Banjir Mulai Melanda Bangkok

Kompas.com - 14/10/2011, 02:11 WIB

BANGKOK, KAMIS - Para pekerja dan tentara bekerja keras menyelesaikan dinding pengaman darurat di pusat kota Bangkok untuk mencegah luapan Sungai Chao Praya membanjiri ibu kota Thailand itu. Mereka berlomba dengan waktu karena kawasan pinggiran kota Bangkok mulai dilanda banjir.

Kepala Staf Angkatan Darat Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha, Kamis (13/10), mengatakan, dinding penahan banjir di tiga kawasan yang paling rentan terkena air bah sudah hampir selesai. ”Kami membicarakan rencana evakuasi untuk menolong orang-orang yang tinggal di dekat Sungai Chao Praya. Jika terjadi keadaan darurat, kami siap bertindak,” ujar Prayuth seusai mengikuti rapat dengan para menteri kabinet di Bangkok.

Banjir besar di Thailand, yang terjadi sejak akhir Juli, telah menewaskan 283 orang dan diperkirakan telah menimbulkan kerugian materi lebih dari 100 miliar baht (sekitar Rp 28,8 triliun). Saat ini, air bah dari kawasan utara Thailand makin mendekati Bangkok. Sanya Cheenimit, Direktur Departemen Drainase dan Saluran Air Bangkok, mengatakan, air mulai merendam tiga distrik di bagian timur Bangkok, yang sebagian besar adalah kawasan pertanian.

Puncak bahaya banjir di Bangkok diperkirakan terjadi akhir pekan ini saat air banjir dari utara akan bertemu air pasang di muara Chao Praya bersamaan dengan datangnya badai dan hujan. ”Kekhawatiran (terbesar) adalah mulai hari ini (Kamis) hingga 19 Oktober akan terjadi pasang tinggi,” kata Prayuth.

Sanya menegaskan, situasi banjir di Bangkok masih terkendali dan 50 distrik di kota tersebut telah menyiapkan rencana evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat. Meski demikian, para pejabat masih mengkhawatirkan 27 titik permukiman di sepanjang aliran Sungai Chao Praya yang dihuni sekitar 1.200 keluarga.

”Bangkok dapat dikatakan aman, terutama di kawasan pusat kota, wilayah di belakang tanggul tak akan ada masalah. Kawasan pinggiran Bangkok kemungkinan akan menghadapi masalah, tetapi ketinggian air tak akan terlalu tinggi,” tutur Perdana Menteri Yingluck Shinawatra seusai meninjau kota Bangkok dari udara.

Gangguan ekonomi

Penduduk di pinggir kota memprotes pembangunan tanggul penahan, yang hanya akan melindungi pusat kota Bangkok, tetapi memperparah banjir di daerah mereka. Prayuth meminta warga di kawasan ini tidak merusak tanggul darurat demi melindungi pusat kota Bangkok.

Sekitar 41 persen ekonomi Thailand terpusat di Bangkok sehingga jika terjadi gangguan serius terhadap aktivitas di kota itu bisa memperparah perekonomian. Deputi Perdana Menteri Bidang Ekonomi Kittirat Na Ranong mengatakan, kerugian ekonomi diperkirakan sudah mencapai 1 persen dari produk domestik bruto Thailand.

Hari Kamis, Universitas Kamar Dagang dan Industri Thailand kembali menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Thailand tahun ini menjadi hanya 3,0-3,5 persen. Pekan lalu, universitas itu sudah menurunkan prediksi pertumbuhan dari 4,4 persen menjadi 3,6 persen.

Kementerian Keuangan Thailand juga sudah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 4,0 persen menjadi 3,7 persen. Selain menenggelamkan sebagian besar lahan pertanian, banjir tahun ini juga telah mengganggu sektor industri. Pabrik mobil Honda dan Toyota, pabrik hard disk drive Western Digital Corp, dan pabrik kamera digital Nikon telah menghentikan produksi karena banjir.

Di Ayutthaya, bekas ibu kota Thailand pada masa lalu, tak kurang dari 108 candi, yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia, tergenang air lebih dari sepekan. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyatakan akan mengirim tim khusus untuk memeriksa kerusakan pada candi-candi ini. Thailand juga bersiap meminta bantuan darurat dari Dana Warisan Dunia untuk menyelamatkan candi bersejarah ini.

(Reuters/AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau