Lalai, Picu Kebakaran

Kompas.com - 14/10/2011, 02:54 WIB

Jakarta, Kompas - Rumah nomor 23 di kompleks Akabri di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, Kamis (13/10) pukul 07.55, hangus terbakar. Tidak ada korban jiwa ataupun korban luka dalam kejadian ini, tetapi kerugian materi dipastikan mencapai jutaan rupiah.

Beberapa warga di lokasi kejadian menyebutkan, rumah tersebut memang kosong. ”Sama seperti kebakaran sebelum-sebelumnya di Jakarta Selatan, penyebab utamanya karena penghuni rumah lalai. Kemungkinan terjadi korsleting,” kata Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Selatan Frans Silalahi.

Sebelumnya, Rabu lalu, terjadi lima kebakaran di Jakarta dan Depok. Satu orang tewas dan puluhan rumah hangus terbakar. Berdasarkan data dari situs resmi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, setiap hari rata-rata ada 1-3 kali kebakaran di seluruh Jakarta. Kerugian materi selama tahun 2011 mencapai Rp 33,34 miliar.

Frans mengatakan, di Jakarta Selatan baru ada tiga kantor sektor pemadaman kebakaran di tingkat kecamatan. Padahal, terdapat 10 kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Sementara di tingkat kelurahan baru ada 19 pos sektor pemadam, padahal total di kota ini terdapat 65 kelurahan.

”Idealnya, di tiap kecamatan dan kelurahan ada pos pemadam dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan,” kata Frans.

Di sisi lain, karena penyebab utama kebakaran adalah kelalaian, khususnya terjadinya hubungan pendek arus listrik, Frans meminta warga berhati-hati dalam menata instalasi listrik.

”Bayar sedikit mahal, tetapi masyarakat dimohon pakai peralatan listrik berstandar nasional (SNI). Selain itu, jangan lagi asal membuat percabangan aliran listrik, apalagi nyantol atau nyolong listrik,” kata Frans.

Respons cepat

Kepala Bidang Operasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Subejo mengatakan, banyak korban kebakaran yang merasa petugas lamban menangani kebakaran. Padahal, waktu respons yang dicapai petugas pemadam kebakaran kurang dari 15 menit. ”Waktu respons ini dihitung sejak menerima laporan, persiapan, perjalanan, hingga air berhasil disemprotkan ke api,” katanya.

Namun, di jalan memang banyak kendala, misalnya kemacetan, penduduk yang menonton, jalan sempit, dan sulitnya mencari sumber air.

Juga masih banyak RW yang rawan bencana belum memiliki alarm kota. ”Sekarang jumlah alarm kota baru 3.017. Idealnya setiap RW punya,” kata Subejo.

Selain itu, karena tingginya urbanisasi, banyak warga tinggal di bantaran kali dan di jalan inspeksi saluran air. Ketika ada kebakaran, mobil pemadam kesulitan mengambil air dari kali karena tempatnya sudah tertutup bangunan warga.

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah membuat 87 tandon air dan 19 tandon yang rusak harus diperbaiki.

Ke depan, Subejo mengatakan, pihaknya akan menambah jumlah alarm kota. Tahap awal akan ditambah RW yang rawan kebakaran. ”Saat ini ada 56 kelurahan yang rawan kebakaran. Di kelurahan ini kebakaran selalu bergantian terjadi,” katanya.

Kelurahan yang rawan kebakaran antara lain Tambora, Penjaringan, Bukit Duri, Manggarai, Johar Baru, Kapuk, Penggilingan, dan Cakung. Semuanya adalah kelurahan padat penduduk. Sayangnya, tidak semua RW yang ada di kelurahan itu sudah dilengkapi alarm kota. Demikian juga dengan fasilitas pemadam kebakaran lainnya.

Soal personel, Subejo mengatakan, jumlahnya belum ideal. Saat ini personel pemadam kebakaran sekitar 2.700 orang atau satu unit terdiri dari 3-4 orang. Idealnya jumlah petugas sekitar 5.000 orang atau satu unit berisi 6 orang. (ARN/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau