Beberapa warga di lokasi kejadian menyebutkan, rumah tersebut memang kosong. ”Sama seperti kebakaran sebelum-sebelumnya di Jakarta Selatan, penyebab utamanya karena penghuni rumah lalai. Kemungkinan terjadi korsleting,” kata Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Selatan Frans Silalahi.
Sebelumnya, Rabu lalu, terjadi lima kebakaran di Jakarta dan Depok. Satu orang tewas dan puluhan rumah hangus terbakar. Berdasarkan data dari situs resmi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, setiap hari rata-rata ada 1-3 kali kebakaran di seluruh Jakarta. Kerugian materi selama tahun 2011 mencapai Rp 33,34 miliar.
Frans mengatakan, di Jakarta Selatan baru ada tiga kantor sektor pemadaman kebakaran di tingkat kecamatan. Padahal, terdapat 10 kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Sementara di tingkat kelurahan baru ada 19 pos sektor pemadam, padahal total di kota ini terdapat 65 kelurahan.
”Idealnya, di tiap kecamatan dan kelurahan ada pos pemadam dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan,” kata Frans.
Di sisi lain, karena penyebab utama kebakaran adalah kelalaian, khususnya terjadinya hubungan pendek arus listrik, Frans meminta warga berhati-hati dalam menata instalasi listrik.
”Bayar sedikit mahal, tetapi masyarakat dimohon pakai peralatan listrik berstandar nasional (SNI). Selain itu, jangan lagi asal membuat percabangan aliran listrik, apalagi nyantol atau nyolong listrik,” kata Frans.
Kepala Bidang Operasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Subejo mengatakan, banyak korban kebakaran yang merasa petugas lamban menangani kebakaran. Padahal, waktu respons yang dicapai petugas pemadam kebakaran kurang dari 15 menit. ”Waktu respons ini dihitung sejak menerima laporan, persiapan, perjalanan, hingga air berhasil disemprotkan ke api,” katanya.
Namun, di jalan memang banyak kendala, misalnya kemacetan, penduduk yang menonton, jalan sempit, dan sulitnya mencari sumber air.
Juga masih banyak RW yang rawan bencana belum memiliki alarm kota. ”Sekarang jumlah alarm kota baru 3.017. Idealnya setiap RW punya,” kata Subejo.
Selain itu, karena tingginya urbanisasi, banyak warga tinggal di bantaran kali dan di jalan inspeksi saluran air. Ketika ada kebakaran, mobil pemadam kesulitan mengambil air dari kali karena tempatnya sudah tertutup bangunan warga.
Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah membuat 87 tandon air dan 19 tandon yang rusak harus diperbaiki.
Ke depan, Subejo mengatakan, pihaknya akan menambah jumlah alarm kota. Tahap awal akan ditambah RW yang rawan kebakaran. ”Saat ini ada 56 kelurahan yang rawan kebakaran. Di kelurahan ini kebakaran selalu bergantian terjadi,” katanya.
Kelurahan yang rawan kebakaran antara lain Tambora, Penjaringan, Bukit Duri, Manggarai, Johar Baru, Kapuk, Penggilingan, dan Cakung. Semuanya adalah kelurahan padat penduduk. Sayangnya, tidak semua RW yang ada di kelurahan itu sudah dilengkapi alarm kota. Demikian juga dengan fasilitas pemadam kebakaran lainnya.
Soal personel, Subejo mengatakan, jumlahnya belum ideal. Saat ini personel pemadam kebakaran sekitar 2.700 orang atau satu unit terdiri dari 3-4 orang. Idealnya jumlah petugas sekitar 5.000 orang atau satu unit berisi 6 orang.