Lingkungan

Surabaya Upayakan Bebas Demam Berdarah

Kompas.com - 14/10/2011, 14:33 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Surabaya sebagai kota pertama di Indonesia yang terjangkit demam berdarah pada 1967 dan hingga saat ini masih belum sepenuhnya bebas dari penyakit ini.

Berbagai upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan Kota Surabaya guna memberantas demam berdarah, termasuk menggelar Gebyar Siswa Pemantau Jentik (Wamantik) 2011.

Kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu (15/10/2011) di Taman Flora, Surabaya, diikuti 200 siswa sekolah dasar. Dalam kegiatan itu siswa mengikuti lomba menggambar dengan tema Pemberantasan Sarang Nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie menjelaskan, selain Wamantik ada juga Rumantik (Guru Pemantau Jentik). Program Wamantik dan Rumantik diadakan pertama kali pada tahun 2010 dengan jumlah peserta 1.040, sedangkan tahun 2011 pesertanya sebanyak 987. Penularan penyakit demam berdarah bisa juga terjadi di sekolah. Jadi melalui acara ini diharapkan perilaku hidup sehat bisa diterapkan oleh para siswa dan guru.

Para guru juga diharapkan mampu mendidik para siswa untuk hidup sehat. Guru diharapkan bisa menjadi motivator bagi para siswa sehingga pada akhirmya para siswa pun bisa menjadi penyuluh di sekolah dan lingkungan masing-masing.

Dalam pelaksanaannya, para siswa pemantau jentik akan d iberi kartu setiap Sabtu dan mereka wajib memantau jentik yang mungkin berkembang di rumah masing-masing. Setelah itu mereka akan mengumpulkan kartu tersebut ke para guru setiap Senin. Selain itu, mereka juga diajar untuk mengaplikasikan teori 3M (menguras, menutup, mengubur) dalam kesehariannya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengajak masyarakat Surabaya untuk berperang melawan penyakit demam berdarah. Alasannya demam berdarah sangat berbahaya karena dapat menyerang siapa saja. Sekarang menjelang musim hujan, oleh karena itu perkakas yang menampung air hujan selalu dibersihkan dan Surabaya harus bebas demam berdarah, katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau