Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 3.675,384 atau naik 39,453 poin (1,09 persen) dari posisi sehari sebelumnya. Indeks LQ45 menguat 6,546 poin (1,01 persen) ke level 652,052 dan Indeks Kompas100 menguat 9,496 poin (1,15 persen) ke level 836,072. Indeks sempat menyentuh level 3.700.
Selama sepekan terakhir,
Investor asing kembali mencatat pembelian bersih senilai
Sinyal penguatan IHSG secara teknikal masih ada, tetapi dibayangi aksi ambil untung investor dalam jangka pendek akibat sejumlah saham sudah memasuki fase jenuh beli. Menurut riset eTrading Securities, grafik
Pada perdagangan akhir pekan ini, diperkirakan IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terkoreksi, dengan rentang pergerakan di level 3.620-3.714.
Selain di bursa saham, investor asing juga terus masuk ke pasar obligasi. Menurut data Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) mencapai Rp 214,03 triliun (per 11 Oktober 2011). Pada akhir pekan lalu, posisi kepemilikan asing di SUN senilai Rp 212,46 triliun.
Pengamat pasar modal dari Aspirasi Indonesia Riset Institute, Yanuar Rizky, dalam paparannya, kemarin, mengingatkan fenomena uang panas dari The Federal Reserve yang masuk melalui instrumen pasar keuangan, khususnya saham dan obligasi.
”Uang panas menguasai saham, memutar-mutarnya untuk pembentukan harga yang dilambungkan ke pasar uang guna mendapat selisih kurs. Ini bisa membuat rupiah ’tersandera’ akhirnya,” kata Yanuar.
Menurut dia, masuknya uang panas ke dalam devisa BI adalah melalui peningkatan SUN yang besar, artinya respons kebijakan fiskal dengan daya dorong SUN itu sendiri terhadap stimulus fiskal lemah. Hal itu terlihat dari menurunnya rasio uang primer dari total uang beredar.
Agar kondisi itu tak terulang, pilihan pendisiplinan pasar harus menjadi agenda bersama BI dan pemerintah dalam melakukan proses penentuan nilai kurs yang wajar, teratur, dan efisien.
”Kurs fluktuatif bisa berimbas ke kredit riil, menghantam konsumsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Daya beli harus