupun bersama, untuk meredakan ’badai’. Kami bertindak dengan kebulatan tekad dan semangat solidaritas. Hal itu menuntut keberanian politik dan kenegarawanan.”

Jelas dibutuhkan tindakan-tindakan terkoordinasi dan tegas guna mengatasi krisis saat ini serta memastikan krisis tak akan terulang. Hanya dengan tindakan berjangkauan luas, tingkat utang pemerintah di negara-negara anggota UE tertentu dapat dikendalikan dan agar dapat dipastikan, setiap negara hidup dalam batas kemampuan masing-masing di masa mendatang.

Untuk itu, para pemimpin UE telah mencapai kesepakatan tentang mekanisme dan kerangka baru yang menunjukkan bahwa mereka telah belajar dari pengalaman ini dan akan jadi lebih siap untuk memastikan kestabilan dan disiplin pada masa mendatang. Sebagai upaya jangka pendek menangani krisis, telah dibentuk Fasilitas Stabilitas Finansial Eropa untuk memberi dukungan kepada negara-negara yang sedang bermasalah. Para pemimpin juga telah memperketat pengawasan anggaran dan ekonomi makro serta mempermudah UE mengenakan sanksi terhadap negara anggota yang tak mengindahkan komitmen dalam rangka koordinasi kebijakan.

Masih banyak keputusan sulit yang harus diambil dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, sudah ada basis bagi disiplin dan kepercayaan masa depan jangka panjang euro. Di tengah kesulitan, penting untuk mengingat sejumlah fakta lain yang mendasari hubungan UE dengan dunia dan Indonesia.

Pertama, perekonomian Eropa memiliki banyak kekuatan. Pendekatan jangka panjang melakukan integrasi secara internal dengan tetap membuka diri terhadap dunia telah membawa perekonomian UE pada pertumbuhan ekonomi selama beberapa dekade. Dengan jumlah penduduk hanya 7 persen penduduk dunia, UE memproduksi 20 persen output ekonomi dunia.

Nilai perdagangan UE dengan mitra-mitra dagang mencapai sekitar 20 persen dari total ekspor dan impor global. Meski tiga negara UE, yang mewakili 6 persen PDB kawasan euro telah membawa ancaman bagi kestabilan finansial kawasan euro, UE masih tetap salah satu kawasan industri paling kompetitif dan memiliki sejumlah perusahaan paling dinamis dan inovatif di dunia.

Kedua, euro digunakan 330 juta jiwa di 17 negara kawasan euro dan telah menjadi mata uang terpenting di dunia setelah dollar AS. Mata uang bersama ini membuat pasar tunggal Eropa lebih efisien. Euro meningkatkan transparansi harga, menghapus biaya pertukaran valuta asing, melancarkan roda perekonomian Eropa, dan memfasilitasi perdagangan. Dampak dari krisis ini akan menjadikan UE lebih kuat dan lebih terintegrasi—”Eropa yang berkembang, bukan Eropa yang menyusut”, sebagaimana dikatakan Presiden Komisi Eropa José Manuel Barroso.

Ketiga, kita juga harus ingat, hubungan ekonomi UE-Indonesia memiliki daya tahan. Selama 20 tahun terakhir, ekspor Indonesia ke UE naik lima kali lipat. Kita pernah bersama-sama melalui krisis, khususnya krisis moneter Asia 1990-an dan krisis finansial global 2008. Pascakrisis, perdagangan dan investasi selalu pulih kembali. Nilai perdagangan Indonesia ke UE 2000 meningkat 25 persen dibandingkan dengan tahun sulit sebelumnya. Setelah tertekan 2009, tahun lalu ekspor Indonesia ke UE mencatat rekor sebesar 19 persen.

Respons terburuk terhadap krisis adalah meningkatnya proteksionisme. Sebagian besar pakar ekonomi sepakat, krisis terburuk—tahun 1930-an—sangat diperparah oleh proteksi perdagangan yang mengurangi perdagangan serta mengakibatkan perang tarif antarnegara. Ketika itu, perdagangan internasional turun drastis hingga lebih dari 50 persen. Tantangan terbesar kita saat ini adalah melipatgandakan komitmen terhadap negosiasi multilateral dan perluasan perdagangan. Forum terbaik tetap WTO dan Putaran Doha yang dapat meningkatkan perdagangan, menciptakan lapangan kerja, dan pendapatan bagi semua.

UE mendukung penuh sebuah agenda ambisius WTO yang mengarahkan perhatian khusus pada kebutuhan negara-negara paling terbelakang, dan kami memandang Indonesia salah satu mitra utama dalam upaya ini. Secara bilateral, UE dan Indonesia dapat memperdalam hubungan perdagangan dan investasi untuk keuntungan bersama. Kelompok Visi UE Indonesia—yang dibentuk Presiden Yudhoyono dan Presiden Barroso—memberikan rekomendasi agar Indonesia dan UE merundingkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif untuk meningkatkan lebih lanjut hubungan perdagangan dan investasi.

Pelaksanaan perjanjian itu diperkirakan akan menambah ekspor Indonesia 9,8 miliar dollar AS, tambahan 1,3 persen bagi pertumbuhan PDB Indonesia, serta lapangan kerja lebih besar dan tingkat upah lebih tinggi. Masa perekonomian sulit masih akan kita hadapi. Namun, perekonomian UE akan pulih, euro akan lebih kuat, serta perdagangan dan investasi UE-Indonesia dapat meningkat lebih signifikan seiring kembalinya UE ke jalur pertumbuhan dan kemakmuran.

Julian Wilson Duta Besar/Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau