Saat ini, KRL Jabodetabek baru mengangkut sekitar 400.000 penumpang per hari.
Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan, Jumat (14/10), merencanakan pengembangan KRL Jabodetabek hingga tahun 2018. Rencana itu meliputi penambahan 1.000-1.200 kereta; pengembangan Balai Yasa Manggarai, penambahan depo KRL, dan pembangunan stabling (tempat penyimpanan) kereta; penggantian rel; pembenahan emplasemen stasiun; pekerjaan sinyal, telekomunikasi, dan listrik aliran atas; pembangunan lima stasiun baru; pembangunan areal park and ride; perpanjangan peron 50 stasiun; serta sistem kontrol kereta. ”Semua dikerjakan PT KAI dengan anggaran sekitar Rp 4,4 triliun,” ujar Jonan.
Jonan mengatakan, pengembangan KRL tidak bisa selesai dalam 1-2 tahun. Dia mencontohkan, penambahan kereta commuter line masih bergantung pada ketersediaan kereta bekas dari Jepang.
PT KAI mengutamakan pembelian kereta bekas dari Jepang karena kualitasnya baik dan tidak sering mogok.
Namun, penambahan kereta bukanlah satu-satunya solusi untuk meningkatkan jumlah penumpang. Persoalan lain yang menyangkut perjalanan kereta juga perlu diselesaikan, seperti ketersediaan listrik dan perlintasan sebidang.
Persoalan kelistrikan akan mulai teratasi pekan ini seiring dengan dimulainya pekerjaan pembangunan gardu listrik aliran atas oleh Kementerian Perhubungan.
Namun, perlintasan sebidang masih jadi masalah. Di jalur KRL Jabodetabek, ada 24 titik perlintasan sebidang yang krusial untuk diselesaikan. Dari jumlah itu, 16 titik berada di DKI Jakarta.
Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Kota Bogor Suharto menyampaikan, ada tim yang membahas pembangunan underpass atau flyover bersama daerah lain di Jabodetabek. Namun, untuk pembiayaan, dia mengakui, pemerintah kota mengalami kesulitan karena besarnya dana yang dibutuhkan.
Jonan mengatakan, pihaknya belum berencana membangun rel layang untuk mengatasi perlintasan sebidang. Kalaupun rel layang dibutuhkan, pendanaannya harus bersumber dari APBN.
”Biayanya sangat besar. Untuk 1 kilometer rel layang dibutuhkan biaya Rp 150 miliar-Rp 200 miliar,” ujar Jonan.
Ia menambahkan, pengembangan KRL Jabodetabek perlu juga didukung dengan peraturan presiden agar lebih lancar.
Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan siap membantu revitalisasi KRL sesuai dengan tugas dan pokok pemerintah daerah, antara lain menyediakan rambu dan menambah akses transportasi dari jalan utama ke stasiun kereta api. (ART/GAL/PIN)