Relasi Rusia-China Kian Kuat

Kompas.com - 13/10/2011, 02:34 WIB

BEIJING, RABU -  Kekuatan negara berkembang semakin nyata. Rusia dan China terus mempererat hubungan perdagangan. Kedua negara berkembang itu menyepakati beberapa perjanjian perdagangan dan investasi penting dalam jumlah yang tidak sedikit.

Salah satunya adalah penandatanganan kesepakatan yang sempat tertunda, yakni penjualan gas Rusia ke China.

Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin sudah membicarakan perselisihan tentang harga gas. Perselisihan itu membuat pasokan gas yang dikirimkan lewat dua jalur pipa Siberia sempat terhenti.

Kesepakatan lain yang tercapai adalah janji China berinvestasi sebesar 1,5 miliar dollar AS di pabrik kilang aluminium di Siberia. China juga akan menempatkan dana 1 miliar dollar AS ke sebuah rekening investasi bersama.

”Mereka yang menjual sesuatu pasti menginginkan harga tinggi, sementara pembeli menginginkan harga rendah. Kami perlu mencapai kompromi yang memuaskan kedua belah pihak,” kata Putin di Beijing, Rabu (12/10), dalam rangka kunjungan dua hari.

Putin mengatakan, Rusia ingin meningkatkan kerja sama dengan China dan di lain pihak mengatakan bahwa dominasi dollar AS membuat Amerika Serikat menjadi parasit. ”Bukan AS, melainkan monopoli dollar AS yang merupakan parasit bagi perekonomian dunia,” ujar Putin.

Dikatakan parasit karena dengan dollar AS yang berlaku di seluruh dunia, AS bisa menikmati hidup dengan mencetak dollar AS semata walaupun tidak produktif.

Putin mengatakan, dia menyampaikan kritik membangun sekaligus mencari solusi atas perekonomian dunia yang sedang menurun.

Hubungan akan menguat

Putin telah berulang kali mengatakan, hubungan erat antara Moskwa dan Beijing akan berguna sebagai penyeimbang bagi dominasi AS. Ini bertujuan mencegah dominasi yang bersifat unilateral. Para pemimpin China menyampaikan hal serupa.

Kunjungan ke Beijing itu berlangsung setelah Putin mengumumkan akan menggantikan posisi Presiden Dmitry Medvedev. Posisi tertinggi di Rusia kembali akan berada dalam genggaman Putin selama delapan tahun ke depan sejak 2012. Para analis mengatakan, posisi itu akan semakin memperkuat hubungan Rusia dan China.

Belum lama ini kedua negara itu menyatakan penolakan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang sebuah resolusi yang mengecam Suriah. Resolusi itu bertujuan mengecam Suriah karena bertindak kejam dengan menumpas para pemrotes. Gelombang protes di Suriah telah membuat 3.000 orang tewas sejak Maret lalu.

Wen Jiabao mengatakan, China ingin mendorong kemitraan komprehensif dan strategis. Kerja sama tersebut, kata Wen, dapat membantu pemeliharaan stabilitas dan pembangunan dunia.

Akan tetapi, masih ada kendala bagi kedua negara tersebut terkait isu keamanan. Dua isu itu turut membuat hubungan bilateral naik turun dalam satu dekade terakhir ini. Moskwa tidak senang dengan tindakan Beijing yang menjiplak pesawat pemburu Rusia serta perlengkapan militer lainnya. Rusia baru-baru ini menangkap seorang pria yang dituduh hendak membeli rahasia militer.

Neraca perdagangan kedua negara, menurut versi China, meningkat 39 persen menjadi 35,9 miliar dollar AS hanya pada kuartal terakhir tahun lalu. China membeli banyak sumber daya alam Rusia. Sebaliknya, untuk pertama kali China juga telah menjadi mitra dagang utama bagi Rusia. (Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau