Taman dan Terapi Jiwa di Sumpeknya Jakarta

Kompas.com - 13/10/2011, 06:56 WIB

Beginilah pemandangan Minggu pagi di Taman Suropati. Anak-anak bermain di antara burung merpati. Ayah dan anak bermain bulu tangkis. Teduhnya pepohonan menjadi tempat yang nyaman bagi para pesepeda pagi. Yang lain lagi asyik bercanda di sekeliling taman.

Tak banyak taman di Jakarta yang menyediakan tempat bagi warga untuk beraktivitas, rekreasi, sekaligus melepaskan jemu dan penat di tengah impitan rutinitas dan beragam persoalan. Suropati menjadi salah satu ruang publik untuk warga. Selain Suropati, ada juga Taman Monas yang menjadi ruang publik penting bagi warga baik untuk berolahraga atau rekreasi.

Sayangnya, fasilitas publik yang murah, gratis, dan bisa mengakomodasi aktivitas warga Jakarta sangat minim jumlahnya. Taman yang ada di kota berpenduduk 9,5 juta jiwa ini kondisinya banyak yang tidak terawat, cenderung kumuh, kotor, dan tidak nyaman.

Salah satunya terlihat di taman sepanjang jalur hijau di Jalan Kiai Tapa, Grogol, Jakarta Barat. Pohon-pohon rindang menaungi jalur pejalan kaki, tetapi sampah terlihat teronggok di sejumlah tempat. Pot-pot tanaman penuh coretan tangan- tangan jahil.

Di ujung taman, pedagang kaki lima menggelar lapak berjualan akik. Deretan sepeda motor parkir di jalur pejalan kaki.

Di tepi Waduk Grogol juga terdapat taman kecil. Beberapa waktu belakangan ini, sekeliling waduk dan taman sedang ditutup pagar seng karena ada proyek pekerjaan. Warga masih bisa masuk lewat celah pintu, tetapi suasana jadi kurang nyaman.

Sebenarnya, taman di lokasi itu cukup rindang. ”Lumayan, bisa buat ngadem siang-siang begini,” kata salah satu warga yang sedang duduk-duduk.

Sayangnya taman yang berada di dekat kompleks perumahan itu pun kotor. Puntung rokok, bungkus makanan, dan minuman kemasan terlihat di sana-sini. Taman lainnya sering kali tidak nyaman bagi warga karena banyak digunakan oleh tunawisma. Pada malam hari, penerangan di taman umumnya minim sehingga berpotensi jadi lokasi kriminalitas.

Arsitek lanskap Nirwono Joga menyebutkan hanya 10 dari 800 taman di Jakarta yang kondisinya tergolong ideal.

Kesehatan jiwa

Keberadaan taman bukan sekadar untuk mempercantik kota. Taman dan ruang terbuka hijau merupakan salah satu syarat sebuah kota disebut kota sehat jiwa. Dalam bukunya, RTH 30 Persen, Nirwono menuliskan fungsi penting ruang terbuka hijau antara lain sebagai tempat untuk berekreasi, olahraga, wisata hutan, peneduh, dan keindahan kota.

Menurut Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik Psikososial RSJ Soeharto Heerdjan dr Desmiarti SpKJ, ketersediaan ruang publik untuk bersantai dan tempat hiburan murah sangat membantu bagi penderita gangguan jiwa ringan.

”Di taman, orang bisa datang tanpa harus mengeluarkan biaya. Daripada pergi ke diskotek, duduk bersantai di bawah pohon sangat membantu membuat pikiran seseorang rileks. Melihat dan mengalami suasana segar dan santai ada pengaruhnya juga terhadap hormon otak,” katanya.

Jumlah penderita gangguan jiwa ringan di Jakarta semakin banyak. Tahun 2010, ada 159.029 orang yang mengalami gangguan jiwa ringan. Hingga triwulan kedua tahun 2011, sudah ada 306.621 orang yang mengalami gangguan jiwa ringan.

Gangguan jiwa ringan banyak dialami orang di perkotaan. Gejalanya seperti mudah melamun, susah tidur, gangguan makan, atau sukar berkonsentrasi.

Menurut Desmiarti, taman yang hijau dengan fasilitas memadai, seperti bangku yang nyaman, tempat sampah, atau permainan anak-anak, harus diperbanyak di Jakarta. Orang tinggal datang tanpa perlu memikirkan biaya seperti jika mereka pergi ke pusat perbelanjaan.

Di tengah kehidupan di kota besar macam Jakarta yang sarat persaingan dan pola hidupnya cenderung konsumtif, kata Desmiarti, keberadaan taman menjadi penting untuk mengurangi pola hidup semacam itu. Jalan- jalan di tengah suasana hijau dan asri membuat pikiran lebih tenang dan otak terangsang untuk berpikir lebih positif.

Penataan kawasan

Sejumlah kawasan di Jakarta, terutama di kawasan padat penduduk, tidak lagi tersisa ruang untuk taman atau ruang terbuka hijau. Akibatnya, lingkungan itu tidak sehat secara fisik dan mental, serta mudah menimbulkan gangguan mental dan emosional bagi penduduknya.

Daerah padat dengan rumah- rumah sempit yang dihuni lebih dari dua keluarga membuat orang kehilangan kenyamanan di dalam rumah.

Sosiolog Musni Umar mengatakan, orang yang tidak betah di rumah lantas lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar lingkungan mereka. Tidak ada ruang publik yang memadai di sekitar lingkungan mereka membuat orang akhirnya menghabiskan sebagian waktu dengan nongkrong di ujung gang atau di tepi jalan.

Hal ini diperparah dengan kesibukan pribadi setiap orang. Orangtua sibuk mencari nafkah, memiliki lingkungannya sendiri, dan membereskan rumah. Akibatnya, anak dan remaja sering kali tidak mendapatkan perhatian. ”Pada tataran tertentu, orangtua tidak lagi memiliki wibawa di mata anak-anak mereka,” ujar Musni.

Kondisi ini membuat anak dan remaja lebih mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Sayangnya, lingkungan sekitar belum tentu baik pula. Hal ini yang membuat orang mudah tergelincir pada tawuran atau aneka bentuk kriminalitas lain.

Musni berpendapat, memperbaiki masyarakat yang punya kebiasaan buruk harus dilakukan menyeluruh. Selain memberikan penyuluhan, membuka lapangan kerja dan sentra pendidikan, langkah yang juga mesti dikerjakan adalah membenahi fisik lingkungan tempat masyarakat itu bermukim.

Penataan bisa dilakukan antara lain dengan mengganti rumah semipermanen yang sesak dengan rumah susun milik yang lebih sehat. Dengan penataan kawasan, ruang terbuka juga bisa ditambah.

Tentu, perlu ada keberpihakan pemerintah untuk membenahi wajah kota sekaligus menyelesaikan persoalan kesehatan jiwa di masyarakat.

(Fransisca Romana Ninik/ Agnes Rita Sulistyawaty)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau