Indeks Menguat Kembali

Kompas.com - 14/10/2011, 02:40 WIB

Jakarta, Kompas - Masuknya kembali dana investor asing mendorong Indeks Harga Saham Gabungan menguat untuk keempat kali secara berturut, Kamis (13/10). Investor asing juga terus masuk ke pasar obligasi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berujung pada tekanan terhadap rupiah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 3.675,384 atau naik 39,453 poin (1,09 persen) dari posisi sehari sebelumnya. Indeks LQ45 menguat 6,546 poin (1,01 persen) ke level 652,052 dan Indeks Kompas100 menguat 9,496 poin (1,15 persen) ke level 836,072. Indeks sempat menyentuh level 3.700.

Selama sepekan terakhir, IHSG telah terdongkrak sekitar 7,29 persen. Meski secara tahunan masih tercatat minus 0,76 persen, kinerjanya paling baik di kawasan Asia. Posisi tahunan IHSG per kemarin hanya kalah dari Indeks Dow Jones industrial average yang mencatat minus 0,51 persen.

Investor asing kembali mencatat pembelian bersih senilai Rp 944 miliar. Hal itu berarti dalam tiga hari terakhir, investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp 2,05 triliun. Sejak awal tahun ini, transaksi beli bersih investor asing di pasar saham nasional Rp 16,2 triliun.

Sinyal penguatan IHSG secara teknikal masih ada, tetapi dibayangi aksi ambil untung investor dalam jangka pendek akibat sejumlah saham sudah memasuki fase jenuh beli. Menurut riset eTrading Securities, grafik candlestick IHSG berpotensi membentuk pola spinning top yang mengindikasikan sinyal pembalikan arah turun (bearish reversal).

Pada perdagangan akhir pekan ini, diperkirakan IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terkoreksi, dengan rentang pergerakan di level 3.620-3.714.

Selain di bursa saham, investor asing juga terus masuk ke pasar obligasi. Menurut data Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) mencapai Rp 214,03 triliun (per 11 Oktober 2011). Pada akhir pekan lalu, posisi kepemilikan asing di SUN senilai Rp 212,46 triliun.

Fenomena uang panas

Pengamat pasar modal dari Aspirasi Indonesia Riset Institute, Yanuar Rizky, dalam paparannya, kemarin, mengingatkan fenomena uang panas dari The Federal Reserve yang masuk melalui instrumen pasar keuangan, khususnya saham dan obligasi.

”Uang panas menguasai saham, memutar-mutarnya untuk pembentukan harga yang dilambungkan ke pasar uang guna mendapat selisih kurs. Ini bisa membuat rupiah ’tersandera’ akhirnya,” kata Yanuar.

Menurut dia, masuknya uang panas ke dalam devisa BI adalah melalui peningkatan SUN yang besar, artinya respons kebijakan fiskal dengan daya dorong SUN itu sendiri terhadap stimulus fiskal lemah. Hal itu terlihat dari menurunnya rasio uang primer dari total uang beredar.

Agar kondisi itu tak terulang, pilihan pendisiplinan pasar harus menjadi agenda bersama BI dan pemerintah dalam melakukan proses penentuan nilai kurs yang wajar, teratur, dan efisien.

”Kurs fluktuatif bisa berimbas ke kredit riil, menghantam konsumsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Daya beli harus didorong dari peningkatan sektor produksi sehingga belanja modal korporasi dan SUN harus dialirkan terfokus ke sektor riil masa depan,” ungkap Yanuar.

(BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau