Manajer proyek pembangunan venue akuatik di Jakabaring, Endang Hidayat, Rabu (12/10) mengatakan, ketika menagih pembayaran 78 persen kepada komite pembangunan venue, ia mendapat jawaban bahwa dana di komite pembangunan kosong. ”Menurut bendahara komite pembangunan, dananya tertahan di Kemenpora,” katanya.
Menurut Endang, terakhir kali ia mendapat pencairan dana pada 26 Agustus 2011. Dari dana Rp 75 miliar yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), jumlah dana yang dibayarkan baru Rp 42,9 miliar atau 57,2 persen.
”Kalau pembangunan venue lambat, kontraktor dimarahi. Namun kalau bayarnya telat, malah diam-diam saja. Seharusnya seimbang, dong,” ujar Endang.
Beberapa pekerjaan di venue akuatik yang dibiayai dari APBN di antaranya pemasangan atap, keramik, dan kaca. Pekerjaan tersebut akhir pekan lalu selesai sepenuhnya. Adapun pemasangan kolam dibiayai dari program tanggung jawab sosial sejumlah perusahaan (CSR).
Selain akuatik, dana pembangunan venue menembak dan atletik juga tersendat. Total kebutuhan dana pembangunan tiga arena sekitar Rp 415 miliar (akuatik Rp 198 miliar, menembak Rp 117 miliar, dan atletik Rp 100 miliar). Saat ini dana yang berasal dari CSR berbagai perusahaan baru Rp 33,1 miliar ditambah sebagian dana APBN yang telah dicairkan.
Ketika berkunjung ke Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (6/10), Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng menyampaikan bahwa dana dari pemerintah pusat untuk pembangunan venue sudah diserahkan semuanya. ”Seharusnya tidak ada lagi masalah karena dana dari pusat sudah diserahkan semuanya,” katanya. Ketua Komite Pembangunan yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Sumatera Selatan, Rizal Abdullah, mengatakan, tidak ada masalah dengan dana dari pusat untuk pembangunan venue.
Kemarin, kolam renang utama di venue akuatik telah terisi penuh dan sistem resirkulasi air melalui penyaringan mulai berjalan. Pengerjaan kolam nomor loncat juga telah dimulai. Sementara di GOR Ranau, peralatan pertandingan mulai ditata, sedangkan pekerjaan renovasi di luar gedung masih berlangsung.
Rencana uji coba venue oleh tim nasional dayung SEA Games di Situ Cipule, Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, batal digelar. Uji coba tersebut terganggu oleh aktivitas pembangunan beberapa sarana di venue yang belum rampung.
Sebelumnya, tim nomor rowing berencana menjajal Situ Cipule pekan lalu. Namun, uji coba batal karena kedalaman air di beberapa titik perairan dinilai kurang memenuhi standar minimal 2,5 meter. Tim canoeing juga berencana menjajal venue pekan ini. Namun hingga Rabu (12/10) siang, rencana itu belum terlaksana.
”Kedalaman air sudah memenuhi standar dan lintasan juga telah siap, tetapi pembangunan bangunan di sekitarnya belum selesai. Kami berharap bisa menjajal Situ Cipule pada 20 Oktober mendatang,” kata Ketua Bidang Pembinaan Rowing PB PODSI Dede Rohmat Nurjaya.
Dede menambahkan, tim rowing akan mengikuti kejuaraan Asia di Korea Selatan pada 13-17 Oktober. Tim canoeing juga tampil pada kejuaraan Asia di Teheran, Iran. Mereka akan menjajal Situ Cipule pada 20 Oktober.
Pengurus lain PB PODSI, Mulyadi, menambahkan bahwa tim dayung Singapura dan Vietnam berencana datang lebih awal untuk menjajal lintasan dayung pada pekan akhir Oktober ini.
Pada Rabu pagi, Andi Mallarangeng, Ketua Nasional Inasoc Rita Subowo, perwakilan PB PODSI, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah DKI Jakarta, dan Pemerintah Kabupaten Karawang meninjau kesiapan sarana dan prasarana di Situ Cipule.
Menpora meminta semua pihak terkait untuk bekerja maksimal agar semua sarana siap sebelum akhir Oktober ini. Wakil Bupati Karawang Cellica Nurachadiana menyatakan akan merampungkan perbaikan jalan penghubung hingga 10 hari ke depan.
Pemprov DKI Jakarta sedang mempersiapkan venue menembak karena venue di Palembang belum siap sehingga ada kemungkinan venue menembak dipindahkan ke Jakarta. Sekretaris Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta Jasmaniar Jafar mengatakan telah mendapat informasi bahwa venue menembak dipindahkan ke Jakarta.
”Kami sudah mengirim surat ke Hotel Mulia untuk menjadi akomodasi atlet menembak,” kata Jasmaniar, Rabu.
Sampai sekarang, Pemprov DKI Jakarta telah menyelesaikan 22 dari 24 venue yang menjadi tanggung jawabnya. Dua venue yang belum selesai adalah venue sepak bola di Gelora Bung Karno dan venue dayung di Situ Cipule. Dari 24 venue di Jakarta, sebanyak 15 venue sudah dilakukan uji coba venue untuk menguji kelayakan venue.